Yoo Bo Na (Kong Hyo Jin) dalam drakor A Bona Fide Killer dikenal sebagai Kingfisher yang tangguh dan tak kenal takut. Begitu pun ketika ia kembali beraksi meski sudah berkeluarga, Yoo Bo Na mencoba mengimbangi kehidupan gandanya sebagai pembunuh ulung dan ibu rumah tangga biasa.
Ketakutan Terbesar Bo Na Jadi Kingfisher di A Bona Fide Killer

- Yoo Bo Na mulai ingin mundur sebagai Kingfisher setelah berada di lokasi sama dengan suaminya, Kwon Tae Seong, jurnalis investigasi yang memburu identitas pembunuh tersebut.
- Bo Na takut identitasnya terbongkar karena dapat menghancurkan kepercayaan suami, mengganggu keharmonisan keluarga, serta menempatkan suami dan putrinya sebagai sasaran musuh.
- Kembalinya Kingfisher juga menarik perhatian Detektif Lee Dong Jin yang terus menyelidik, sehingga Bo Na terancam kehilangan kehidupan normal dan waktu membesarkan anaknya.
Namun, saat tak sengaja berada di lokasi yang sama dengan suaminya, Kwon Tae Seong (Jung Joon Won), di episode 6, Yoo Bo Na mulai menunjukkan banyak ketakutan. Bahkan, pada preview episode 7 disebutkan ia ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya itu. Kira-kira, apa saja ketakutan terbesar Bo Na jadi Kingfisher di A Bona Fide Killer?
1. Takut identitas rahasianya terbongkar oleh suaminya, Kwon Tae Seong

cuplikan drakor A Bona Fide Killer (dok. MBC/A Bona Fide Killer) Suami Yoo Bo Na, Kwon Tae Seong, merupakan seorang jurnalis investigasi yang terobsesi melacak dan mengungkap identitas Kingfisher. Jika rahasianya terbongkar, Yoo Bo Na bukan hanya bertentangan dengan prinsip integritas suaminya. Tetapi juga menempatkan suaminya dalam dilema moral antara kewajiban profesionalnya sebagai jurnalis dan cintanya sebagai seorang suami.
Hingga saat ini Kwon Tae Seong tak tahu identitasnya sebagai Kingfisher. Di mata Kwon Tae Seong, Yoo Bo Na adalah istri dan ibu biasa yang penyayang serta bekerja di kantor biasa. Sebab itu, Yoo B Na takut jika Kwon Tae Seong mengetahui bahwa istrinya adalah penembak jitu yang ia cari. Rasa cinta dan pandangan Kwon Tae Seong terhadap dirinya bisa saja berubah menjadi rasa takut, bahkan benci.
2. Mengganggu keselamatan keluarga kecilnya

cuplikan drakor A Bona Fide Killer (dok. MBC/A Bona Fide Killer) Setelah menjalani masa cuti melahirkan selama tiga tahun, Yoo Bo Na sangat menikmati kehidupan rumah tangga yang damai dan hangat bersama suami serta putri kecilnya, Kwon Yul (Hwang Bom I). Terbongkarnya rahasia ini otomatis akan menghancurkan keharmonisan, kepercayaan, serta fondasi keluarga biasa yang dengan susah payah ia bangun.
Sebagai pembunuh bayaran berdarah dingin yang memburu penjahat-penjahat kelas atas, Yoo Bo Na tentu memiliki banyak musuh. Jika musuhnya tahu akan keluarganya itu, maka Kwon Tae Seong dan anaknya akan langsung berada dalam garis bidik bahaya dan menjadi sandera atau target pembalasan dendam.
3. Kehilangan kehidupan normalnya

cuplikan drakor A Bona Fide Killer (dok. MBC/A Bona Fide Killer) Identitas Yoo Bo Na sebagai Kingfisher hanya diketahui oleh mereka yang bekerja di lingkup yang sama. Sedangkan, di kehidupan normalnya, Yoo Bo Na hanya dikenal sebagai ibu rumah tangga biasa yang baru kembali bekerja setelah mendapatkan cuti panjang.
Jika identitas rahasianya ini terbongkar, Yoo Bo Na takut akan kembali tersedot secara permanen ke dalam lingkaran kekerasan. Bahkan, secara otomatis ia akan kehilangan masa-masa membesarkan anak semata wayangnya.
4. Penangkapan oleh pihak kepolisian

cuplikan drakor A Bona Fide Killer (dok. MBC/A Bona Fide Killer) Kembalinya Kingfisher tak hanya menyedot perhatian Kwon Tae Seong sebagai jurnalis investigasi. Namun, juga menarik perhatian pihak kepolisian, terutama detektif Lee Dong Jin (Lee Sang Yi).
Meski sudah dilarang oleh atasannya agar tak lagi mengusut kasus Kingfisher, Lee Dong Jin tak mendengarkannya. Namun, Lee Dong Jin terus mempersempit ruang gerak Yoo Bo Na, bahkan membahayakan posisinya setiap kali ia terpaksa kembali beraksi.
Berdasarkan empat poin di atas, dapat dipastikan bahwa ketakutan terbesar Bo Na jadi Kingfisher di A Bona Fide Killer bukanlah peluru musuh atau kejaran aparat. Melainkan risiko kehilangan kehangatan keluarga kecilnya yang menjadi satu-satunya alasan ia ingin terus bertahan sebagai manusia biasa.





















