Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Korban Pola Asuh Toksik di Drakor The East Palace
Cho Seung Woo di drakor The East Palace (dok. Netflix/The East Palace)
  • Putra Mahkota terdorong ambisi takhta setelah mengetahui kejahatan ayahnya, membunuh dua saudaranya, lalu tewas dibunuh sang raja yang menganggapnya calon tiran.
  • Sang Raja menjadi penguasa berdarah dingin setelah ibunya menyingkirkan para pewaris lain demi takhta; ia kemudian membunuh pihak yang menghalangi, termasuk keluarga dan rakyat.
  • Saeng Gang dikucilkan karena kemampuan mendengar arwah, kehilangan ibunya, serta menghadapi ancaman ayahnya; ia hidup jauh dari istana tanpa kasih sayang keluarga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
30 tahun lalu

Raja saat ini membunuh satu per satu anak-anak mendiang raja dengan racun mematikan. Kejahatan itu kemudian diketahui Putra Mahkota melalui kekuatan supranaturalnya.

kini

Sang raja menduduki takhta kerajaan setelah menjadi satu-satunya anak raja yang masih hidup. Ia digambarkan rapuh di balik ketangguhannya, sementara Putra Mahkota dan Saeng Gang menjadi korban pola asuh toksik keluarga kerajaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Konflik pola asuh toksik dalam keluarga kerajaan The East Palace menempatkan Putra Mahkota, Sang Raja, dan Saeng Gang sebagai korban ambisi serta kekerasan orangtua.
  • Who?
    Putra Mahkota diperankan Kwak Dong Yeon, Sang Raja diperankan Cho Seung Woo, dan Saeng Gang diperankan Roh Yoon Seo; mereka terlibat dalam konflik keluarga kerajaan.
  • Where?
    Peristiwa berlangsung di lingkungan kerajaan dan istana, termasuk pengasingan yang dialami ibu Saeng Gang serta kehidupan Saeng Gang di luar istana.
  • When?
    Konflik berlangsung dalam rangkaian cerita The East Palace. Pembunuhan anak-anak mendiang raja oleh raja saat ini disebut terjadi sekitar 30 tahun sebelumnya.
  • Why?
    Ambisi merebut dan mempertahankan takhta mendorong ibu Sang Raja, Sang Raja, dan Putra Mahkota melakukan intrik, pembunuhan, pengucilan, serta ancaman terhadap anggota keluarga.
  • How?
    Sang Raja naik takhta setelah para pangeran lain dibunuh dengan racun. Putra Mahkota membunuh dua saudaranya, lalu dibunuh ayahnya. Saeng Gang dikucilkan dan diancam karena kemampuan mendengar arwah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di The East Palace, ada tiga anak kerajaan yang sedih karena orang tua mereka berbuat jahat. Putra mahkota ingin jadi raja, lalu dibunuh ayahnya. Raja dulu dipakai ibunya untuk merebut takhta. Saeng Gang dibuang dan dimarahi ayahnya. Sekarang mereka semua merasa kesepian di istana.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di balik intrik dan kekerasan istana, The East Palace memberi ruang untuk melihat bahwa para tokohnya juga menyimpan luka dan kesepian akibat pola asuh toksik. Kerentanan sang raja, putra mahkota, dan Saeng Gang membuat konflik keluarga kerajaan terasa lebih manusiawi, sekaligus memperlihatkan bagaimana ambisi orangtua membentuk nasib anak-anak mereka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Drakor The East Palace selain menyajikan kisah kutukan arwah pendendam terhadap keturunan kerajaan, juga mengisahkan tentang intrik politik keluarga kerajaan yang memakan banyak korban. Salah satunya adalah konflik pola asuh toksik oleh para orangtua yang menghasilkan anak-anak korban salah pengasuhan.

