3 Keserakahan Hyeon Woo Seok di No Tail to Tell

Tragedi kecelakaan yang menciptakan efek domino pada berakhirnya karier Hyeon Woo Seok (Jang Dong Joo) sebagai pesepak bola memang menyedihkan. Namun, perubahan sikapnya setelah bertukar takdir dengan Kang Si Yeol (Lomon) ternyata membuktikan keserakahannya. Seperti apakah potret keserakahan Hyeon Woo Seok di No Tail to Tell?
1. Delusi kepemilikan

Sikap Woo Seok yang merasa "berhak" atas kesuksesan yang bukan miliknya menjadi potret pertama dari keserakahannya. Meski ia tahu bahwa ketenaran, kekayaan, dan kesuksesannya sebagai pesepak bola kelas dunia adalah hasil keringat Si Yeol, Woo Seok justru bersikap seolah-olah itu adalah hasil jerih payahnya sendiri.
Saat Si Yeol terpuruk menjalani takdirnya sebagai pesepak bola Divisi 4 yang hidup dalam kemiskinan, Woo Seok tak peduli. Dengan egois, ia meminta perpanjangan durasi dari pertukaran takdir mereka.
2. Haus validasi orang lain

Tragedi sesungguhnya dalam hidup Woo Seok bukanlah kecelakaan yang dialaminya di masa lalu, melainkan ketimpangan hati nuraninya di masa kini. Si Yeol tetap mempertahankan ketulusan pada persahabatan mereka, bahkan saat ia berada di titik terendah.
Sementara itu, Woo Seok menggunakan kesuksesan yang ia curi untuk memuaskan rasa haus akan validasi yang sempat hilang.
Ia membiarkan sahabatnya menderita dalam kemiskinan yang seharusnya menjadi beban hidupnya, sambil terus menikmati pujian dan kekaguman orang-orang atas kesuksesan palsunya.
3. Hanya ingin bahagia tanpa konsekuensi apa pun

Keserakahan Woo Seok mencapai level "di luar nalar" ketika ia berhadapan dengan konsekuensi dari takdir yang ia curi. Begitu ia tahu bahwa ada "harga" yang harus dibayar dari menjalani hidup Si Yeol yang ternyata digariskan akan mati muda, ia langsung memaksa untuk kembali bertukar takdir.
Woo Seok hanya menginginkan kesuksesan Si Yeol, namun menolak memikul penderitaannya.
Ia ingin kembali ke kehidupan lamanya bukan karena sadar akan kesalahannya, melainkan karena takut akan kematian.
Hyeon Woo Seok adalah potret dari manusia yang gagal melewati ujian karakter. Kegagalannya di masa lalu memang pahit, namun sikapnya yang hanya mau merasakan kebahagiaan, tetapi langsung melempar tanggung jawab saat menemukan penderitaan membuktikan bahwa ia tidak layak disebut sebagai seorang sahabat.

















