Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Dating Show Korea Kini Lebih Bikin Baper Daripada KDrama?

Kenapa Dating Show Korea Kini Lebih Bikin Baper Daripada KDrama?
potret cast Single's Inferno 5 (x.com/NetflixKR)
Share Article

Awalnya, formula drama Korea dengan cerita fiksinya selalu berhasil menjadi standar hiburan para penggemar. Kisah cinta CEO tampan dan karyawan biasa, atau musuh bebuyutan yang berakhir saling jatuh cinta, selalu sukses membuat penonton tersenyum sendiri.

Namun, belakangan ini, ada pergeseran besar dalam kebiasaan menonton. Takhta drakor perlahan digeser oleh gempuran dating show yang menjamur di berbagai stasiun televisi dan platform streaming. Pertanyaannya, kenapa melihat kisah cinta orang biasa atau yang tidak dibintangi aktor-aktris kelas A, sekarang justru sukses membuat penonton jauh lebih baper dan frustrasi?

1. Titik mula ledakan, dari observasi halus ke sensasi visual

poster dating show Single's Inferno 5
poster dating show Single's Inferno 5 (x.com/NetflixKR)

Untuk memahami fenomena ini, kita harus melihat bagaimana dating show Korea berevolusi. Semuanya tidak terjadi dalam semalam. Tren ini sebenarnya mulai menemukan bentuk modernnya melalui acara seperti Heart Signal beberapa tahun silam. Heart Signal mengubah format dating show jadulnya menjadi tontonan estetik layaknya drama. Fokusnya ada pada observasi micro-expression, bagaimana lirikan mata, pesan teks rahasia, dan interaksi canggung di dapur bersama bisa memicu romansa.

Ledakan global kemudian terjadi ketika Netflix merilis Single's Inferno. Acara ini membawa dating show Korea ke level yang lebih berani dan kebarat-baratan. Mengandalkan visual memukau para pesertanya dan aturan ketat di pulau terpencil, Single's Inferno membuktikan bahwa dating show Korea bisa menjual pesona fisik dan drama percintaan yang intens tanpa kehilangan sentuhan emosional khas budaya Asia.

2. Evolusi menuju realitas yang menyakitkan

poster dating show Transit Love 4
poster dating show Transit Love 4 (x.com/tvingdotcom)

Setelah pasar menyadari bahwa penonton menyukai formula ini, dating show pun menjamur bak jamur di musim hujan. Namun, penonton cepat bosan dengan format orang-orang cantik dan tampan yang saling menggoda. Produser akhirnya memutar otak untuk menyajikan sesuatu yang lebih raw atau mentah dan nyata.

Di sinilah era Transit Love atau EXchange mengubah peta permainan. Alih-alih membawa orang asing, acara ini memaksa para peserta untuk tinggal serumah dengan mantan kekasih mereka sambil mencoba berkencan dengan orang baru. Menonton seseorang menangis diam-diam melihat mantannya menggandeng orang lain adalah jenis rasa sakit yang tidak bisa ditulis oleh penulis naskah mana pun.

Evolusi ini terus meluas dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Ada Better Late than Single yang memberikan harapan bagi mereka yang belum pernah berpacaran di usia dewasa. Lalu ada My Sibling's Romance, di mana campur tangan dan dinamika keluarga, yaitu kakak-adik menjadi bumbu utama.

Hingga kini, trennya pun akhirnya sudah mencapai tahap ekstrem dan eksperimental, seperti My Remaining Love atau Love Against Time yang mempertemukan penyintas penyakit mematikan. Lalu ada juga The Love Lab yang menggunakan pendekatan eksperimen psikologis untuk membedah insting cinta manusia.

3. Apa sebenarnya yang dijual sampai bikin penonton baper maksimal?

poster dating show Love Against Time
poster dating show Love Against Time (x.com/SBSNOW)

Mengapa dinamika acara-acara di atas terasa lebih memukul emosi penonton dibandingkan KDrama dengan budget miliaran won? Berikut adalah analisis daya jual utamanya!

  • Ketidakpastian yang 100 persen nyata atau unscripted vulnerability. Dalam KDrama, sebaik apa pun akting sang aktor, alam bawah sadar kita tahu bahwa akan ada akhir yang bahagia atau setidaknya sudah diatur. Di dating show, rasa cemburu, penolakan, rasa tidak aman atau insecurity, dan kebingungan yang terekam kamera adalah murni. Saat seorang peserta menangis karena perasaannya tidak berbalas, rasa sakitnya menembus layar karena itu adalah realita.
  • Efek bercermin pada cast. Cast di dating show bukanlah pangeran berkuda putih yang sempurna. Mereka egois, kadang red flag, plin-plan, atau terlalu naif. Ironisnya, ketidaksempurnaan inilah yang membuat penonton relate. Kita melihat cerminan diri kita sendiri, teman kita, atau bahkan mantan kita dalam diri para peserta.
  • Voyeurisme psikologis yang dilegalkan. Format panelis selebriti yang mengomentari tingkah peserta membuat penonton merasa sedang bergosip bersama teman. Kita diajak menjadi detektif cinta, menganalisis bahasa tubuh, dan menebak-nebak isi hati manusia lain. Keterlibatan mental inilah yang membuat rasa baper tertinggal lama bahkan setelah episode berakhir.
  • Pergeseran dari fantasi visual ke ikatan trauma atau trauma bonding. Penonton kini haus akan kedalaman emosi. Acara seperti Love Against Time tidak lagi sekadar menjual siapa yang paling tampan, melainkan siapa yang memiliki empati terdalam. Ketika peserta membagikan rasa sakit terdalam mereka seperti penyakit atau trauma masa lalu, penonton tidak sekadar menonton acara kencan, melainkan menyaksikan penyembuhan jiwa manusia.

Program dating show Korea sukses mencuri hati karena mereka berhenti mencoba membuat kisah cinta yang sempurna. Sebaliknya, mereka menyajikan betapa berantakannya, menyakitkannya, dan membingungkannya cinta di dunia nyata, dan anehnya, justru di situlah letak keindahan yang paling membuat kita sulit move on. Nah, apakah kalian termasuk yang juga mulai nonton acara kencan realitas atau masih bertahan hanya menyaksikan KDrama, nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More