3 Film Sejarah Korea di Tahun 2026, Sambut Hari Kemerdekaan!

- Korea Selatan memperingati Gwangbokjeol setiap 15 Agustus sebagai penanda berakhirnya penjajahan Jepang pada 1945, sementara tiga film sejarah hadir sepanjang 2026.
- The King's Warden, yang meraih lebih dari 16 juta penonton, mengisahkan pengasingan Raja Danjong pada 1457 serta ikatannya dengan kepala desa Eom Heung Do.
- My Name menghubungkan trauma Tragedi Jeju 4.3 dengan pencarian identitas remaja, sedangkan Canvas of Blood mengangkat konflik Pangeran Suyang dan Anpyeong menjelang Kudeta Gye Yu 1453.
Berbeda dua hari dengan Indonesia, hari kemerdekaan Korea Selatan diperingati setiap tanggal 15 Agustus dan dikenal sebagai Gwangbokjeol atau Hari Pembebasan Nasional. Sama seperti Indonesia, tanggal ini juga menandai berakhirnya penjajahan Jepang pada tahun 1945, yang telah berlangsung selama 35 tahun.
Untuk menghargai sejarah, Korea Selatan juga menjadi salah satu negara yang kerap menggarap film tentang sejarah mereka. Seperti di tahun 2026 ini, ada beberapa film sejarah yang dirilis dan bahkan berhasil meraih penonton hingga belasan juta lebih. Sambut hari kemerdekaan, berikut ini tiga film sejarah Korea yang tayang di tahun 2026.
1. The King's Warden

Film The King’s Warden (dok. Showbox/The King’s Warden) Sukses meraih hingga 16 juta lebih penonton, The King's Warden mengambil latar tahun 1457, dan berfokus pada Raja Danjong (Park Ji Hoon), yang naik takhta saat berusia 12 tahun. Namun, masa jabatannya berlangsung singkat karena pamannya merebut kekuasaan dan memaksa Danjong turun tahta. Setelah itu, ia diasingkan ke wilayah terpencil Cheongnyeongpo, Yeongwol, Provinsi Gangwon. Dalam keterasingan itu, nasib Danjong semakin terpuruk karena terpisah dari istana dan orang-orang terdekatnya.
Danjong pun harus menghadapi kenyataan pahit sebagai mantan raja yang perlahan dilupakan sejarah. Lalu, ada sosok Eom Heung Do (Yoo Hae Jin), kepala desa setempat yang secara sukarela menjadikan desanya sebagai tempat pengasingan sang raja. Seiring waktu, hubungan antara Eom Heung Do dan Danjong berkembang menjadi ikatan yang tak terduga. Ia tidak hanya berperan sebagai penjaga wilayah, tetapi juga menjadi pelindung dan figur penghubung kemanusiaan bagi Danjong yang rapuh dan kesepian.
2. My Name

Film My Name (dok. CGV/My Name) Selanjutnya, ada film My Name yang menyoroti trauma mendalam dari peristiwa kelam Sejarah Tragedi Jeju 4.3 melalui kisah pencarian identitas seorang remaja. Film ini berpusat pada Lee Young Ok (Shin Woo Bin), seorang remaja laki-laki berusia 18 tahun yang merasa terbebani oleh namanya yang terdengar seperti nama perempuan. Keinginannya untuk mengganti nama justru membawanya pada penemuan mengejutkan tentang masa lalu sang ibu, Choi Jeong Sun (Yeom Hye Ran).
Saat Young Ok menggali asal-usul namanya, ia perlahan membuka memori lama yang terkubur selama puluhan tahun. Dengan alur maju-mundur, film ini menghubungkan trauma Jeong Sun pada tahun 1948-1949 dengan kehidupan sekolah Young Ok pada tahun 1998. Sutradara Chung Ji Young juga menunjukkan bagaimana kekerasan sejarah dapat berulang dalam bentuk lain, seperti perundungan di sekolah.
3. Canvas of Blood

Film Canvas of Blood (Plus M Entertainment/Canvas of Blood) Lalu, ada juga film Canvas of Blood yang rencananya akan tayang pada akhir tahun 2026. Film Canvas of Blood menyoroti konflik kekuasaan antara dua putra Raja Sejong yakni Pangeran Suyang (Kim Nam Gil) dan Pangeran Anpyeong (Park Bo Gum). Pangeran Suyang yang ambisius dan Pangeran Anpyeong yang idealis mulai memiliki ambisi dan mimpi yang berbeda terkait masa depan kerajaan mereka.
Mimpi utopis Pangeran Anpyeong yang diwujudkan dalam lukisan Dream Journey to the Peach Blossom Land (Mongyudowondo) karya pelukis An Gyeon memecah persaudaraan mereka yang berujung pada perebutan takhta. Film ini akan mengambil latar belakang Kudeta Gye Yu pada 1453, peristiwa politik penting di mana Pangeran Suyang menggulingkan pendukung Raja Danjong untuk merebut takhta.
Adanya film yang mengangkat tentang sejarah tentu membuat masyarakat menjadi tahu tentang sejarah bangsanya sendiri. Di Korea Selatan sendiri, biasanya film-film sejarah memang mendapat respons positif dan kerap mendapat penonton hingga jutaan.




















