Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sutradara-Cast soal Film Dan Bandung, Tak Mau Mirip Seperti Dilan
Konferensi pers film "Dan Bandung" di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (29/7/26) (dok. Istimewa)
  • Film Dan Bandung garapan Rudi Soedjarwo dan Verona Pictures dijadwalkan tayang 20 Agustus 2026, mengadaptasi karya Pidi Baiq dengan identitas romansa tersendiri.
  • Samo Rafael memerankan Basil dan berupaya lepas dari perbandingan dengan Dilan, sementara peran romantis pertamanya menuntut pembangunan chemistry dengan Shanna Shannon.
  • Dan Bandung menyoroti tokoh mahasiswa dengan konflik keluarga, persahabatan, masa depan, dan cinta; Bandung menjadi simbol kenangan serta perjalanan emosional karakter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Setelah sukses mengangkat kembali sinema Indonesia lewat kisah cinta ikonik Ada Apa dengan Cinta? (AADC), sutradara Rudi Soedjarwo kini dipercaya menghidupkan karya terbaru Pidi Baiq lewat film Dan Bandung. Diproduksi Verona Pictures, film ini siap membawa penonton kembali larut dalam kisah romansa yang penuh emosi saat tayang di bioskop pada 20 Agustus 2026.

Meski sama-sama lahir dari imajinasi Pidi Baiq, para pemain hingga tim produksi sepakat bahwa Dan Bandung bukanlah kisah "Dilan yang baru". Mereka justru ingin menghadirkan identitasnya sendiri dengan konflik yang lebih dewasa dan dekat dengan realita sehari-hari. Berikut sejumlah alasan mengapa Dan Bandung tidak mirip dengan Dilan!

1. Samo Rafael ingin lepas dari bayang-bayang karakter Dilan

Samo Rafael saat konferensi pers film "Dan Bandung" di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (29/7/26) (dok. Istimewa)

Memerankan karakter Basil, Samo Rafael menyadari dirinya akan langsung dibandingkan dengan karakter Dilan yang begitu melekat di benak penonton. Apalagi, keduanya sama-sama merupakan tokoh ciptaan Pidi Baiq yang mengangkat kisah romansa anak muda.

"Awalnya tuh ada deg-degannya. Dilan, karakter besar, dan ceritanya similar tentang kisah cinta," ujar Samo Rafael dalam konferensi pers final trailer Dan Bandung di XXI Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (29/7/2026).

Namun, Samo memilih untuk tidak membebani dirinya dengan ekspektasi tersebut. Menurutnya, terus memikirkan Dilan justru akan menghambat proses pendalaman karakter Basil yang memiliki perjalanan hidup berbeda. Ia pun berusaha fokus pada naskah dan membangun Basil sebagai sosok yang berdiri dengan identitasnya sendiri, tanpa mencoba menjadi Dilan versi "lain".

"Cuman, secepat mungkin gua berusaha untuk melepaskan stigma itu dalam diri gua, karena ketika gua masuk ke script dengan itu pasti gua enggak bisa perform dengan baik untuk karakter Basil. Jadi gimana caranya gua enggak mikirin Dilan, gua enggak usah mikirin ekspektasi yang mungkin orang punya," jelasnya.

2. Peran romantis pertama Samo Rafael, sampai membuatnya dikurung bersama Shanna Shannon

Rudi Soedjarwo saat konferensi pers film "Dan Bandung" di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (29/7/26) (dok. Istimewa)

Tak hanya harus lepas dari bayang-bayang Dilan, Samo juga mengaku karakter Basil menjadi tantangan baru dalam perjalanan kariernya. Selama ini, ia lebih sering mendapat karakter dengan kepribadian unik, sementara Basil menuntutnya tampil sebagai sosok romantis yang menjadi pusat kisah cinta.

"Saya jarang dikasih untuk bermain sebagai cowok yang mungkin harus diidolakan dan bermain cinta. Seringkali yang datang ke saya karakternya aneh-aneh. Tapi akhirnya jelas saya terima lah, enggak mungkin enggak," tuturnya.

Tantangan lain datang dari proses membangun chemistry dengan lawan mainnya, Shanna Shannon. Lucunya, keduanya sama-sama memiliki sifat introvert sehingga selama tiga hari pertama pertemuan hampir tidak saling mengobrol. Melihat situasi tersebut, Rudi Soedjarwo akhirnya mengambil langkah yang tak biasa. Ia meminta Samo dan Shanna berada berdua di dalam satu ruangan hingga keduanya benar-benar saling mengenal.

"Mereka berdua kan sama-sama introvert ya. Pernah di tiga hari pertama ketemu, mereka kita temuin di meja makan. Hari pertama, hari kedua, masih aja gak ngobrol. Hari ketiga... aduh apa gak jadi syuting aja ya ini," ujar Rudi yang langsung disambut tawa para pemain.

Rudi kemudian memberi "ultimatum" kepada kedua aktor muda tersebut. Rudi menilai kalau rasa nyaman antarpemain jauh lebih penting daripada memaksa mereka langsung berakting tanpa mengenal satu sama lain.

"Akhirnya, aku gak mau tahu caranya gimana, kalian berdua sekarang naik ke atas, aku tutup ruangan. Kalau keluar belum jadi juga ya udah kita stop di sini. Pas mereka selesai terus turun, dicoba adegan, langsung jalan," kenangnya.

3. Dan Bandung hadir dengan kisah cinta yang lebih dewasa dibanding Dilan

Titin Suryani saat konferensi pers film "Dan Bandung" di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (29/7/26) (dok. Istimewa)

Produser Verona Pictures, Titin Suryani, menegaskan bahwa sejak awal Dan Bandung memang tidak dirancang untuk menjadi pengulangan formula Dilan. Meski sama-sama mengangkat romansa karya Pidi Baiq, keduanya memiliki fase kehidupan dan konflik yang berbeda.

"Kalau Dilan berbicara tentang cinta di masa SMA, Dan Bandung berbicara tentang kehidupan setelahnya. Tokoh-tokohnya sudah kuliah, sehingga persoalan yang mereka hadapi jauh lebih kompleks, mulai dari keluarga, persahabatan, masa depan hingga cinta," ujar Titin.

Ia juga mengungkapkan sempat berdiskusi cukup panjang dengan Pidi Baiq mengenai makna di balik judul Dan Bandung. Menurutnya, Bandung bukan sekadar latar tempat, melainkan simbol dari berbagai kenangan dan perjalanan emosional para karakternya.

"Bandung menjadi simbol tempat seseorang meninggalkan hati, kenangan, kesepian, hingga perjalanan cintanya. Itulah yang membuat cerita ini terasa begitu emosional," katanya.

Sementara itu, Rudi Soedjarwo mengaku mengadaptasi novel karya Pidi Baiq menjadi tanggung jawab besar. Ia ingin menjaga ruh cerita asli sekaligus menerjemahkannya ke dalam bahasa visual yang mampu menyentuh penonton.

"Saya merasa seperti memegang bayi milik Pidi Baiq. Ketika karya itu sudah dipercayakan kepada saya, maka menjadi tanggung jawab saya untuk merawatnya sebaik mungkin agar lahir menjadi film yang juga dicintai penonton," pungkas Rudi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article