Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Film Korea 90-an Underrated, Pelopor Gerakan New Wave
A Hot Roof (dok. Soon Film Company/A Hot Roof)
  • Era 1990-an jadi titik balik sinema Korea Selatan setelah masa sensor panjang, menandai lahirnya genre sosial realisme dan kebebasan berekspresi pasca transisi menuju demokrasi.
  • Enam film seperti The Night Before the Strike, A Single Spark, hingga Art Museum by the Zoo menggambarkan isu sosial, feminisme, dan dinamika kehidupan urban dengan gaya baru yang segar.
  • Karya-karya ini dianggap pelopor gerakan New Wave Korea karena keberanian tematik dan pendekatan sinematiknya yang memengaruhi arah perfilman Korsel modern.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebelum dikenal sebagai salah satu kiblat sinema Asia, sinema Korea Selatan sempat mengalami masa sulit karena sensor. Tepatnya tahun 1970-an sampai 1980-an, sineas Korsel tak bisa benar-benar mengekspresikan pemikiran mereka. Tak pelak, dekade 90-an jadi masa krusial. Untuk pertama kalinya, genre sosial realisme mewarnai sinema Korsel seiring dengan peralihan dari kepempinan autokrasi menuju demokrasi.

Beberapa di antaranya layak disebut trendsetter kalau kita tonton lagi pada masa kini. Kualitas cerita dan relevansinya menginspirasi sinema Korsel sampai sekarang. Sayang, masih banyak yang underrated dan terlupakan, apalagi kalau harus bersaing dengan film Korea yang rilis pada 2000—2010an. Penasaran? Ini setidaknya 6 sinema Korea 90-an yang juga layak disebut penanda dimulainya era gelombang baru dalam perfilman Korea.

1. The Night Before the Strike (1990)

The Night Before the Strike (dok. Little Big Picture/The Night Before the Strike)

The Night Before the Strike mengikuti dinamika dalam sebuah pabrik logam di Korsel yang sedang banjir pesanan. Namun, di balik profit berlimpah itu, ada harga yang harus dibayar. Apalagi kalau bukan tenaga para buruh yang dipaksa bekerja keras dengan upah imut. Tak tahan dengan tekanan yang tak sepadan dengan kompensasi, sebagian buruh mengorganisasi diri dan membentuk serikat. Namun, upaya mereka dihalangi sebagian lain yang takut kena konsekuensi fatal dari upaya ini. Belum lagi, pihak manajemen diam-diam memasang perangkap dan sabotase.

  • Genre: drama, sosial-realisme

  • Pemain: Ko Dong Eob, Uhm Kyung Hwan

  • Sutradara: Jang Dong Hong, Lee Jae Gu, Chang Yoon Hyun

2. A Single Spark (1995)

A Single Spark (dok. CJ Entertainment/A Single Spark)

Masih seputar kondisi kerja tak layak, kali ini kamu akan diajak menyelami kehidupan dua orang sekaligus. Mereka adalah Kim, aktivis yang sedang menulis sebuah buku biografi tentang buruh pabrik garmen. Tae Il adalah nama sang buruh. Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya tahun 1970, Tae Il membakar dirinya hidup-hidup sebagai bentuk protes atas ketidakadilan yang ia terima. Kim sendiri masih hidup di pertengahan tahun 70-an yang membuatnya juga jadi sasaran aparat karena dianggap terlalu kritis.

  • Genre: drama, realisme

  • Pemain: Hong Kyoung-in, Moon Sung-keun

  • Sutradara: Park Kwang Su

3. A Hot Roof (1995)

A Hot Roof (dok. Soon Film Company/A Hot Roof)

A Hot Roof mungkin salah satu film yang memelopori pelibatan nilai feminisme dalam sinema Korea. Film ini berlatarkan sebuah komplek apartemen yang dihuni belasan unit rumah tangga. Pada satu musim panas, suara teriakan seorang perempuan memecah keheningan. Mereka menyaksikan seorang suami sedang menganiaya dan menyeret istrinya yang sudah babak belur. Namun, tak ada satu pria pun yang bergerak membantu. Geram dengan itu, para perempuan justru yang bergerak dan balik memukuli si pelaku KDRT hingga terluka parah. Di sinilah polisi datang dan hendak membawa para pelaku pengeroyokan ke kantor polisi. Namun, para pelaku yang semuanya perempuan tadi kabur ke atap apartemen dan membuat barikade.

  • Genre: drama, satir

  • Pemain: Ha Yu Mi, Jung Sun Kyung

  • Sutradara: Lee Min Yong

4. The Day a Pig Fell Into the Well (1996)

The Day a Pig Fell Into the Well (dok. ASC Distribution/The Day a Pig Fell Into the Well)

Dikenal lewat film-film dramanya yang kompleks, Ho Sang Soo ternyata debut lewat film Korea 90-an berjudul The Day a Pig Fell Into the Well. Film berorbit pada Hyo Sub, penulis yang hidup tanpa kejelasan. Apalagi kalau kita tilik masalah percintaannya. Hyu Sob punya dua pacar, salah satunya sudah menikah. Namun, di sisi lain, ia masih saja mengincar perempuan baru. Film memang tak fokus pada Hyu Sob, tetapi juga pernikahan anyep salah satu kekasihnya, Po Kyong, serta petualangan kekasih satunya, Min Jae. Kompleks dan berlapis, ga ada sosok bak malaikat di film ini.

  • Genre: drama, romance

  • Pemain: Kim Yui Seong, Lee Eung Kyung

  • Sutradara: Ho Sang Soo

5. No. 3 (1997)

No. 3 (dok. Third Window Films/No. 3)

No. 3 adalah film noir yang mengikuti Tae Ju, seorang anggota geng yang sudah belasan tahun melakoni profesi berisiko itu. Satu hari, setelah menyelamatkan hidup bosnya, Tae Ju dapat kesempatan promosi. Ia dapat posisi pemimpin tertinggi ketiga di geng itu. Namun, Tae Ju gak puas dan berniat untuk merebut posisi teratas. Oldboy (2003) memang memasang standar tinggi dalam film kriminal Korsel, tetapi No. 3 adalah salah pelopor yang tak seharusnya dilupakan.

  • Genre: noir, satir

  • Pemain: So Kang Ho, Choi Min Sik

  • Sutradara: Song Neung Han

6. Art Museum by the Zoo (1998)

Art Museum By The Zoo (dok. Mirovision Inc./Art Museum By The Zoo)

Forced cohabitation atau terpaksa tinggal di satu atap yang sama adalah trope yang berkali-kali dipakai dalam film Korsel. Namun, Art Museum by the Zoo bisa jadi pelopornya. Film Korsel 90-an itu berlakonkan seorang pemuda yang baru saja selesai melakoni wajib militer. Ia pulang ke rumah kekasihnya, tetapi justru mendapati rumah itu ditempati perempuan lain. Sempat bertengkar, mereka akhirnya terpaksa menerima keberadaan satu sama lain karena keterbatasan biaya untuk menyewa apartemen terpisah.

  • Genre: drama, romance, coming of age

  • Pemain: Lee Sung Jae, Shim Eun Ha

  • Sutradara: Lee Jeong Hyang

Dekade 90-an memang istimewa. Ada banyak hal seru yang terjadi dan tercipta saat itu. Berbagai gejolak politik pun memengaruhi industri hiburan, termasuk Korsel. Sinefil harus nonton film-film tadi, nih.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article