Ending Drama Perfect Crown Episode 11 dan 12 Tuai Kritikan, Kenapa?

- Adegan di episode 11 dan 12 Perfect Crown (2026) menuai kritik karena dianggap menyalahi etika budaya serta sejarah Korea, hingga tim produksi menyampaikan permintaan maaf resmi.
- Penonton Indonesia menyoroti adegan kebakaran istana yang terjadi berulang kali, memicu komentar sarkastik dan parodi lucu soal kurangnya kesiapan menghadapi api.
- Meskipun banyak kritik, sebagian penonton tetap puas dengan akhir cerita yang menampilkan keadilan bagi tokoh jahat dan kehidupan baru Raja Ian serta Seong Huiju.
Perjalanan drama Korea Perfect Crown (2026) sejak awal tayang memang gak seratus persen mulus. Banyak penonton mengaku suka dengan akting para pemain hingga alur cerita yang disajikan. Namun, gak jarang ada yang memberikan kritikan pedas untuk drakor rilisan MBC ini.
Bahkan setelah Perfect Crown (2026) episode 11 dan 12 tayang, penonton masih terbagi menjadi dua kubu. Maka gak mengherankan kalau beberapa adegan di dua episode terakhir ini justru banjir kritikan. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini, ya!
Peringatan: Artikel ini mengandung spoiler, ya!

1. Beberapa adegan Perfect Crown episode 11 dan 12 yang berhubungan dengan budaya dan sejarah Korea Selatan banjir kritikan
Ada beberapa adegan yang menuai perhatian penonton di dua episode terakhir Perfect Crown (2026). Salah satunya ketika Seong Huiju (IU) menumpahkan teh ke dalam nampan penampung air untuk menolak suguhan Ibu Suri Yoon Yi Rang (Gong Seung Yeon) di episode 11. Penataan tersebut diangap mengarah ke upacara minum teh Tiongkok, bukan Korea Selatan.
Selain itu, netizen juga menyoroti adegan Ibu Suri duduk bersimpuh di hadapan Pangeran Agung Ian (Byeon Woo Seok) yang saat itu belum diangkat menjadi raja. Menurut penonton, adegan tersebut dianggap tidak lazim, lantaran kedudukan Ibu Suri di atas Pangeran Agung. Namun, ada penonton yang membela kalau Yoon Yi Rang melakukan hal itu bukan sebagai Ibu Suri, melainkan seorang ibu.
Selanjutnya, adegan di ending episode 11, saat penobatan Ian sebagai raja dianggap mendistorsi sejarah. Pasalnya, setelah Raja Ian sudah berada di singgasana, kabinet dan keluarga kerajaan bukan bersorak, "Manse", melainkan "Cheonse".
Manse merupakan ungkapan yang diperuntukkan untuk kaisar. Sementara pemilihan ungkapan Cheonse yang memiliki arti sama, tetapi statusnya lebih rendah dianggap merusak status kemerdekaan Korea Selatan sebagai negara bawahan. Selain itu, mereka juga menyadari seharusnya mahkota yang digunakan Raja Ian adalah Sibyeonryugwan (mahkota sepuluh wajah), bukan Goryumyeonryugwan (mahkota yang dikenakan oleh rakyat Tiongkok).
"Kami dengan tulus menundukkan kepala memohon maaf, karena telah menimbulkan kekhawatiran terkait latar dunia dan masalah keakuratan sejarah. Kami menanggapi dengan serius kritik pemirsa, bahwa adegan selama upacara penobatan di mana Raja mengenakan Goryumyeonryugwan dan rakyatnya meneriakkan 'Cheonse', merusak status kemerdekaan negara kita. Masalah ini muncul karena kami gagal meneliti dengan cermat bagaimana etiket Joseon berkembang sepanjang sejarah," kata tim produksi Perfect Crown (2026), dilansir Chosun.
2. Pekan lalu, penggemar Indonesia juga salah fokus sama adegan kebakaran istana untuk yang ketiga kalinya

Setelah Perfect Crown (2026) episode 10 tayang, penonton juga melayangkan kritikan yang dibalut dengan sarkasme. Pasalnya, selama 10 episode mengudara, sudah tiga kali istana mengalami kebakaran, terbaru di Balai Konsulat yang bertujuan untuk membunuh Pangeran Agung Ian.
Penonton Indonesia berkomentar, mulai dari apakah orang-orang di dalam istana tidak belajar dari dua kebakaran sebelumnya? Kenapa tidak ada yang membawa APAR (Alat Pemadan Api Ringan)? Selain itu, kenapa harus Putri Agung Seong Huiju (IU) duluan yang masuk ke dalam Balai Konsulat terbakar? Sementara abdi dalem lainnya hanya terlihat panik dan beberapa memadamkan api dengan air.
Saking viralnya, kritikan justru berubah menjadi parodi kocak di tangan netizen Indonesia. Ada konten pemadam kebakaran Indonesia yang ngomel soal APAR hingga parodi sedang on the way ke istana buat memadamkan api.
3. Terlepas dari kritikan tersebut, ada juga penonton yang suka dan puas dengan dua episode terakhir Perfect Crown

Terlepas dari kritikan di atas, tak sedikit penonton yang justru merasa puas dan menyukai akhir kisah Perfect Crown (2026), lho. Pasalnya, Perdana Menteri Min Jeong Woo (Noh Sang Hyun) dan Tuan Inpyeong (Jo Jae Yun) mendapat balasan atas kejahatan mereka.
Di sisi lain, kita juga perlu mengakui bahwa keputusan Raja Ian membuka diskusi soal penghapusan monarki memberikan dampak positif untuk keluarga kerajaan. Akhirnya kita bisa melihat Ibu Suri versi emak-emak ambisius yang berharap anaknya menjadi musisi dan juga berprestasi, bukan mengejar takhta.
Selain itu, Lee Wan, nama asli Raja Ian, bisa menjalani hidupnya dengan nyaman, tanpa sorotan berlebihan. Terlebih lagi, Seong Huiju bisa kembali ke cegil era sambil memimpin Castle Beauty dan Castle Card. Bonusnya, penonton juga semakin puas melihat kegemasan pasangan ini.
Meski banyak adegan gak masuk akal dan cenderung plot hole, tapi drakor ini tetap dibawakan dengan baik oleh para aktor utamanya. Sementara itu, O'Fan House, penerbit buku naskah Perfect Crown (2026), juga sudah buka suara kalau mereka sedang menunggu revisi beberapa ungkapan seremonial yang tidak tepat dari tim produksi. Mereka akan menyediakan halaman koreksi digital dalam bentuk PDF, serta menerima pengembalian dana bagi pembeli edisi pertama yang telah dikirim.



















