I An menyadari bahwa selama posisi raja dan sistem hak istimewa (privilege) itu ada, faksi-faksi politik akan terus bertarung, saling menjatuhkan, dan menciptakan ketidakstabilan negara demi merebut kendali atas takhta.
7 Tujuan I An Menghapus Sistem Monarki di Ending Perfect Crown

- I An memutuskan menghapus sistem monarki setelah menyadari takhta hanya melahirkan perebutan kekuasaan, intrik politik, dan penderitaan bagi rakyat maupun keluarga kerajaan.
- Keputusan itu juga didorong oleh keinginannya mengurangi beban finansial rakyat serta mengakhiri ketimpangan sosial yang lahir dari garis keturunan bangsawan.
- Dengan menyerahkan keputusan melalui referendum nasional, I An mengembalikan kedaulatan kepada rakyat dan memilih hidup sebagai warga biasa demi kebebasan dan kebahagiaan sejati.
Perfect Crown (2026) akhirnya resmi tamat dengan ending yang emosional sekaligus mengejutkan. Setelah berhasil mendapatkan takhta, I An (Byeon Woo Seok) justru mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya dengan memilih menghapus sistem monarki.
Sejak kecil, I An hidup di tengah intrik politik, perebutan kekuasaan, dan hubungan keluarga yang rusak akibat takhta. Karena itu, menjadi raka terakhir untuk mengakhiri monarki adalah cara untuk menghentikan penderitaan dan melindungi orang-orang yang ia sayangi. Berikut tujuan I An menghapus sistem monarki di Perfect Crown.
1. Menghentikan perebutan kekuasaan

Sepanjang hidupnya, I An menyaksikan bagaimana takhta dan gelar bangsawan menjadi magnet bagi keserakahan manusia. Monarki tidak lagi berfungsi sebagai pelindung rakyat, melainkan pusat intrik politik yang kotor.
2. Mengurangi beban finansial rakyat dan negara

Mayoritas anggaran monarki harus ditanggung rakyat melalui pajak dan dana negara, meski kerajaan tidak lagi memiliki peran nyata dalam pemerintahan. Krisis legitimasi itu semakin terlihat ketika Perdana Menteri Min Jeong Woo memotong dana operasional istana untuk menekan kerajaan secara politik.
Dari situ, I An menyadari bahwa eksistensi monarki sangat rentan dipermainkan untuk kepentingan politik dan justru merugikan rakyat. Karena itu, mempertahankan sistem tradisi yang mahal dan tidak efisien dianggap tidak lagi relevan bagi kesejahteraan publik.
3. Memutus siklus trauma dan penindasan sistemik

Dari sisi personal, I An memandang monarki sebagai penjara emas yang merenggut kemanusiaan para penghuninya. Intrik kekuasaan istana telah memakan banyak korban, mulai dari ibunya, Raja Yi Hwan yang dipaksa menjadi pewaris takhta, hingga Raja kecil Yi Yoon yang kehilangan masa kecilnya karena dijadikan manipulasi simbol politik kerajaan.
Trauma serupa juga mengubah Yoon Yi Rang menjadi sosok haus kekuasaan akibat ambisi politik ayahnya, Lord Inpyeong. Dari situ, I An sadar bahwa monarki tidak hanya melukai rakyat biasa, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga keluarga kerajaan.
4. Mewujudkan kesetaraan dan keadilan sosial

Meski kesetaraan dan keadilan diatur dalam sistem kerajaan, pelaksanaannya tetap dibangun di atas ketimpangan garis keturunan. Selama satu keluarga terus ditempatkan di posisi tertinggi karena darah bangsawan, status seseorang tidak akan pernah benar-benar ditentukan oleh kemampuan atau pilihan hidupnya sendiri.
Kesadaran itu semakin kuat setelah I An melihat kehidupan Seong Hui Ju. Meski sukses membangun namanya sendiri, Hui Ju tetap dipandang berbeda karena berasal dari kalangan rakyat biasa. Status sosial dan aturan kerajaan yang kaku terus menjadi penghalang dalam hidupnya.
5. Mengakhiri belenggu sistem istana

I An sadar bahwa membawa Hui Ju ke dalam sistem istana sama saja dengan merenggut identitas dan kebebasannya demi tunduk pada aturan kerajaan yang kaku. Bagi I An, menjadi keluarga kerajaan berarti kehilangan hak untuk hidup bebas, memilih pasangan, dan bahagia sebagai rakyat biasa.
I An pun menolak mewariskan penderitaan itu kepada generasi berikutnya. Karena itu, Hui Ju memandang keputusan I An membubarkan monarki bukan sebagai pengkhianatan terhadap keluarga kerajaan, melainkan sebagai bentuk revolusi.
6. Mengembalikan kedaulatan kepada rakyat

Meski ditentang keras oleh faksi pro-kerajaan, pejabat kabinet, hingga kalangan bangsawan yang selama ini diuntungkan oleh sistem istana, I An tidak memilih reformasi internal istana sementara, melainkan dekonstruksi total terhadap monarki.
Dengan menyerahkan keputusan akhir melalui referendum nasional, I An ingin membuktikan bahwa rakyatlah pemegang kedaulatan tertinggi. Mayoritas masyarakat akhirnya memilih mengakhiri sistem monarki yang selama ini dianggap mempertahankan ketimpangan sosial dan membatasi kebebasan individu.
7. Memilih kebahagiaan sejati sebagai rakyat biasa

Setelah monarki resmi dibubarkan, seluruh hak istimewa keluarga kerajaan akhirnya dilepaskan. Butuh waktu sekitar tiga tahun hingga I An benar-benar bisa hidup sebagai rakyat biasa, sementara Hui Ju kembali menjalani kehidupannya di Castle Beauty.
Keputusan menghapus monarki menjadi pengorbanan terbesar yang pernah dilakukan I An sebagai raja. Meski tercatat sebagai raja ke-34 sekaligus raja terakhir, I An tetap dikenang melalui gelar King Seong Jo, dengan makna pemimpin yang membawa dinasti menuju akhir yang terhormat dan paripurna.












![[QUIZ] Berdasar Pintu Tol Surabaya yang Dilewati, Ini Member SEVENTEEN yang Dekatimu?](https://image.idntimes.com/post/20260520/upload_7d7836b2b6bec24c83fa8548328afe5a_4b549c36-7306-43b3-8adf-a373edffd4c5.jpg)






