potret Yosep Anggi Noen (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Berbagai kebutuhan untuk menghidupkan film Laut Bercerita tentu tidak bisa dibilang sederhana. Dalam hal ini, tim produksi sampai melibatkan sekitar 400 hingga 500 extras hanya untuk adegan demonstrasi saja. Anggi mengungkapkan, mereka juga nekat mengubah sebuah area pertokoan di Semarang agar menyerupai kawasan di Yogyakarta pada era 1990-an. Sejumlah papan nama toko diganti dan berbagai elemen di sekitar lokasi ditata ulang untuk menyesuaikan kebutuhan cerita. Lokasi tersebut bahkan disebut memiliki panjang sekitar 200 hingga 300 meter dengan deretan toko di sisi kanan dan kiri, lho.
“Bentuknya kayak letter S. Gak bisa diukur, mungkin ada puluhan toko. Ada jalan mungkin 200–300 meter. Mungkin ada sekitar 20 toko kiri-kanan, terdapat beberapa memang sudah tutup, terus kita desain lagi,” kata sang sutradara.
Di samping itu, produksi film ini sampai membangun ladang jagung yang cukup luas sekitar 2.000 hingga 3.000 meter persegi untuk mendukung salah satu adegan dalam cerita Laut Bercerita.
Walaupun membutuhkan berbagai kebutuhan produksi yang cukup kompleks, Anggi enggan menyebut Laut Bercerita sebagai film dengan skala produksi yang sangat besar. Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa skala produksi film ini tidak bisa dianggap sederhana. Menurutnya, tingkat kesulitan produksi lebih banyak dipengaruhi oleh kebutuhan untuk membangun kembali sebuah zaman. Selain adegan dengan ratusan extras dan lokasi yang harus didesain ulang, ada pula adegan-adegan yang berlangsung di dalam rumah dan memiliki kebutuhan produksi yang lebih sederhana.
“Tentu ini skala yang cukup rumit. Rumit karena kita menciptakan zaman yang berbeda. Tapi juga sebenarnya di titik-titik tertentu film ini simple banget, karena berada dalam rumah. Orang yang menunggu dalam rumah, bercakap-cakap dalam rumah, makan malam keluarga.”
Pada akhirnya, skala produksi film Laut Bercerita bukan hanya soal banyaknya orang yang terlibat atau luasnya lokasi syuting, tetapi bagaimana tim menyatukan berbagai detail agar suasana Indonesia era 1990-an terasa meyakinkan. Anggi mengatakan, kebutuhan tersebut tetap disesuaikan dengan anggaran yang tersedia dengan membuat perimbangan antara adegan yang membutuhkan skala besar dan bagian yang dapat dikerjakan secara lebih sederhana, sehingga produksinya pun tetap berjalan sesuai kemampuan tim.