Soul Eater dan Fire Force 1 Semesta? Ini Penjelasannya!

Soul Eater dan Fire Force merupakan dua seri syonen populer karya Atsushi Ohkubo. Sekilas, kedua seri ini memang mengambil latar dan tema yang berbeda. Jika Soul Eater memiliki konsep sistem kekuatan berbasis jiwa, Fire Force berfokus pada sekelompok pemadam kebakaran dengan sistem kekuatan berbasis api.
Tak hanya digarap oleh orang yang sama, Soul Eater dan Fire Force juga rupanya mengambil latar semesta yang sama. Kenapa bisa begitu? Simak penjelasan berikut!
1. Soul Eater mengambil latar di dunia ketiga

Secara garis waktu, Fire Force mengambil latar jauh sebelum kejadian dalam Soul Eater. Bisa dibilang, Fire Force merupakan prekuel dari seri Soul Eater. Akhir cerita Fire Force menjelaskan bagaimana semesta Soul Eater bisa tercipta.
Pada awalnya, dunia Soul Eater dan Fire Force sangat mirip dengan dunia nyata. Terlihat, Sumire, sosok yang sudah hidup sejak dunia pertama, digambarkan sebagai orang sungguhan. Namun, semuanya berubah setelah Bencana Besar Pertama terjadi.
Setelah dunia hampir hancur dilahap oleh api, terciptalah dunia kedua yang menjadi latar utama seri Fire Force. Di sini, fenomena Pembakaran Manusia Spontan lahir. Karena hal tersebut, mati oleh api menjadi ketakutan terbesar umat manusia.
Dunia hampir hancur sekali lagi setelah Evangelist berhasil memulai Bencana Besar Kedua. Untuk kedua kalinya, Bumi kembali berada di ambang kehancuran karena dilahap oleh api. Namun, Shinra Kusakabe berhasil menghentikan Bencana Besar Kedua sehingga terciptalah semesta yang menjadi latar utama Soul Eater.
2. Bagaimana Shinra menciptakan dunia baru?

Dalam konfrontasinya melawan Haumea yang sudah menyatu dengan Evangelist, Shinra tidak bisa menghentikan Bencana Besar Kedua hanya dengan tendangan apinya. Keputusasaan menjadi bahan bakar utama dalam memulai Bencana Besar. Karena itu, Shinra harus melawan Haumea dengan memberikan harapan pada umat manusia.
Ketika Bumi tinggal selangkah lagi menuju kehancuran, Shinra menyatu dengan Sho dan ibunya. Hal tersebut memberikan Shinra wujud transformasi baru yang dikenal Banshoman. Dalam wujud ini, kekuatan Shinra bisa dibilang sudah setara dengan kekuatan dewa.
Berkat kekuatan tersebut, Shinra memiliki kemampuan untuk menulis ulang realitas. Shinra memanfaatkan kemampuan itu untuk menciptakan dunia baru yang hampir hancur karena Bencana Besar. Tak hanya menghidupkan kembali teman-temannya yang sudah mati, Shinra juga mengubah Bumi menjadi dunia fantasi.
Bukan tanpa alasan kenapa semesta Soul Eater memiliki pembangunan dunia yang unik. Shinra menciptakan dunia baru berdasarkan imajinasinya sendiri. Karena itu, semesta Soul Eater memiliki banyak hal yang terdengar tidak masuk akal.
3. Shinra mengubah konsep kematian

Pada akhir seri Fire Force, dijelaskan bahwa Evangelist lahir dari kesadaran kolektif umat manusia. Selama ini, umat manusia selalu dihantui oleh rasa takut akan kematian. Nah, Bencana Besar sendiri sebenarnya bertujuan untuk melepaskan penderitaan umat manusia dari rasa takut atas kematian.
Guna mencegah Bencana Besar selanjutnya, Shinra akhirnya mengubah konsep kematian. Ketika seseorang mati, mereka tidak langsung lenyap atau menjadi abu. Namun, jiwa mereka akan keluar dari tubuh dan bisa berpindah wujud.
Dengan membuat jiwa menjadi bentuk fisik yang bisa disentuh, manusia tidak perlu takut lagi pada kematian. Pasalnya, sekarang mereka tahu apa yang akan terjadi setelah kematian. Meski seseorang sudah mati, jiwa mereka tetap ada.
Tak hanya itu, Shinra juga menciptakan Shinigami atau Dewa Kematian. Shinra sengaja menciptakan Shinigami dengan kepribadian yang konyol. Bukan tanpa sebab, Shinra ingin membuat manusia merasa dekat dengan kematian sehingga mereka tidak perlu takut lagi pada kematian.
Pembangunan dunia Ohkubo merupakan salah satu hal yang membuat seri Soul Eater dan Fire Force menarik. Pasalnya, sangat jarang ada dua seri yang berbeda, tetapi mengambil latar di semesta yang sama. Jadi, bagaimana pendapatmu tentang pembangunan dunia Soul Eater dan Fire Force?


















