Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Karakter Positif Choi Jeong Yo di Four Hands, Two Sonatas, Tulus?

3 min read
4 Karakter Positif Choi Jeong Yo di Four Hands, Two Sonatas, Tulus?
Cuplikan drakor Four Hands, Two Sonatas (dok.tvN/Four Hands, Two Sonatas)
  • Choi Jeong Yo menghadapi kematian ibunya, utang ayah, dan penolakan keluarga, tetapi tetap bekerja keras serta bertahan sejak kecil.
  • Ketulusannya terlihat saat ia kembali mengikuti kompetisi piano dunia demi membantu Kang Pi O mengatasi demam panggung dan bangkit.
  • Jeong Yo menjadi teman yang total dan menghargai Pi O, sambil membangun daya juang hingga berhasil menjadi konduktor musik terkemuka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Choi Jeong Yo (Lee Jun Young) punya kehidupan yang sangat keras di drakor Four Hands, Two Sonatas (2026). Dia lahir di sebuah keluarga yang sangat biasa. Ayahnya punya sebuah reparasi piano klasik di sudut pasar. Ibunya bermain piano, namun memilih berhenti.

Choi Jeong Yo dikenalkan pada piano oleh ibunya dengan membeli teks lagu bekas. Choi Jeong Yo berhenti mengikuti kompetisi piano setelah ibunya meninggal dunia. Setelah itu, hidupnya juga gak mudah untuk dihadapi karena utang ayahnya pada rentenir. Namun, berbagai masalah ini gak membuat Choi Jeong Yo berubah. Lalu, apa saja karakter positif Choi Jeong Yo di drakor Four Hands, Two Sonatas?

Peringatan, artikel ini mengandung spoiler!

  1. 1. Tulus

    Cuplikan drakor Four Hands, Two Sonatas
    Cuplikan drakor Four Hands, Two Sonatas (dok.tvN/Four Hands, Two Sonatas)

    Setelah ibunya meninggal dunia, Choi Jeong Yo harus hidup bekerja keras demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar hutang ayahnya. Sekalipun begitu, Choi Jeong Yo seakan gak punya sisi terpuruk selama menjalani harinya. Kehidupannya juga mulai berkembang setelah pindah sekolah dan bertemu dengan Kang Pi O (Song Kang).

    Ketulusan Choi Jeong Yo ini semakin terlihat setelah Kang Pi O membantunya menghadapi demam panggung parah. Bahkan, Choi Jeong Yo mengikuti kompetisi dunia, yang sebelumnya gak pernah ingin dilakukan, untuk membantu Kang Pi O bangkit. Langkah ini jelas membuktikan ketulusan Choi Jeong Yo pada orang lain yang telah menolongnya tanpa pamrih.

  2. 2. Totalitas dalam berteman

    Cuplikan drakor Four Hands, Two Sonatas
    Cuplikan drakor Four Hands, Two Sonatas (dok.tvN/Four Hands, Two Sonatas)

    Choi Jeong Yo dan Kang Pi O bertemu ketika mengikuti kompetisi pianis junior. Saat itu, Choi Jeong Yo kehilangan sesuatu dan meminjam Kang Pi O. Ketika bertemu lagi, Choi Jeong Yo punya kesempatan untuk mengenal Kang Pi O. Perkenalan ini membuat Choi Jeong Yo sadar jika Kang Pi O mengalami hidup yang gak mudah. 

    Rasa putus asa Kang Pi O yang diceritakan dengan sangat terbuka ini membuat Choi Jeong Yo berusaha membantunya. Dia gak ingin sahabatnya tersebut selalu terpuruk dengan segala perasaannya ini. Gak hanya itu, dia bahkan berusaha membantu Kang Pi O untuk bisa berdiri dengan percaya diri.

  3. 3. Menghargai orang lain

    Cuplikan drakor Four Hands, Two Sonatas
    Cuplikan drakor Four Hands, Two Sonatas (dok.tvN/Four Hands, Two Sonatas)

    Sepanjang hidupnya, Choi Jeong Yo gak pernah diprioritaskan oleh ayahnya. Setelah sang ibu meninggal dunia, sang ayah mengabaikan anak 10 tahun yang berusaha tumbuh sendirian. Dia bekerja keras untuk bisa melanjutkan hidupnya sekalipun gak dihargai ayahnya sendiri.

    Setelah bertemu Kang Pi O, Choi Jeong Yo seakan mendapatkan sosok yang bisa memahaminya. Sayangnya, Kang Pi O terlalu rumit bagi Choi Jeong Yo yang sangat berterus terang. Kondisi dan situasi ini gak membuat Choi Jeong Yo menyerah menjadi teman Pi O. Dia tetap berusaha menghargai sosok Pi O yang kerap bersikap sangat berbeda di hadapannya.

  4. 4. Punya daya juang tinggi

    Cuplikan drakor Four Hands, Two Sonatas
    Cuplikan drakor Four Hands, Two Sonatas (dok.tvN/Four Hands, Two Sonatas)

    Setelah ibunya meninggal dunia, Choi Jeong Yo harus hidup berdua dengan ayahnya yang merupakan tukang reparasi piano klasik. Sayangnya, masalah keluarga membuat ayahnya sadar jika Choi Jeong Yo bukan darah dagingnya. Kondisi ini membuat ayahnya membenci Jeong Yo dan mulai menjadi pecandu alkohol.

    Kondisi ini jelas bukan hidup ideal bagi seorang anak berusia 10 tahun. Namun, Choi Jeong Yo masih berupaya untuk bertahan hidup dan membayar hutang ayahnya. Dia rela bekerja serabutan di pasar untuk memenuhi kebutuhannya ini. 

    Makanya, bukan hal yang mengejutkan jika Choi Jeong Yo berhasil menjadi konduktor musik terkemuka sekalipun gak punya banyak dukungan. Namun, setelah 9 tahun pergi, apakah karakter Choi Jeong Yo akan berubah?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More