Laporan Kontribusi Penerima LPDP-nya Dikritik, Tasya Kamila Minta Maaf

- Tasya Kamila mendapat kritik atas laporan kontribusinya sebagai penerima beasiswa LPDP setelah menuliskan aktivitas pasca lulus S2 di Columbia University.
- Ia menyampaikan permintaan maaf kepada publik karena belum bisa memenuhi ekspektasi semua pihak, meski merasa kegiatannya sudah berdampak nyata.
- Tasya juga menegaskan kontribusi ekonominya melalui pajak dari pekerjaannya di industri hiburan yang disebutnya cukup besar untuk menutupi biaya studinya.
Unggahan Tasya Kamila soal laporan kontribusinya sebagai alumni penerima beasiswa LPDP menuai pro-kontra. Dalam unggahan itu, mantan penyanyi cilik ini berusaha untuk menjabarkan apa saja kontribusinya buat negara usai lulus S2 Columbia University dengan bantuan beasiswa LPDP. Namun, ia juga mendapat banyak kritik, karena kontribusinya dianggap kurang maksimal.
Menanggapi hujan kritik tersebut, Tasya Kamila menanggapi beberapa komentar warganet di kolom komentar unggahannya. Pada salah satu komentar, Tasya terlihat mengutarakan permintaan maafnya.
1. Tasya Kamila minta maaf karena gak bisa memenuhi ekspektasi semua orang

Tasya Kamila membalas komentar salah satu warganet yang menyebut impact atau kontribusinya dianggap tidak sebanding dengan dana LPDP yang dikeluarkan. Kontribusi Tasya dinilai terlalu sederhana dan bisa dilakukan oleh semua orang tanpa harus menjadi alumni LPDP terlebih dahulu.
Ia kemudian membalas dengan mengutarakan permintaan maaf. Menurut Tasya, pihak LPDP tidak mempermasalahkan hal tersebut dan kegiatan yang ia lakukan sudah dianggap sebagai kontribusi nyata.
"Huhu maaf ya aku belum bisa penuhin ekspektasi kamu sebagai penerima beasiswa. Alhamdulillah baik LPDP maupun orang-orang yang terdampak lewat berbagai gerakanku berkenan. Tapi, aku sadar memang aku gak bisa memenuhi ekspektasi dan menyenangkan hati semua orang," ungkap artis yang juga berkarier sejak kecil ini.
2. Sedih karena usahanya dianggap sepele

Tasya juga tak mampu menyembunyikan kesedihannya, karena gerakan yang selama ini ia lakukan dinilai tidak begitu berdampak. Padahal, Tasya sudah melakukan berbagai gerakan dari akar rumput dan mempraktikkan ilmu-ilmu yang ia dapatkan selama berkuliah di Columbia University.
"Aku mempraktikkan keilmuan yang aku dapat di Columbia University soal bagaimana kebijakan publik bisa efektif dijalankan melalui gerakan akar rumput dan bagaimana publik juga bisa mendorong kebijakan," tuturnya.
Ia sadar bahwa gerakan akar rumput ini terlihat seperti gerakan basic yang bisa dilakukan siapa saja tanpa harus berkuliah di luar negeri. Namun, tetap saja gerakan seperti ini harus ada inisiator hingga jembatan antara publik dan pembuat kebijakan.
"Tetap harus ada yang mau jadi inisiator, amplifier, dan memberikan wadah. Harus pula ada yang menjembatani antara policy maker dan publik, agar pesan tersampaikan," lanjut Tasya.
3. Klaim setoran pajaknya punya dampak yang besar

Salah satu kritikan yang diterima Tasya adalah aksinya dianggap tidak memiliki dampak terhadap ekonomi negara. Tasya menyikapinya dengan menyebut pembayaran pajak dari pekerjaannya di industri hiburan memiliki jumlah yang besar. Ia bahkan mengklaim jumlahnya itu bisa untuk mengganti biaya sekolahnya yang dikeluarkan oleh LPDP.
"Kak, kalau ngomongin monetary impact, alhamdulillah dari rezekiku dalam pekerjaanku di industri kreatif juga juga sudah berkontribusi untuk pajak. Kalau dihitung sejak aku lulus, pajak yang management-ku setorkan insya Allah sudah bisa nutup itu uang sekolahku," ujarnya.
Meski dapat banyak kritik, Tasya Kamila mengaku masih semangat menjalani pekerjaan dan pengabdiannya.










![[WANSUS] Sampai Jilid Berapa Sinetron Para Pencari Tuhan akan Dibuat?](https://image.idntimes.com/post/20260226/upload_8722c4d8d93ce4c2c6ac29e2651e1866_1359be34-d15b-49f1-87f5-9b47b2666f36_watermarked_idntimes-2.jpeg)





![[WANSUS] Seberapa Penting Peran Intimacy Coordinator dalam Produksi Film?](https://image.idntimes.com/post/20250612/pexels-minhle17vn-3062541 (1).jpg)

