5 Langkah Ki Tae yang Penuh Risiko di Made in Korea, Bisnis Narkoba

- Baek Ki Tae menjalin hubungan transaksional dengan Bae Geum Ji untuk masuk ke dunia gelap elite kekuasaan.
- Ia melakukan kejahatan tanpa sepengetahuan atasannya, Hwang Guk Pyeong, sebagai bentuk pembangkangan terhadap sistem.
- Baek Ki Tae menjalin kerja sama dengan anak ketua geng Yakuza dan membangun pabrik narkoba untuk diekspor ke Jepang.
Baek Ki Tae (Hyun Bin) bukan antagonis yang tercipta dalam satu malam. Di drakor Made in Korea, ia dibangun melalui rangkaian keputusan berisiko yang perlahan tapi pasti menyeretnya semakin jauh dari batas hukum dan moral. Setiap langkah yang diambil Baek Ki Tae selalu dibingkai sebagai pilihan rasional demi kekuasaan, tetapi justru menjadi bukti bahwa ambisi yang tak terkendali selalu menuntut harga mahal.
Lima langkah berikut bukan hanya menunjukkan keberanian Baek Ki Tae. Namun, juga menggambarkan bagaimana ia menantang sistem, membelokkan kekuasaan negara, dan menjadikan kekerasan sebagai alat legitimasi. Apa saja langkah tersebut, ya?
1. Menjalin hubungan transaksional dengan Bae Geum Ji

Langkah pertama yang membuka pintu ke dunia gelap elite kekuasaan adalah keputusan Baek Ki Tae menjalin hubungan transaksional dengan Bae Geum Ji (Cho Yeo Jeong). Ia memahami bahwa ambisinya tak akan tercapai jika hanya mengandalkan jalur resmi negara. Bae Geum Ji hadir sebagai penghubung antara politik, bisnis ilegal, dan jaringan kriminal.
Namun, hubungan ini sejak awal dibangun di atas kepentingan semata. Tidak ada loyalitas, hanya pertukaran manfaat. Dengan melibatkan Bae Geum Ji, Baek Ki Tae mempertaruhkan stabilitas posisinya sendiri. Satu kesalahan saja bisa mengubah sekutu menjadi ancaman. Meski demikian, ia memilih melangkah karena sadar bahwa tanpa perantara seperti Bae Geum Ji, akses ke lingkaran kekuasaan sejati akan tetap tertutup baginya.
2. Melakukan kejahatan tanpa sepengetahuan atasannya, Hwang Guk Pyeong

Sebagai bawahan Hwang Guk Pyeong (Park Yong Woo), Baek Ki Tae seharusnya bergerak sesuai instruksi dan struktur komando. Namun, ambisi membuatnya mengambil langkah paling berbahaya, menjalankan kejahatan dan operasi kotor tanpa sepengetahuan atasannya sendiri.
Keputusan ini bukan sekadar pelanggaran disiplin, melainkan bentuk pembangkangan terhadap sistem. Baek Ki Tae sadar bahwa jika aksinya terbongkar, ia tidak hanya menghadapi hukum, tetapi juga kemarahan institusi yang selama ini melindunginya.
Meski demikian, ia memilih bertindak sendiri karena merasa struktur yang ada terlalu lambat dan membatasi ruang geraknya. Langkah ini menandai titik ketika Baek Ki Tae tidak lagi melihat dirinya sebagai bagian dari sistem, melainkan pemain yang berada di atasnya.
3. Menjalin kerja sama dengan Choi Yu Ji, anak ketua geng Yakuza

Risiko semakin meningkat saat Baek Ki Tae menjalin kerja sama dengan Choi Yu Ji (Won Ji An), anak ketua geng Yakuza. Ini bukan sekadar aliansi bisnis, tetapi keterlibatan langsung dengan kejahatan terorganisir internasional yang memiliki aturan dan konsekuensi brutal.
Melalui bekerja sama dengan Yakuza, Baek Ki Tae membuka jalur distribusi narkoba lintas negara sekaligus memperbesar potensi konflik. Ia harus berhadapan dengan aparat, rival kriminal, dan kemungkinan dikhianati oleh mitranya sendiri. Namun, Baek Ki Tae memahami bahwa Yakuza menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan negara, jaringan global dan perlindungan lewat kekerasan.
Kesepakatan ini menempatkan Baek Ki Tae dalam posisi tanpa jalan mundur. Begitu terikat, kegagalan bukan lagi soal kehilangan uang, melainkan nyawa.
4. Membangun pabrik narkoba dan menargetkan ekspor ke Jepang

Langkah paling nekat Baek Ki Tae adalah membangun pabrik narkoba dan berusaha mengekspornya ke Jepang. Skala kejahatan ini melampaui batas operasi gelap biasa dan langsung menyentuh level kejahatan internasional.
Keputusan ini memperlihatkan bahwa Baek Ki Tae tidak lagi puas menjadi operator bayangan. Ia ingin menjadi pengendali utama rantai produksi dan distribusi. Risiko yang diambil sangat besar, jika terendus, bukan hanya dirinya yang jatuh, tetapi juga jaringan pejabat dan institusi yang selama ini ia manfaatkan.
Ironisnya, Baek Ki Tae membenarkan langkah ini sebagai kontribusi ekonomi. Baginya, devisa hasil ekspor narkoba ke Jepang adalah bukti bahwa ia ikut “membangun negara”, meski dengan cara yang sepenuhnya menyimpang.
5. Menghabisi siapa saja yang menghalangi langkahnya

Langkah terakhir sekaligus paling ekstrem adalah keputusan Baek Ki Tae untuk menghabisi siapa pun yang menghalangi jalannya. Di titik ini, kekerasan tidak lagi menjadi pilihan terakhir, melainkan alat utama untuk mempertahankan kekuasaan.
Siapa pun bisa menjadi target, entah lawan, rekan, bahkan orang yang pernah berjasa. Setiap ancaman diperlakukan sebagai masalah yang harus dihilangkan, bukan dinegosiasikan. Keputusan ini menunjukkan bahwa Baek Ki Tae telah sepenuhnya kehilangan batas moral, digerakkan oleh obsesi untuk menang dan bertahan di puncak.
Langkah ini juga menjadi titik di mana konflik dengan Jang Geon Young (Jung Woo Sung) mencapai intensitas tertinggi. Baek Ki Tae tidak hanya melawan hukum, tetapi juga menantang prinsip keadilan secara terbuka.
Kelima langkah penuh risiko ini menggambarkan perjalanan Baek Ki Tae dari aparat negara menjadi arsitek kejahatan berskala internasional. Made in Korea tidak menempatkannya sebagai penjahat karikatural, melainkan sebagai simbol bagaimana kekuasaan, ketika dipadukan dengan trauma dan ambisi, dapat menciptakan ancaman yang jauh lebih berbahaya daripada musuh dari luar.


















