Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Pihak Yang Dirugikan Akibat KKN di Doctor X: Mafia in White

3 min read
3 Pihak Yang Dirugikan Akibat KKN di Doctor X: Mafia in White
Cuplikan drakor Doctor X (dok.SBS/Doctor X)

Drakor Doctor X: Mafia in White (2026) menyorot isu korupsi, kolusi, dan nepotisme di kalangan kesehatan. Keterlibatan organisasi magnolia terhadap budaya yang berkembang di kalangan dokter membuat praktik KKN ini semakin merebak. Gak hanya itu, GUMC sebagai institusi juga menghadapi kesulitan karena hal ini.

Sayangnya, praktik KKN ini jadi sebuah rutinitas bagi para pekerja medis. Imbasnya, beberapa orang yang bekerja keras harus menghadapi kesulitan. Kondisi ini jelas merugikan banyak pihak. Lalu, siapa saja yang dirugikan dengan adanya KKN di drakor Doctor X: Mafia in White?

Peringatan, artikel ini mengandung spoiler.

  1. 1. Dokter kompeten, Dokter Residen, dan Dokter Magang

    Cuplikan drakor Doctor X
    Cuplikan drakor Doctor X (dok.SBS/Doctor X)

    Dokter merupakan ujung tombak rumah sakit. Mereka bertugas menyembuhkan penyakit para pasien. Sayangnya, praktik nepotisme dalam kalangan dokter GUMC ini membuat beberapa pihak bertindak semaunya, gak terkecuali dokter senior. Beberapa dokter yang menggunakan jalur nepotisme ini dinilai hanya berdasarkan kenalan saja.

    Beberapa dokter senior bahkan gak punya keinginan untuk memperluas kemampuan dan pengetahuannya di atas meja operasi. Mereka memilih mengirim pasien dengan kasus rumit ke rumah sakit lain karena gak ingin bertanggung jawab jika ada resiko. Kondisi ini gak hanya ketika berhadapan dengan kasus rumit saja, lho.

    Beberapa dokter senior memilih untuk melimpahkan pekerjaannya ke dokter residen dan dokter magang. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja daripada istirahat. Gak hanya itu, mereka juga gak punya waktu untuk pulang ke rumah dan berganti pakaian sejenak.

  2. 2. Pasien

    Cuplikan drakor Doctor X
    Cuplikan drakor Doctor X (dok.SBS/Doctor X)

    GUMC merupakan rumah sakit besar yang jadi tujuan utama masyarakat untuk berobat lebih lanjut. Budaya GUMC adalah mendahulukan pasien VIP di atas segalanya. Mereka juga sangat menerapkan hirarki dokter yang membuat para dokter gak bisa mementingkan kondisi pasien reguler. Sikap ini jelas membebani dokter kompeten yang bekerja di IGD.

    IGD GUMC sendiri hanya punya beberapa dokter saja yang beban kerjanya masih sangat berat. Beberapa dokter bahkan meminta direktur untuk memperhatikan IGD yang selama ini dianggap remeh. Kenyataannya, keselamatan pertama pasien merupakan tugas IGD yang gak pernah dianggap.

    Kondisi ini semakin sulit ketika dokter senior mementingkan pendapatan dan memilih untuk merawat pasien VIP saja. pasien reguler yang berusaha keras membayar tagihan rumah sakit gak mendapatkan perawatan maksimal. 

  3. 3. Institusi GUMC

    Cuplikan drakor Doctor X
    Cuplikan drakor Doctor X (dok.SBS/Doctor X)

    GUMC sebenarnya bukan rumah sakit yang baru dibangun. Institusi ini punya reputasi yang baik sebelumnya di mata masyarakat. Sayangnya, kasus malpraktik yang dilayangkan salah satu keluarga pasien membuat reputasi rumah sakit semakin menurun. 

    Gak hanya itu, pelayanan yang semakin buruk membuat masyarakat meragukan keahlian dokter yang bertugas. Kondisi ini membuat GUMC gak menarik bagi para mahasiswa kedokteran untuk mengabdikan diri dan mengaplikasikan kemampuannya di bawah naungan GUMC.

    Selain itu, kondisi ini semakin mendorong langkanya dokter yang bertugas di GUMC. Reputasi rumah sakit yang semakin menurun membuat GUMC semakin gak menarik bagi dokter baru. Dengan kondisi ini, bisnis rumah sakit gak akan bisa berjalan lancar karena pemasukan yang minim dan tenaga ahli yang menipis.

    Kerugian ini jelas hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Bahkan, keuntungan gak didapatkan oleh pihak yang berhak. Kesimpulan ini jelas menggambarkan jika praktik KKN ini malah berdampak buruk bagi banyak orang. Jika institusi sekecil GUMC saja banyak dirugikan, apalagi institusi yang lebih besar dari bisnis rumah sakit. Bagaimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More