Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Film Korea The Assassin(s) Dianggap Mendistorsi Sejarah?

3 min read
Kenapa Film Korea The Assassin(s) Dianggap Mendistorsi Sejarah?
cuplikan film Assassins (instagram.com/hivemedia_corp)
  • The Assassin(s) memuncaki box office Chuseok, tetapi sutradara Hur Jin Ho dan tim produksi dilaporkan ke polisi Seoul atas tuduhan pencemaran nama baik serta penyebaran informasi palsu.
  • Pelapor menilai film menggiring persepsi bahwa insiden penembakan 1974 melibatkan kekuasaan negara atau Park Chung Hee, berbeda dari penyelidikan resmi yang menyebut Mun Se Gwang pelaku tunggal.
  • Tim produksi membantah distorsi sejarah, menyebut peristiwa 1974 sebagai rekonstruksi dengan imajinasi sinematik, serta menepis tuduhan pendanaan China dan menegaskan modal domestik Korea Selatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Film Korea Selatan bertajuk The Assassin(s) yang dibintangi oleh Yoo Hae Jin, Park Hae Il, dan Lee Min Ho sukses memuncaki box office selama libur Chuseok. Namun di balik kesuksesan komersialnya, film garapan sutradara Hur Jin Ho ini justru terancam masalah hukum.

Pasalnya, sang sutradara dan tim produksi telah dilaporkan ke Kepolisian Metropolitan Seoul oleh Lee Jong Bae, mantan anggota Dewan Metropolitan Seoul dari People Power Party (PPP). Langkah hukum ini diambil atas tuduhan pencemaran nama baik dan penyebaran informasi palsu terkait penggambaran insiden penembakan Ibu Negara Yuk Young Soo pada tahun 1974. Nah, kenapa film The Assassin(s) dianggap mendistorsi sejarah?

  1. 1. Tudingan konspirasi dan pemutarbalikan fakta 1974

    poster film Assassins
    poster film Assassins (instagram.com/hivemedia_corp)

    Pemicu utama tuduhan distorsi sejarah ini berakar pada cara film The Assassin(s) menggambarkan insiden nyata percobaan pembunuhan Presiden Park Chung Hee pada upacara Hari Kemerdekaan 15 Agustus 1974. Berdasarkan hasil penyelidikan resmi saat itu, pelaku tunggal Mun Se Gwang bertindak atas perintah Pyongyang.

    Namun, film tersebut mengusung premis bahwa Mun tak bergerak sendiri. Menurut pelapor, penggunaan judul bentuk jamak Assassin(s) serta susunan adegan di dalamnya sengaja menggiring opini publik mengenai keterlibatan badan kekuasaan negara, hingga memunculkan persepsi keliru seolah-olah mantan Presiden Park Chung Hee sendiri yang berada di balik kejahatan tersebut.

  2. 2. Klarifikasi tim produksi soal imajinasi sinematik

    cuplikan film Assassins
    cuplikan film Assassins (instagram.com/hivemedia_corp)

    Menanggapi gelombang kritik tersebut, tim produksi The Assassin(s) secara tegas menolak klaim bahwa mereka telah mendistorsi sejarah. Pihak pembuat film menjelaskan bahwa karya ini gak bermaksud untuk menetapkan kesimpulan sejarah baru ataupun membantah fakta-fakta yang ada.

    Peristiwa tahun 1974 digunakan murni sebagai motif utama yang direkonstruksi dengan memadukan imajinasi sinematik ke dalam catatan sejarah. Mereka menegaskan bahwa tidak ada bagian dalam film yang menetapkan individu tertentu sebagai dalang utama atau menyajikan setting dramatis tersebut sebagai fakta sejarah resmi.

  3. 3. Bantahan tegas atas isu mendapat modal dari China

    poster film Assassins
    poster film Assassins (instagram.com/hivemedia_corp)

    Selain perdebatan mengenai isi cerita, film ini juga diterpa isu di komunitas online yang menuduh adanya aliran investasi modal dari China. Rumah produksi Hive Media Corp langsung membantah keras klaim tersebut dan menegaskan bahwa The Assassin(s) direncanakan dan diproduksi secara independen dengan modal domestik Korea Selatan. Pihak studio menyatakan tetap menghormati perbedaan kritik masyarakat, namun berharap informasi yang tidak benar mengenai pendanaan dan produksi film ini tak semakin disebarluaskan.

    ​Kontroversi yang menimpa The Assassin(s) memperlihatkan ketegangan yang sering terjadi antara batas kebebasan imajinasi sinematik dan sensitivitas rekam jejak sejarah politik. Kasus ini menjadi perhatian publik mengenai sejauh mana sebuah karya boleh memadukan catatan fakta dengan rekaan cerita tanpa memicu distorsi di tengah masyarakat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More