Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Drakor yang Diprotes Keras karena Dianggap Melenceng dari Sejarah
cuplikan adegan Perfect Crown (dok. MBC/Perfect Crown)
  • Lima drama Korea, termasuk Perfect Crown dan Joseon Exorcist, menuai kritik keras karena dianggap mendistorsi sejarah melalui penggambaran budaya, kostum, hingga peristiwa penting yang tidak akurat.
  • Kontroversi terbesar terjadi pada Joseon Exorcist yang dihentikan penayangannya setelah dua episode akibat protes lebih dari 216 ribu penonton terkait elemen budaya China dan penggambaran raja secara negatif.
  • Kasus serupa juga menimpa Queen Woo, Mr. Queen, dan Snowdrop yang dinilai tidak sensitif terhadap konteks sejarah serta memicu permintaan maaf produser hingga petisi penghapusan di platform streaming.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Drama Korea berlatar sejarah memang sering menarik perhatian penonton. Apalagi jika ceritanya terinspirasi atau bahkan diangkat dari peristiwa dan tokoh nyata. Namun, genre ini terbilang cukup tricky bagi para sineas, karena sedikit kesalahan dalam penggambaran sejarah bisa memicu kontroversi besar.

Belakangan ini, Perfect Crown menjadi sorotan usai dikritik karena dugaan distorsi sejarah, terutama menjelang ending. Ternyata, beberapa drakor lain juga sempat menuai protes dari netizen Korea karena tudingan serupa, yaitu dianggap melenceng dari sejarah. Apa saja drakor yang dimaksud? Berikut daftarnya.

1. Perfect Crown (2026)

Byeon Woo Seok di Perfect Crown (dok. MBC/Perfect Crown)

Perfect Crown menjadi drakor terbaru yang menuai kritik soal dugaan distorsi sejarah. Penonton menyoroti adegan penobatan Pangeran Ian (Byeon Woo Seok) yang dianggap terlalu mirip dengan sistem tributary di era Joseon. Di masa tersebut, sistem ini digunakan saat Korea masih menjadi "negara bawahan" China.

Ada beberapa detail yang disorot KNetz. Pertama, Pangeran Ian mengenakan mahkota tradisional bernama Guryumyeongwan di adegan tersebut. Ini merupakan mahkota dengan sembilan untaian manik yang digunakan di era Joseon. Padahal ia harusnya mengenakan mahkota dengan 12 untaian manik.

Kata yang dilontarkan anggota parlemen juga jadi sorotan karena semakin memperkuat kesan era tributary. Mereka harusnya meneriakkan "Manse", bukannya "Cheonse".

Kontroversi tersebut bahkan memicu permintaan maaf dari sutradara dan para pemeran utama drama tersebut. Terakhir, pada Jumat (22/5/2026), muncul pula petisi yang meminta agar Perfect Crown dihapus dari platform streaming. Hingga saat ini, petisi tersebut masih dibuka dan telah mendapatkan lebih dari 31 ribu tanda tangan per hari Minggu (24/2/2026) sore.

2. Joseon Exorcist (2021)

poster drama Joseon Exorcist (instagram.com/sbsdrama.official)

Joseon Exorcist bisa dibilang menjadi kasus kontroversi distorsi sejarah terbesar di industri drama Korea. Di masa penayangannya, drakor ini dikritik karena menampilkan properti, makanan, baju, hingga elemen budaya China dalam latar Dinasti Joseon.

Distorsi sejarah yang ditampilkan tidak cukup sampai di situ. Drakor yang dibintangi Jang Dong Yoon ini juga memiliki adegan di mana Raja Taejong melakukan pembantaian terhadap warga desa karena halusinasinya sendiri. Bukan cuma melenceng, adegan itu juga dianggap menghina mendiang raja.

Kontroversi distorsi sejarah ini berujung sangat fatal. Petisi boikot Joseon Exorcist diisi oleh lebih dari 216 ribu orang. Setelah menuai gelombang protes dan boikot dari KNetz, SBS akhirnya harus menghentikan penayangan drama tersebut padahal baru dua episode.

3. Queen Woo (2024)

poster drama Queen Woo (x.com/tvingdotcom)

Drakor sageuk yang dibintangi Jeon Jong Seo dan Ji Chang Wook ini juga sempat menuai kritik penonton Korea Selatan. Queen Woo diprotes karena dianggap terlalu banyak memodifikasi fakta sejarah demi kepentingan cerita.

Bukan hanya itu, kostum, aksesori, hingga gaya rambut para karakter juga dinilai terlalu mirip dengan Dinasti Qin dari China. Padahal mereka seharusnya menggunakan latar Kerajaan Goguryeo.

Dugaan distorsi sejarah oleh drakor Queen Woo saat itu ramai diperbincangkan. Pasalnya, di saat yang bersamaan, hubungan Korea Selatan dan China sedang memanas usai ada perdebatan mengenai asal-usul kimchi serta hanbok.

4. Mr. Queen (2020)

Poster drama Mr. Queen (dok. tvN/Mr. Queen)

Meski sukses secara rating, Mr. Queen juga sempat diprotes karena dianggap menggambarkan sejarah Joseon yang melenceng. Salah satu kontroversinya muncul setelah drama tersebut menyebut The Annals of the Joseon Dynasty sebagai sekadar "tabloid”. Padahal itu adalah aset budaya Korea Selatan sekaligus warisan UNESCO.

Bukan hanya itu, Mr. Queen juga diadaptasi dari web drama dan novel China, Go Princess Go (2015). Penulis novel tersebut ternyata pernah melontarkan hinaan kepada Korea Selatan. Atas kontroversi ini, produser Mr. Queen pun meminta maaf karena merasa lalai.

5. Snowdrop (2021)

poster drama Snowdrop (dok. JTBC/Snowdrop)

Berbeda dari drama Korea lain di daftar ini, Snowdrop bukan bergenre sageuk. Drakor yang dibintangi Jisoo BLACKPINK dan Jung Hae In ini mengambil latar tahun 1987. Sebagai informasi, tahun tersebut adalah salah satu periode politik paling sensitif di Korea Selatan karena mereka sedang menghadapi pemerintah otoriter.

Kontroversi muncul karena karakter utama pria dalam drama digambarkan sebagai mata-mata Korea Utara yang bersembunyi di tengah gerakan mahasiswa. Padahal pada era 1980-an, pemerintah militer Korea Selatan memang kerap menuduh aktivis demokrasi sebagai mata-mata Korea Utara untuk membenarkan penangkapan dan penyiksaan terhadap mereka.

Tak hanya itu, nama karakter Jisoo awalnya adalah Eun Young Cho, mirip dengan aktivis demokrasi nyata di Korea Selatan, Chun Young Cho. Itulah kenapa, tim produksi menggantinya jadi Eun Young Ro.

Tim produksi Snowdrop dikritik tidak sensitif terhadap para korban dan keluarga yang dirugikan atas kejadian di tahun 1987. Drama ini juga dinilai meromantisasi mata-mata Korea Utara padahal itu adalah isu sensitif yang nyata.

Kontroversi distorsi sejarah memang kerap menjadi isu sensitif dalam industri drama Korea. Netizen setempat dikenal sangat teliti dan menghargai sejarah negaranya, sehingga sedikit kesalahan bisa memicu kritik besar. Karena itu, para sineas dituntut lebih berhati-hati saat mengadaptasi unsur sejarah ke dalam drama Korea.

Editorial Team