- Saat ngobrol dengan teman atau keluarga
Digunakan untuk membahas hal kecil atau receh, misal cerita pengalaman lucu atau kejadian sehari-hari. - Saat lupa kata atau istilah
Bagian “apa sih namanya?” muncul sebagai filter verbal untuk menutupi jeda karena lupa kata. - Saat membuat caption lucu di media sosial
Frasa ini juga populer dijadikan caption TikTok, komentar Instagram, atau meme karena terdengar absurd.
Makna Ungkapan Jangan Terlalu Diiniin, Apa Sih Namanya? Adalah Pokoknya

- Makna jangan terlalu diiniin, apa sih namanya? Adalah pokoknya muncul saat lupa kata atau frasa. Bagian "jangan diini‑iniin" sebagai perintah santai dan "pokoknya" menunjukkan inti pembicaraan.
- Frasa jangan terlalu diiniin, apa sih namanya? Adalah pokoknya sering dipakai dalam situasi santai untuk menghidupkan suasana, seperti ngobrol dengan teman/keluarga, saat lupa kata, atau membuat caption lucu di media sosial.
- Frasa viral lainnya di media sosial bisa menggunakan frasa mikir kids, menyala queen, tenangin diri lo, atau gak semua hal lo harus tau.
Belakangan ini, ada sebuah frasa yang viral di media sosial, yaitu jangan terlalu diiniin, apa sih namanya? adalah pokoknya. Bisa jadi, kamu pernah mendengar temanmu mengucapkannya, atau bahkan menemukannya di TikTok dan Instagram.
Ternyata, frasa ini bukan sekadar kalimat asal-asalan, melainkan punya makna dan fungsi tersendiri, loh! Dalam artikel ini, IDN Times akan kupas tuntas makna jangan terlalu diiniin, apa sih namanya? adalah pokoknya dan bagaimana cara pakainya di media sosial. Yuk, simak penjelasannya sampai habis!
Table of Content
1. Makna "jangan terlalu diiniin, apa sih namanya? Adalah pokoknya"

Tahukah kamu, frasa jangan terlalu diiniin, apa sih namanya? adalah pokoknya merupakan bahasa spontan yang muncul ketika penutur lupa kata yang ingin disampaikan. Dosen Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS), Miftah Nugroho, menjelaskan bahwa untuk menggantikan kata yang lupa tersebut, penutur biasanya mencari kata yang mudah digunakan sebagai pengisi, seperti “ini”, “itu”, atau “anu”.
Selain itu, bagian “jangan diini‑iniin” juga bisa dimaknai sebagai perintah santai untuk tidak membesar-besarkan sesuatu. Sedangkan kata "pokoknya" memiliki makna yang terutama atau yang sangat penting. Dengan begitu, makna jangan terlalu diiniin, apa sih namanya? adalah pokoknya bisa menunjukkan keterbatasan dalam mengingat kata tertentu sekaligus menegaskan inti pembicaraan.
2. Cara pakai frasa "jangan terlalu diiniin, apa sih namanya? Adalah pokoknya"

Tahukah kamu, frasa ini paling sering dipakai warganet di situasi santai untuk nghidupkan suasana. Kamu bisa menggunakannya ketika mengobrol dengan teman, keluarga, atau bahkan di caption sosial media. beberapa situasi yang memungkinkanmu memakasi frasa jangan terlalu diiniin, apa sih namanya? Adalah pokoknya, yaitu:
3. Frasa viral lainnya di media sosial

Tahukah kamu, selain jangan terlalu diiniin, apa sih namanya? adalah pokoknya, ternyata ada banyak frasa lain yang viral di media sosial. Bisa jadi kamu sering melihat atau bahkan memakai beberapa frasa ini tanpa sadar.
Berikut beberapa contohnya:
- “Gak semua hal lo harus tau”
- "Mikir Kids"
- "Plenger"
- "Tenangin diri lo"
- "Diam bukan berarti limbad"
- "Iziiin"
- "Kasih paham bos"
- "Prinsip"
- "Awas ombak awas"
- "Kasih understand king biar people people know"
- "Menyala queen"
Jadi, makna jangan terlalu diiniin, apa sih namanya? adalah pokoknya merupakan gabungan ekspresi verbal yang muncul saat kamu lupa kata yang ingin kamu ucapkan. Oleh sebab itu jika kamu ingin memakainya, gunakan dalam percakapan santai atau konten lucu saja, ya!
FAQ seputar frasa viral di medsos
| Siapa yang biasanya memakai frasa ini? | Bisa jadi kamu sering melihat anak muda memakai frasa ini di TikTok, Instagram, Twitter, atau dalam chat santai. |
| Kapan sebaiknya memakai frasa ini? | Ternyata, frasa ini paling cocok untuk percakapan santai, cerita lucu, atau caption media sosial. |
| Mengapa orang tetap mengerti meski kalimatnya terdengar acak? | Meski terdengar tidak baku, konteks percakapan dan intonasi biasanya cukup jelas bagi lawan bicara. Jadi frasa ini tetap bisa dipahami, bahkan terasa lucu dan menghibur. |



















