Kenapa Doctor on the Edge Bukan Drakor Medis Biasa?

- Doctor on the Edge menyoroti kehidupan dokter Do Ji Ui di pulau terpencil Pyeondong-do yang hanya dihuni lansia dan memiliki akses terbatas terhadap kebutuhan dasar.
- Drama ini mengangkat isu sosial masyarakat kecil, seperti penyakit kronis pada lansia, sulitnya akses transportasi, serta keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah terpencil.
- Kisahnya juga menjadi kritik terhadap pemerintah terkait minimnya dukungan bagi tenaga medis dan pembangunan infrastruktur kesehatan yang justru menimbulkan masalah baru.
Drakor Doctor on the Edge (2026) menceritakan tentang seorang dokter bedah plastik, Do Ji Ui (Lee Jae Wook), yang ditugaskan di sebuah wilayah salah satu pulau bernama Pyeondong-do. Pyeondong-do sendiri merupakan wilayah kecil di sudut pulau yang hanya bisa diakses menggunakan kapal feri. Wilayah ini dihuni oleh beberapa masyarakat yang umumnya lansia dan bekerja sebagai nelayan.
Di Pyeondong-do, Do Ji Ui bertemu dengan seorang perempuan, Yuk Ha Ri (Shin Ye Eun), yang berprofesi sebagai perawat. Selain itu, Do Ji Ui juga bertemu dengan berbagai nakes yang bekerja di puskesmas Pyeondong-do. Namun, apa yang menyebabkan drakor Doctor on the Edge bukan drakor medis biasa?
1. Menggambarkan dinamika sosial masyarakat terpencil

Seperti yang sudah dijelaskan, Pyeondong-do berada di sebuah pulau yang hanya bisa diakses menggunakan kapal feri selama beberapa jam. Pulau ini hanya dihuni oleh para lansia yang berprofesi sebagai nelayan. Para anak mudanya lebih banyak memilih untuk pindah bekerja di kota besar dan meninggalkan kampung halamannya.
Dikarenakan akses yang terbatas, masyarakat pulau ini gak mendapatkan banyak bahan baku yang lengkap sehingga mengandalkan berbagai bahan baku sederhana. Gak hanya itu, minimarket di pulau ini juga menjual berbagai makanan ringan sederhana yang gak cukup lengkap. Makanya, Do Ji Ui cukup terkejut dengan kondisi serba terbatas untuk masyarakat setempat bertahan hidup.
2. Mengangkat isu sosial yang dihadapi masyarakat kecil

Dengan minimnya akses dan anak muda, para lansia di pulau ini umumnya mengidap penyakit kronis yang butuh pengawasan ekstra. Mereka gak pernah mendengarkan keluhan badan mereka sehingga penyakit yang mereka derita gak tertangani dengan baik. Bahkan, para lansia ini umumnya mengkonsumsi obat untuk bertahan hidup.
Gak hanya itu, akomodasi dan beberapa tempat yang ada di pulau ini gak bisa diakses secara mudah. Mereka bahkan harus menaiki bukit untuk mencapai rumah mereka. Sayangnya, lingkungan ini jelas gak bisa dihadapi dengan mudah oleh lansia yang gerak tubuhnya terbatas.
3. Realitas kehidupan nakes di tempat kecil

Pekerja kesehatan, seperti dokter dan perawat, harus bekerja di sebuah puskesmas yang fasilitasnya sangat minim. Mereka harus bekerja dengan berbagai alat pemeriksaan kuno yang gak pernah diperbarui. Pada akhirnya, para dokter yang bertugas harus puas dengan kondisi tersebut sekalipun mereka berkali-kali berusaha untuk meminta dana pada pemerintah.
Sayangnya, realita yang ada juga gak kalah miris. Para dokter di puskesmas ini umumnya hanya bekerja selama setahun saja. Mereka yang ditugaskan juga merupakan para dokter dalam masa wajib militernya. Nakes yang bekerja resmi di pulau ini hanya beberapa perawat saja. Hal ini membuktikan jika para dokter memang gak tertarik untuk bekerja dan tinggal di tempat terpencil dalam jangka waktu lama.
4. Kritik pada pemerintah

Selain fasilitas yang kurang memadai, puskesmas Pyeondong-do ini juga gak punya fasilitas pemeriksaan yang minim. Penanganan luka kecil di puskesmas ini umumnya juga membutuhkan mesin rontgen. Sayangnya, para pasien gak bisa ditangani secara langsung karena keterbatasan ini.
Namun, isu politik mendekati pemilihan kepala daerah menjadi cukup sensitif. Gubernur yang akan maju dalam pemilihan daerah malah menyoroti penggunaan helikopter medis yang digunakan dalam penanganan darurat. Sayangnya, para nakes yang bekerja malah merasa jika lapangan pendaratan helikopter ini masih layak untuk digunakan.
Pembongkaran dan pembangunan ulang malah menghabiskan biaya yang sangat besar. Gak hanya itu, proses pembangunan yang dipaksa dalam waktu singkat malah memakan korban. Beberapa pekerja malah harus kecelakaan dan mengalami luka serius.
Keempat aspek di atas membuktikan jika drakor Doctor on the Edge ini cukup berbeda dengan drakor medis lainnya. Mereka bahkan dengan berani menggambarkan situasi medis yang dialami oleh masyarakat kepulauan dengan minim fasilitas.


















