Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kepercayaan Korea–Jepang di The Shrine yang Bikin Terasa Nyata
The Shrine (dok. mystery pictures/The Shrine)
  • Film horor Korea–Jepang berjudul The Shrine (2026) menampilkan Jaejoong sebagai shaman Myung Jin yang menyelidiki hilangnya mahasiswa di kuil terbengkalai Kobe.
  • Cerita film menggabungkan kepercayaan Korea dan Jepang seperti kamikakushi, Rakshasa, ritual gut, jeoju, hingga tradisi omikuji untuk memperkuat nuansa mistisnya.
  • Melalui lima unsur budaya tersebut, The Shrine menghadirkan kisah okultisme lintas negara yang terasa autentik dan memperdalam atmosfer horor spiritual dalam film.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Siapa yang suka nonton film horor? The Shrine (2026) masuk dalam daftar film yang baru tayang di layar lebar di Indonesia pada Jumat (10/7/2026). Film kolaborasi Korea–Jepang itu dibintangi oleh Jaejoong dan disutradarai oleh Kazuyoshi Kumakiri.

Kisahnya tentang okultisme dan praktik shamanisme Korea. Jaejoong didapuk sebagai dukun atau shaman bernama Myung Jin yang menyelidiki serangkaian hilangnya mahasiswa secara misterius di kuil terbengkalai di Kobe. Ia harus mengungkap entitas jahat tersebut, tetapi juga terperangkap dalam bayang-bayang masa lalu.

Meski berfokus pada praktik shamanisme Korea, sejumlah kepercayaan Jepang pun turut menjadi bumbu film tersebut. Daripada penasaran, berikut ini beberapa kepercayaan Korea–Jepang di The Shrine. Yuk, simak sampai selesai!

1. Kamikakushi

The Shrine (dok. mystery pictures/The Shrine)

Pada awal cerita, hilangnya Hee Jung (Na Hyun Jin) di kuil terbengkalai dikaitkan dengan kamikakushi. Istilah tersebut merujuk pada hilangnya seseorang secara tiba-tiba dan misterius, terutama anak-anak serta perempuan.

Masyarakat Jepang percaya bahwa mereka disembunyikan oleh Kami, yang dapat merujuk para dewa, roh, leluhur, makhluk gaib, atau kekuatan suci yang mendiami pegunungan, hutan, sungai, kuil, dan wilayah perbatasan yang tidak kasat mata.

Kepercayaan ini erat kaitannya dengan konsep ‘wilayah perbatasan’ atau latar yang bersifat transisi. Seperti dilansir Japan Documented, bagi masyarakat Jepang, pegunungan dan hutan bukan hanya pemandangan, tetapi juga tempat di mana manusia bersentuhan dengan sesuatu yang lebih tua serta tidak terkendali. Jadi, hilangnya seseorang yang dikaitkan dengan kamikakushi bukanlah latar belakang yang acak.

2. Rakshasa

The Shrine (dok. mystery pictures/The Shrine)

Adegan berikutnya adalah ditemukannya kepala patung Buddha dan batu bertuliskan Rasetsuten di dekat kuil terbengkalai yang menjadi pusat cerita. Rasetsuten dalam bahasa Jepang, Nachal untuk bahasa Korea, dan Rakshasa dalam bahasa Sansekerta merupakan satu sosok yang sama. Rakshasa merupakan makhluk mitologi sejenis iblis dalam agama Hindu, Buddha, dan Jain.

Makhluk tersebut memiliki kekuatan untuk mengubah bentuknya menjadi hewan atau manusia dan kerap memakan daging manusia. Maka dari itu, ia melakukan tipu daya yang membuat seorang pendeta bernama Hanju (Go Yoon Jun) rela mengorbankan jiwa orang lain untuk menghidupkan kembali istrinya, Kyoko. Meski telah mempersembahkan jiwa para mahasiswa hingga Sato (Kino Hana), ritualnya gagal dan berakhir dengan dirinya juga menjadi korban.

3. Ritual shamanisme Korea (gut)

The Shrine (dok. mystery pictures/The Shrine)

Sebagai inti dari film The Shrine, praktik shamanisme yang dilakukan Myung Jin menggunakan dua benda penting, yakni mudangbangul dan shinjangdae. Mudangbangul atau bangul berupa lonceng berumbai yang pegang untuk memanggil roh. Selain itu, suara yang stabil membantu shaman mengalihkan kesadarannya untuk memasuki kondisi trance dan getarannya dipercaya dapat membersihkan ruang ritual dari energi jahat.

Shinjangdae adalah tongkat berukuran 40–80 cm, kemudian dililit dengan potongan kertas hanji putih yang dilipat atau disobek halus, sepintas mirip kemoceng. Digunakan untuk mengusir roh jahat, dan menjadi perantara fisik antara shaman dengan dewa atau roh. Benda ini sering disandingkan dengan onusa dalam agama Shinto di Jepang.

4. Jeoju

The Shrine (dok. mystery pictures/The Shrine)

Saat pertengahan film The Shrine, terdapat adegan Myung Jin dituduh mengutuk temannya karena cemburu. Entah sadar atau tidak, tindakannya merujuk pada jeoju yang dapat dilakukan shaman. Akademi Studi Korea menjelaskan bahwa jeoju adalah praktik mengutuk dalam kepercayaan masyarakat Korea yang ada sejak zaman kuno.

Ada beragam bentuk jeoju, mulai dari menggunakan benda-benda sebagai perantara hingga merusak potret orang yang ditargetkan. Meski dikemas lebih halus, tampak Myung Jin menggambar kepala temannya secara terbalik disertai sejumlah tulisan di sekitarnya. Tidak lama setelah itu, orang tersebut ditemukan meninggal dengan kepala terbalik.

Pola jeoju yang umum dengan menggunakan gambar wajah target di kertas untuk dirusak secara simbolis, bisa disobek, dipanah, dan masih banyak lagi. Kerap kali menyertakan identitas targetnya, seperti nama dan tanggal lahir dalam Hanja (aksara Tionghoa yang diadaptasi dalam bahasa Korea). Posisi kepala target yang terbalik bisa menggambarkan variasi dari pola tersebut.

5. Omikuji

Sebelum film berakhir, Myung Jin dan Yumi pergi ke kuil Shinto. Mereka menggoyangkan tabung kayu, menarik selembar kertas, lalu membaca ramalan di dalamnya. Tradisi ini disebut omikuji, ramalan khas Jepang yang sudah ada sejak zaman kuno.

Isi omikuji beragam, mulai dari ramalan sangat baik hingga buruk, yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Jika ramalannya buruk, tradisinya adalah mengikat kertas omikuji pada pohon atau tempat khusus di area kuil, dengan harapan nasib buruk tidak akan mengikuti. Sebaliknya, saat mendapatkan ramalan baik, orang biasanya akan membawanya pulang sebagai jimat.

Yumi membaca ramalan dan mengikat kertasnya di kuil, sedangkan Myung Jin lupa hingga membukanya sebelum kembali ke Korea. Ramalannya bertuliskan, “Lepaskan masa lalu dan sambut sahabat baru." Ternyata, roh jahat itu merasuki Myung Jin di akhir cerita.

Nah, sekarang rasa penasaranmu tentang kepercayaan Korea–Jepang di The Shrine sudah terjawab. Kelima unsur tersebut membuat horor yang ditawarkan lebih kaya dan nyata. Apa kamu sudah nonton filmnya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article