Anak-anak ini ada yang tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bijak, dan ada pula yang sebaliknya bertindak licik dan culas. Para korban pola asuh toksik di kerajaan sulit lepas dari jeratan orangtua mereka karena birokrasi istana yang rumit. Simak berikut ini tiga korban dari toxic parenting di The East Palace.

1. Putra Mahkota (Kwak Dong Yeon)

still cut drakor The East Palace (dok. Netflix/The East Palace)

Putra Mahkota merupakan anak raja yang licik. Ia berambisi untuk menguasai kerajaan dengan menduduki takhta secara instan, sehingga dengan tega ia membunuh dua saudara kandungnya sendiri. Di sisi lain, ia punya kekuatan supranatural bisa mendengar arwah dan mengetahui percakapan dari dunia lain.

Karena kekuatan itu, ia bisa mengetahui kejahatan masa lalu ayahnya, sang raja. Bahwa ternyata di masa lalu, 30 tahun lalu anak-anak mendiang raja satu per satu wafat karena dibunuh oleh raja saat ini. Ia membunuh mereka menggunakan racun mematikan. Karena dosa sang ayah, putra mahkota ingin mengikuti jejaknya agar bisa mudah naik takhta. Namun sayangnya, ia dibunuh oleh ayahnya dengan alasan untuk menyelamatkan masa depan dari raja tirani.

2. Sang Raja (Cho Seung Woo)

still cut drakor The East Palace (dok. Netflix/The East Palace)

Raja adalah korban dari ambisi ibu kandungnya untuk menguasai takhta kerajaan. Dulu sang ibu kandungnya adalah perempuan dari rakyat biasa yang diangkat jadi selir. Karena sering diremehkan, ia berniat mengangkat anaknya untuk jadi raja dengan membunuh semua anak raja yang lain.

Dengan meninggalnya para pangeran, raja saat ini bisa naik takhta dengan mudah dan mulus tanpa hambatan apa pun karena ia satu-satunya anak raja yang masih hidup. Waktu berlalu, raja pun ikut permainan dan intrik ibunya hingga tumbuh menjadi pemimpin yang berdarah dingin. Ia membunuh siapa pun yang menghalangi jalannya, bahkan termasuk rakyatnya dan darah dagingnya sendiri.

3. Saeng Gang (Roh Yoon Seo)

Roh Yoon Seo di drakor The East Palace (dok. Netflix/The East Palace)

Saeng Gang adalah putri raja yang harus menelan pahit kehidupan karena dikucilkan dan diasingkan oleh keluarganya sendiri. Ibunya diasingkan dan dibunuh di pengasingan, sementara ia hidup sendiri diasuh neneknya. Sebelum diasingkan, Saeng Gang sering ditolak kehadirannya karena ia memiliki kekuatan supranatural bisa mendengar arwah alam lain.

Oleh sang raja, ia sering dibungkam dan dimarahi jika mengatakan ia bisa mendengar suara dari alam lain karena akan menjadi ancaman berat bagi takhta raja. Ancaman akan dibunuh pun juga diterima Saeng Gang dari ayahnya. Anak perempuan yang harus dilindungi dan disayangi ternyata harus hidup di luar istana tanpa kemewahan dan kasih sayang istana.

Tiga karakter di atas merupakan korban dari pola asuh toksik orangtua mereka. Sayangnya, jika disakiti dan melihat hal yang gak pantas, mereka gak bisa protes dan menjauh karena dibatasi oleh peraturan ketat istana. Sang raja yang kini menduduki takhta kerajaan tampak begitu tangguh di luar, namun sebenarnya ia sangat rapuh.

Begitu pula Saeng Gang dan kakaknya, putra mahkota. Keduanya adalah hasil didikan ayah mereka yang juga korban nenek mereka. Menjadi korban pola asuh toksik akibat dari perebutan kekuasaan dan ambisi, membuat ketiganya begitu kesepian karena gak ada orangtua yang bisa diandalkan dan jadi sandaran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorInaf Mei

Related Article