Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Teuku Rifnu Wikana Nangis Perankan Predator di Memburu Pemangsa

4 min read
Teuku Rifnu Wikana Nangis Perankan Predator di Memburu Pemangsa
Teuku Rifnu Wikana setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
  • Teuku Rifnu Wikana menyebut syuting Memburu Pemangsa sebagai proyek terberat kariernya karena memerankan predator anak yang bekerja sama dengan iblis untuk membangkitkan putrinya.
  • Peran tersebut menekan psikologis Wika hingga ia beberapa kali menangis setelah syuting; sebagai ayah, ia merasa materi tentang pemangsa anak sangat dekat secara emosional.
  • Selama produksi, Wika didampingi psikolog dan mengalami beberapa cedera saat adegan laga; Umay Shahab menegaskan keamanan serta kenyamanan pemain, termasuk aktor cilik, tetap dijaga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Teuku Rifnu Wikana mengungkap pengalaman beratnya selama menjalani proses syuting film horror-crime-action Memburu Pemangsa. Film garapan Umay Shahab bersama Sinemaku Pictures tersebut bahkan disebut menjadi proyek terberat sepanjang kariernya sebagai aktor.

Dalam film ini, Teuku Rifnu atau yang akrab disapa Wika memerankan sosok predator anak yang bekerja sama dengan iblis demi membangkitkan putrinya yang telah meninggal. Peran ekstrem tersebut ternyata memberikan tekanan besar bagi Wika, baik secara fisik maupun psikologis.

  1. 1. Akui syuting terberatnya, Teuku Rifnu sampai menangis

    Akui syuting terberat, Teuku Rifnu sampai menangis.jpg
    Teuku Rifnu Wikana setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

    Memerankan sosok predator anak membuat Teuku Rifnu harus mendalami sisi psikologis karakter yang begitu keji. Ia mengakui peran tersebut menjadi salah satu tantangan terberat sepanjang kariernya di dunia akting.

    "Pertama kali saya mendapatkan cerita tentang 'Memburu Pemangsa' ini, sebenarnya saya mau menangis. Ini adalah syuting terberat seumur hidup sepanjang saya berkarier di dalam film," ujar Rifnu dalam konferensi pers di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026).

    Proses tersebut memberikan tekanan psikologis yang cukup besar. Wika bahkan mengaku beberapa kali menangis setelah pulang dari lokasi syuting. Beban tersebut terasa semakin berat karena karakter yang dimainkan Wika bertolak belakang dengan nilai moral dan kepribadiannya. Terlebih, ia juga merupakan seorang ayah sehingga materi cerita tentang pemangsa anak terasa sangat dekat secara emosional.

    "Ini kan peran yang berat banget buat saya yang punya anak juga, yang secara psikologi memang benar-benar keganggu banget," lanjutnya.

    Meski begitu, Wika berusaha memisahkan dirinya dengan karakter. Ia menggunakan pendekatan seni peran dengan mencari tujuan dan motivasi karakter tanpa membawa sisi gelap tokoh tersebut ke kehidupan pribadinya.

    "Di dalam seni peran, ada metode untuk membuat karakter apa pun itu menjadi wajar dari sudut pandang naskah. Lebih kepada mencari apa tujuannya, apa motivasi besarnya, bukan menghidupkannya ke pribadi saya," jelas Rifnu.

  2. 2. Teuku Rifnu didampingin oleh psikolog selama syuting

    Umay Shahab sampai hadirkan psikolog untuk dampingi Teuku Rifnu selama syuting.jpg
    Teuku Rifnu Wikana setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

    Menyadari beratnya karakter yang harus dimainkan Wika, Umay Shahab selaku sutradara pun menghadirkan psikolog untuk memberikan pendampingan selama proses produksi. Psikolog tersebut beberapa kali bertemu dengan Wika. Selain membantunya, metode itu menjadi salah satu cara agar beban karakter tidak terbawa terlalu jauh ke kehidupan pribadi sang aktor.

    "Syukurnya psikolog ini memang coba merunut kira-kira tujuan saya itu apa sebenarnya dari sini, coba mengajak saya ngobrol. Psikolog secara real ada dihadirkan Umay, dan itu ada beberapa kali pertemuan, sampai dia kadang-kadang lihat saya sendiri takut, dan akhirnya dia pulang. Terakhirnya saya minta ke 'Psikolog' saya yang paling tinggi lagi (Tuhan)," ungkap Wika.

    Selain pendampingan profesional, doa menjadi pegangan Wika selama menjalani proses tersebut. Ia berharap karakter ekstrem yang diperankannya tidak hanya menjadi sosok antagonis, tetapi juga dapat memberikan peringatan kepada penonton.

    "Doa saya sendiri ketika saya mau menjalani ini bahwa, 'Ya Tuhan, saya manusia lemah, saya tidak mampu memainkan karakter ini, dan saya tahu ini dosa banget. Ini adalah manusia di atas iblis. Tolong, izinkan saya memainkan karakter ini, agar saya bisa memberikan contoh kepada masyarakat luar, agar mereka bisa menjaga anaknya, dan mereka bisa menjaga keluarganya,'" katanya.

  3. 3. Sempat cedera, Teuku Rifnu tetap ingin totalitas dalam perannya

    Sempat cedera, Teuku Rifnu tetap ingin totalitas saat perankan predator anak.jpg
    Teuku Rifnu Wikana setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

    Tantangan Wika dalam Memburu Pemangsa tidak hanya datang dari sisi psikologis. Karakter tersebut juga menuntutnya menjalani berbagai adegan laga dengan intensitas tinggi. Proses syuting yang cukup berat bahkan membuat Wika beberapa kali mengalami cedera

    "Ini adalah syuting terberat sepanjang saya berkarier di dalam film. Dan karena beratnya itu, maka saya sampai beberapa kali cedera. Yang kepala kena botol lah, yang kaki harus di-MRI lah, harus di-CT scan lah," akunya.

    Kendati harus menghadapi tekanan secara fisik dan psikologis, Wika tetap ingin memberikan penampilan yang maksimal. Baginya, karakter tersebut bisa menjadi sarana untuk menyampaikan warning kepada masyarakat agar lebih waspada dalam menjaga anak dan keluarga.

    Di sisi lain, Umay Shahab memastikan proses produksi tetap memperhatikan keamanan dan kenyamanan seluruh pemain. Hal tersebut menjadi perhatian khusus karena Memburu Pemangsa melibatkan aktor cilik serta materi cerita yang cukup berat.

    "Betul, betul. Pastinya kan biar menjaga semuanya, karena kita sadar bahwa ethical filmmaking kan juga penting. Jadi kita menjaga bagaimana agar semua yang berada di lokasi syuting pun juga tetap merasa aman," pungkas Umay.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More