Meskipun jadi isu yang paling banyak terjadi, bullying justru sering diabaikan. Hal itu karena lingkungan turut membiarkan isu tersebut untuk terus meluas. Para siswa yang menganiaya teman sekelasnya hingga memicu bunuh diri gak pernah disalahkan. Malah, siswa tersebut makin ditakuti karena orang-orang yang melihatnya gak mau mengalami hal serupa alias menjadi korban berikutnya.
5 Pesan Moral yang Bisa Dipelajari dari Drakor Teach You a Lesson

- Drama Teach You a Lesson menyoroti kompleksitas masalah di dunia pendidikan, termasuk bullying dan tanggung jawab moral berbagai pihak dalam menghadapi kejahatan di lingkungan sekolah.
- Kehadiran ERBP menggambarkan upaya alternatif ketika pihak berwenang gagal menangani kasus perundungan, sekaligus menegaskan pentingnya keadilan bagi korban dan pelaku tanpa pandang usia.
- Serial ini menunjukkan bahwa kekerasan untuk menghentikan kekerasan memiliki dilema moral, serta setiap keputusan membawa konsekuensi yang memengaruhi semua pihak di sekitar.
Drakor Teach You a Lesson gak hanya menyoroti kasus-kasus di lingkungan sekolah, tapi juga cara berbagai pihak merespons masalah yang terjadi di dalamnya. Dari konflik yang muncul, terlihat bahwa tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan cara yang sederhana. Na Hwa Jin (Kim Moo Yul) dkk terkadang harus menggunakan langkah yang tegas agar pelaku kejahatan di dunia pendidikan merasa kapok dan gak mengulangi perbuatannya.
Di balik setiap kejadian, drama ini memperlihatkan banyak lapisan yang saling bertabrakan, mulai dari korban, pelaku, hingga orang-orang di sekitar yang ikut terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Dari situ, muncul berbagai pelajaran yang bisa dipahami lebih jauh tentang keadilan, tanggung jawab, dan cara manusia mengambil keputusan dalam situasi yang sulit. Berikut lima pesan moral yang bisa dipelajari dari drakor Teach You a Lesson.
1. Bullying bisa terjadi karena lingkungan yang membiarkan

Kasus bullying paling banyak terjadi di lingkungan pendidikan. Seseorang yang gemar merundung tidak pandang bulu, bisa melakukannya terhadap teman sebaya ataupun orang yang lebih tua. Perundungan pun bentuknya ada banyak, mulai dari perundungan verbal hingga perundungan fisik.
2. Pihak berwenang belum tentu bisa diandalkan untuk menyelesaikan masalah

Alasan lembaga Educational Rights Protection Bureau (ERBP) didirikan adalah kurangnya peran pihak berwenang dalam menyelesaikan masalah. Isu-isu seperti perundungan gak menjadi atensi karena sekolah, hukum, dan orang dewasa gak bisa memberi solusi. Lingkungan formal yang diharapkan bisa membantu korban nyatanya gak bisa diandalkan sehingga meskipun keberadaannya jadi pro dan kontra, ERBP tetap berupaya melakukan pembinaan di bidang pendidikan.
3. Pelaku bisa berganti peran menjadi korban

Jang Seong Gu (Lee Woo Je) sering dimanfaatkan oleh temannya, Lee Chi Ho (Kim Jae Seon). Ia selalu memberikan hotspot dari hpnya agar Lee Chi Ho dkk tidak kesulitan untuk terhubung ke internet. Namanya juga dipakai untuk membuat akun streaming, main gim, hingga memesan makanan. Ia merasa gak adil karena ia harus mengorbankan uang dan banyak hal.
Sayangnya, saat melapor ke polisi atau orangtua Lee Chi Ho, keadaan justru berbalik. Jang Seong Gu gak bisa membuktikan kejahatan Lee Chi Ho karena laki-laki itu andal memutarbalikkan fakta dan menyewa pengacara mahal. Dalam sidang komite, Jang Seong Gu yang seharusnya jadi korban malah berubah menjadi pelaku, begitu pula sebaliknya.
4. Kekerasan untuk menghentikan kekerasan tetap punya risiko moral

Na Hwa Jin sering menggunakan kekerasan untuk menghadapi murid yang terlalu nakal. Biasanya, ia memukul siswa SMA yang gak bisa lagi dinasihati menggunakan kata-kata. Namun, ada kalanya kekerasan untuk menghentikan kekerasan punya risiko moral. Saat kedapatan meninju Cho Gyu Cheol (Lee Bong Joon), ia langsung viral dan dicap buruk oleh masyarakat. Masyarakat mengabaikan fakta bahwa Cho Gyu Cheol pernah membunuh tunangan Na Hwa Jin dua tahun lalu dan lebih fokus ke kekerasan yang digunakan Na Hwa Jin terhadap remaja tersebut.
5. Kejahatan harus mendapatkan ganjaran, tak peduli berapa pun usia pelakunya

Kejahatan anak di bawah umur sering tidak ditindaklanjuti karena anak-anak tersebut dilindungi oleh hukum. Namun, ERBP secara tegas tetap memberikan sanksi yang berat agar anak-anak di bawah umur tidak menyepelekan kejahatan yang telah mereka lakukan dan memahami konsekuensinya.
Kehadiran ERBP bukan hanya untuk membela guru yang sering dapat perlakuan mengerikan dari siswa, tetapi juga untuk memberi ketegasan pada oknum guru dan orangtua yang melakukan perbuatan merugikan. Hal ini menunjukkan bahwa tak peduli berapa pun usia pelakunya, kejahatan harus diberi ganjaran.
Dari berbagai konflik yang ditampilkan, Teach You a Lesson memberi gambaran bahwa setiap keputusan selalu punya dampak, dan tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan cara yang benar-benar bersih. Perubahan hanya akan terjadi jika ada pihak yang berinisiatif untuk mewujudkannya.

















