3 Alasan Gye Su Jeong Dimusuhi Para Dokter di Doctor X: Mafia In White

- Gye Su Jeong dijauhi karena berani menentang senioritas dan petinggi rumah sakit, serta menetapkan batas jam kerja meski dianggap pembangkang oleh rekan sejawat.
- Keahlian bedahnya dalam menangani operasi sulit membuat dokter lain kagum sekaligus tidak nyaman, karena kemampuannya menantang dominasi jabatan dan senioritas.
- Ia konsisten bertindak berdasarkan prinsip, termasuk membantu pasien di luar tanggung jawabnya, sehingga kerap dianggap melangkahi kewenangan dan mengganggu kebiasaan rumah sakit.
Sejak bergabung dengan Rumah Sakit Universitas Gu Seo, Gye Su Jeong langsung menarik perhatian para dokter lewat sikapnya yang blak-blakan dan sulit ditebak. Berbeda dari dokter lain yang cenderung mengikuti aturan serta menghormati senioritas, ia berani menyampaikan pendapat, menentang keputusan petinggi rumah sakit, bahkan meninggalkan tempat kerja ketika jam kerjanya telah berakhir. Sikap tersebut membuat kehadirannya menjadi bahan perbincangan dan memicu ketidaksukaan dari sejumlah rekan sejawatnya.
Namun, bukan hanya sikapnya yang membuat Gye Su Jeong dijauhi. Kemampuannya sebagai ahli bedah juga menjadi sorotan karena ia mampu menangani operasi sulit yang belum tentu berani dilakukan dokter lain. Perpaduan antara keterampilan medis yang mengesankan dan kepribadiannya yang tidak mudah diatur membuat Gye Su Jeong menjadi sosok yang sulit diterima di lingkungan rumah sakit. Berikut tiga alasan para dokter memusuhi Gye Su Jeong di Doctor X: Mafia In White.
1. Berani melawan aturan dan petinggi rumah sakit

still cut drama Korea Doctor X (x.com/SBSNOW) Sejak awal kemunculannya, Gye Su Jeong tidak ragu menunjukkan bahwa dirinya bukan dokter yang mudah tunduk pada senioritas. Ia berani menentang ucapan Kim Myeong Seop selaku direktur Rumah Sakit Universitas Gu Seo, meskipun dokter lain cenderung lebih berhati-hati ketika berhadapan dengan petinggi rumah sakit. Ia juga tidak merasa perlu bertahan di tempat kerja setelah jam kerjanya berakhir. Ketika waktunya pulang tiba, Gye Su Jeong memilih pergi tanpa terlalu memedulikan reaksi rekan-rekannya yang tidak menyukai sikap tersebut.
Pendirian Gye Su Jeong membuatnya perlahan dijauhi oleh sejumlah dokter. Bahkan, ia harus menghadapi suasana canggung ketika rekan-rekannya enggan menyapa dan ia akhirnya makan sendirian di kantin rumah sakit. Meski begitu, Gye Su Jeong tidak terlihat terlalu terganggu dengan perlakuan tersebut. Baginya, menjadi dokter bukan berarti harus selalu mengorbankan waktu dan tenaga demi memenuhi tuntutan atasan, terlebih jika pekerjaan tambahan tidak disertai kompensasi yang layak. Keberaniannya mempertahankan batasan itu membuatnya dianggap sebagai pembangkang oleh sebagian orang, padahal ia hanya tidak ingin mengikuti budaya kerja yang menurutnya tidak adil.
2. Memiliki kemampuan operasi yang luar biasa bahkan dalam kasus sulit

still cut drama Korea Doctor X (x.com/SBSNOW) Selain sikapnya yang berani menentang aturan, kemampuan Gye Su Jeong sebagai ahli bedah juga membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Ia dikenal terampil dan mampu menangani kasus operasi yang sulit, bahkan berani mengambil keputusan dalam situasi berisiko tinggi. Keahliannya membuat orang lain tidak bisa begitu saja meremehkannya, meskipun kepribadiannya kerap menimbulkan masalah. Di satu sisi, kemampuan Gye Su Jeong membuat sejumlah dokter kagum. Namun, di sisi lain, kehadirannya juga dapat menimbulkan rasa sungkan dan ketidaknyamanan bagi mereka yang tidak terbiasa menghadapi dokter dengan keterampilan serta kepercayaan diri seperti dirinya.
Ironisnya, kemampuan tersebut tidak serta-merta membuat Gye Su Jeong diterima oleh semua rekan sejawatnya. Sikapnya yang tidak suka berbasa-basi dan tidak berusaha mengambil hati orang lain membuat pencapaiannya justru berpotensi menambah ketegangan di lingkungan kerja. Ketika ia mampu membuktikan keahliannya melalui tindakan, dokter lain harus menghadapi kenyataan bahwa kemampuan medis tidak selalu sejalan dengan jabatan atau senioritas. Meski demikian, tidak semua orang memandangnya secara negatif. Park Tae Gyeong menjadi salah satu sosok yang berbeda dari rekan-rekan yang menjaga jarak dengannya, sehingga hubungan Gye Su Jeong dengan orang-orang di rumah sakit tidak sepenuhnya dipenuhi permusuhan.
3. Selalu bertindak sesuai prinsipnya tanpa takut penilaian orang lain

still cut drama Korea Doctor X: Mafia In White (x.com/SBSNOW) Gye Su Jeong juga tidak disukai karena memiliki cara berpikir dan bertindak yang sulit dipengaruhi orang lain. Ia tidak mudah mengikuti pendapat seseorang hanya karena orang tersebut memiliki jabatan lebih tinggi atau mendapat penghormatan dari banyak orang. Selama merasa tindakannya benar, Gye Su Jeong akan tetap melakukannya tanpa terlalu memikirkan bagaimana orang lain menilai dirinya. Sikap ini terlihat ketika ia memilih beristirahat sebelum jam kerjanya dimulai, meskipun perilakunya membuat orang-orang di sekitarnya kebingungan. Baginya, ia tidak perlu berpura-pura sibuk atau mengikuti kebiasaan tertentu hanya demi terlihat sesuai dengan ekspektasi rekan kerja.
Prinsip yang sama juga terlihat ketika Gye Su Jeong membantu menangani pasien yang bukan menjadi tanggung jawab langsungnya. Alih-alih mengabaikan pasien tersebut karena persoalan pembagian tugas, ia memilih memberikan pertolongan karena dirinya adalah seorang dokter. Namun, keputusan itu justru membuat sejumlah dokter lain kesal, terutama jika tindakan Gye Su Jeong dianggap melangkahi kewenangan atau mengganggu kebiasaan yang selama ini mereka ikuti. Gye Su Jeong tidak mudah mundur hanya karena orang lain menunjukkan ketidaksukaan terhadap tindakannya. Baginya, keselamatan pasien dan keyakinan terhadap apa yang benar jauh lebih penting daripada menjaga citra atau menyenangkan hati rekan sejawat.
Gye Su Jeong menjadi sosok yang sulit diterima oleh sejumlah dokter di Doctor X: Mafia In White karena keberaniannya melawan senioritas, kemampuan operasi yang mengesankan, serta prinsipnya yang tidak mudah digoyahkan oleh tekanan lingkungan. Sikapnya memang dapat memicu konflik, tetapi ia juga menunjukkan bahwa seorang dokter tidak seharusnya dinilai hanya dari kepatuhannya terhadap aturan atau kedekatannya dengan petinggi rumah sakit. Di tengah lingkungan yang terbiasa dengan hierarki, Gye Su Jeong memilih mempertahankan pendiriannya meskipun harus menghadapi penolakan.























