Mengapa I An Harus Menolak Dulu sebelum Jadi Raja di Perfect Crown?

Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
- Pangeran I An memilih menahan diri menjadi raja demi menjaga stabilitas kerajaan dan tetap mengontrol situasi sebagai wali raja.
- Dalam tradisi kerajaan, calon penerima takhta wajib menolak dua kali sebelum akhirnya menerima penunjukan secara resmi.
- Proses penyerahan takhta kepada Pangeran I An terganggu oleh sabotase berupa ledakan di Balai Konsulat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Pangeran I An (Byeon Woo Seok) dalam drakor Perfect Crown seharusnya sudah dari lama menjadi raja. Namun, ia memilih diam agar situasi gak makin memburuk. Ia mengetahui apa yang terjadi dan mengontrol semuanya dengan menjadi wali raja.
Setelah terjadi kekacauan, ia mau gak mau harus meminta takhta kerajaan pada raja kecil yang menjabat. Namun, ia harus menolak lebih dulu. Mengapa seperti itu? Berikut alasannya.
1. Dalam sistem kerajaan, pemberian takhta oleh raja gak bisa sembarangan dilakukan

2. Saat pemberian takhta dilakukan, ada sikap santun yang harus dijaga oleh anggota keluarga kerajaan

3. Jika Pangeran I An menerima langsung pemberian takhta, ia bisa dianggap gila kekuasaan

4. Bahkan, ia bisa dicurigai sengaja merebut kekuasaan dari raja yang sedang berkuasa

5. Untuk itu, meski Pangeran I An memang meminta takhtanya. Ia harus bersikap sopan dengan menolaknya terlebih dahulu

6. Saat diminta kedua kalinya, Pangeran I An juga harus menolak pemberian takhta tersebut

7. Baru pada permintaan ketiga, Pangeran I An boleh menerima penunjukkannya sebagai seorang raja

Adanya aturan tersebut memberikan celah bagi pihak musuh untuk menyabotase pemberian takhta pada Pangeran I An. Benar saja, terjadi ledakan di Balai Konsulat saat Pangeran I An berada di sana.
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.



















