Diadaptasi dari novel karya Sora Uwano, You Have 328 More Times Left to Eat Your Mother's Home Cooking, premis yang diangkat sutradara Kim Tae Yong dalam film Number One memang terbilang menarik. Berangkat dari itulah saya akui ada beberapa adegan yang sukses membuat terharu setelah selesai menontonnya secara lengkap. Bagi saya, penonton dapat mengikuti cerita yang disuguhkan dengan mudah tanpa harus repot-repot berpikir keras.
Akan tetapi, saya merasa sisi naratifnya agak kurang dieksplorasi lebih dalam sehingga film Number One terasa dangkal secara cerita. Sepanjang film diputar, kisahnya lebih menitikberatkan pada pergulatan Ha Min dalam menghindari angka misterius dan usaha membuat ibundanya tetap hidup. Sementara subplot lain yang ditampilkan kurang diperdalam dan terkesan hanya menjadi pelengkap saja, sehingga kelihatan tak begitu menarik kalau dibandingkan dengan plot utama.
Saya menilai, cerita film Number One sebenarnya juga masih bisa diperkuat melalui konflik yang dihadirkan. Sayangnya, kesempatan mengeksekusi konflik tampak kurang dimaksimalkan secara baik. Selain itu, film ini juga masih berpotensi menyisakan tanda tanya tersendiri untuk beberapa penonton karena cerita asal-usul soal kemunculan angka tersebut tidak begitu dijelaskan secara detail.
Di sisi lain, tak ada hal yang spesial kalau berbicara soal set dan sinematografi. Aspek visual sederhana dalam film ini dirasa sudah mampu mendukung cerita yang disuguhkan. Apalagi, film Number One juga bisa membuat penonton lapar sekaligus ngiler karena ada banyak makanan yang ditampilkan. Ini pun menjadi poin plus untuk memperkenalkan makanan-makanan yang ada di Korea kepada penonton yang mungkin belum pernah mencicipinya sama sekali.