Isu Patriarki yang Diangkat dalam Drakor A Bona Fide Killer

- A Bona Fide Killer mengikuti Yoo Bo Na, istri dan ibu yang diam-diam beridentitas penembak runduk pemburu kriminal, sembari menghadapi isu patriarki dalam kehidupan sehari-hari.
- Drama menyoroti stigma terhadap ibu bekerja yang dianggap egois atau lalai, padahal mereka menghadapi beban ganda mengurus anak, rumah, dan pekerjaan.
- Pengasuhan serta pekerjaan rumah digambarkan kerap dibebankan kepada istri; drama juga menampilkan preferensi anak laki-laki melalui sikap mertua Yoo Bo Na.
A Bona Fide Killer membahas lika-liku kisah Yoo Bo Na (Gong Hyo Jin). Ia dikenal sebagai istri dan ibu yang berdedikasi. Namun, ia menyimpan identitas rahasia sebagai penembak runduk yang menembak mati kriminal.
Drakor A Bona Fide Killer mengusung genre action. Meski begitu, cerita di dalamnya juga sarat menyinggung berbagai isu patriarki, terutama berkaitan dengan kehidupan Yoo Bo Na sebagai perempuan. Yuk, simak!
1. Konflik peran hingga stigma bagi ibu yang bekerja

Gong Hyo Jin di A Bona Fide Killer (dok. MBC/A Bona Fide Killer) Salah satu isu patriarki yang cukup kencang disinggung dalam drakor ini berkaitan dengan ibu yang bekerja. Di episode awal, hal ini tampak dari respon mertua Yoo Bo Na dan ibu-ibu lain yang anaknya satu TK dengan Kwon Yul (Hwang Bom I). Mereka menunjukkan adanya stigma negatif mengenai ibu yang juga bekerja di luar rumah.
Ibu yang bekerja dianggap egois dan lalai dengan tugas mengurus anak. Di sisi lain, ibu itu sendiri harus menghadapi beban ganda setelah kembali bekerja. Mereka merawat anak dan mengurus rumah sambil sibuk bekerja. Karena itu, dibutuhkan dukungan dari keluarga seperti yang ditunjukkan suami dan adik ipar Yoo Bo Na.
2. Pembagian tugas pengasuhan anak dibebankan pada ibu

cuplikan drama A Bona Fide Killer (dok. MBC/A Bona Fide Killer) Yoo Bo Na disebut beruntung dan bikin iri ibu-ibu di drakor ini sebab sang suami, Kwon Tae Seong (Jung Joon Won) turut aktif dalam mengasuh anak mereka. Kwon Tae Seong juga mengerjakan tugas rumah tangga, terutama saat Yoo Bo Na sibuk.
Mendapatkan suami seperti Kwon Tae Seong dinilai sebagai privilese dan keberuntungan bagi Yoo Bo Na. Pasalnya, ibu-ibu tadi mengeluhkan suami mereka enggan membantu mengurus rumah ataupun merawat anak. Semua tugas ini dibebankan pada istri. Di sisi lain, para suami ini hanya menuntut, bahkan ada yang minta untuk punya anak kedua.
3. Anak laki-laki dianggap lebih berharga dari anak perempuan

cuplikan drama A Bona Fide Killer (dok. MBC/A Bona Fide Killer) Sikap patriarki ibu mertua Yoo Bo Na sempat bikin penonton drakor A Bona Fide Killer emosi. Pasalnya, Ok Sun Ja (Cha Mi Kyung) hanya, memanjakan putranya, Kwon Tae Seong. Sementara, sikapnya jutek pada ketiga putrinya, apalagi terhadap Yoo Bo Na.
Ia beranggapan memasak dan membersihkan rumah adalah urusan perempuan. Karena itu, ia marah besar sampai murka saat melihat Kwon Tae Seong menyiapkan makanan dan mencuci piring. Untungnya, mendekati ending, sikapnya berubah jadi jauh lebih positif.
Ketiga isu patriarki di atas cukup dibahas dalam drakor A Bona Fide Killer. Hal ini bikin cerita drama Korea ini tak hanya membahas vigilante, tapi juga berbagai stigma dan diskriminasi terhadap perempuan yang sering terjadi di dunia nyata.





















