5 Tanda Sato Hideo Masih Berjiwa Joseon di 100 Days of Deception

Sato Hideo, juru bahasa keturunan Joseon di Kegubernuran Jenderal Jepang tahun 1932, dicap pengkhianat meski perilaku dan emosinya menunjukkan keterikatan pada asal-usulnya.
Ia menolak sebutan merendahkan bagi orang Joseon, lega gagal menjadi tentara Jepang, serta tetap menyimpan ikatan kuat dengan ibu angkatnya yang juga keturunan Joseon.
Hideo membela anak Joseon yang dituduh tanpa bukti dan memilih tidak memakai lift khusus Jepang, meski berstatus anak angkat pejabat tinggi Kegubernuran Jenderal.
Sato Hideo (Park Jin Young) di drakor 100 Days of Deception digambarkan sebagai orang Joseon yang bekerja untuk Jepang. Pada era penjajahan Jepang tahun 1932, ia menjadi juru bahasa di Kegubernuran Jenderal Joseon. Makanya, Sato Hideo tidak lagi dianggap sebagai orang Joseon.
Statusnya sebagai anak angkat Sato Shinichi (Jin Sun Kyu), orang nomor dua di Kegubernuran Jenderal, juga semakin memperkuat citra buruknya. Bagi mereka, Sato Hideo sudah jadi orang Jepang itu sendiri. Akan tetapi, gerak-gerik dan emosi Sato Hideo justru menunjukkan yang sebaliknya. Lima tanda ini menjadi petunjuk bahwa Sato Hideo sebenarnya masih berjiwa Joseon.
1. Risih dengan sebutan yang merendahkan orang Joseon

still cut drama 100 Days of Deception (dok. tvN/100 Days of Deception) Beberapa adegan drakor 100 Days of Deception menunjukkan kalau orang Joseon dipandang sangat rendah di tanah air mereka. Orang Jepang pun sering kali menyebut mereka dengan sebutan yang mengejek. Sato Hideo menunjukkan ketidaknyamanannya setiap mendengar sebutan seperti itu.
Sayangnya Sato Hideo tidak melawan karena berisiko tinggi. Namun, kadang ia mengoreksi penyebutan tersebut dengan cara aman. Sato Hideo juga menghindari pemakaian penyebutan merendahkan meskipun sudah lama berada di lingkungan orang Jepang.
2. Lega karena gagal menjadi tentara Jepang

still cut drama 100 Days of Deception (dok. tvN/100 Days of Deception) Sato Hideo terpaksa masuk Akademi Militer Jepang demi ayah angkatnya. Keputusan itu sepenuhnya dibuat Sato Hideo untuk membanggakannya. Ia takut akan ditinggal sendiri lagi seperti yang dilakukan orangtua kandungnya.
Jauh di dalam hatinya, Sato Hideo tak pernah mau menjadi tentara Jepang. Makanya, penyakitnya membuat Sato Hideo bersyukur. Ia akhirnya bisa lega karena tak memenuhi kualifikasi untuk menjadi tentara setelah lulus.
3. Memiliki ikatan erat dengan ibu angkat keturunan Joseon

still cut drama 100 Days of Deception (dok. tvN/100 Days of Deception) Istri pertama Sato Shinichi merupakan orang Joseon. Sato Hideo senang saat tahu kalau ibu angkatnya juga berasal dari negara yang sama. Ia pun diberi izin untuk memanggilnya sebagai ibu dalam bahasa Korea alih-alih Jepang.
Bagi Sato Hideo, ibu angkatnya adalah orang pertama yang memberi dirinya cinta sebesar itu. Fakta bahwa mereka sama-sama berasal dari Joseon juga membuatnya nyaman. Meskipun telah lama tidak berjumpa setelah ibunya pergi mendadak, ia tak bisa melupakannya. Ia pun berusaha mencari ibu angkatnya usai kembali ke Joseon.
4. Mau membela anak Joseon yang dituduh polisi Jepang

still cut drama 100 Days of Deception (dok. tvN/100 Days of Deception) Pada masa penjajahan, nyawa orang Joseon sudah tak ada harganya. Para polisi Jepang melakukan penindasan dan penganiayaan setiap hari dalam rangka mempertegas posisi mereka. Meski tidak ada bukti kuat atas suatu pelanggaran, orang Joseon bisa tetap disiksa di kantor polisi.
Sato Hideo di sisi lain justru membela seorang anak yang terkena tuduhan tanpa bukti. Dengan tegas ia memberi pembelaan agar anak itu tak menjadi korban salah tangkap. Ia pun tak takut untuk membebaskan anak itu begitu ada kesempatan.
5. Tidak menaiki lift di kantor Kegubernuran Jenderal Joseon

still cut drama 100 Days of Deception (dok. tvN/100 Days of Deception) Orang Joseon menghadapi berbagai diskriminasi selama masa penjajahan. Salah satunya terlihat dari perbedaan perlakuan terhadap pegawai Joseon di Kegubernuran Jenderal. Tak semua fasilitas kantor bisa digunakan bahkan setelah mengkhianati negara sendiri.
Sato Hideo mengungkapkan bahwa fasilitas lift di kantor Kegubernuran Jenderal tak boleh digunakan pegawai Joseon. Meski statusnya adalah anak Inspektur Jenderal, Sato Hideo memilih untuk tidak memakainya. Aksi kecil itu seolah menegaskan bahwa ia belum melupakan darah Joseon di dalam dirinya.
Sato Hideo berada di posisi ambigu di drakor 100 Days of Deception. Ia dicap pengkhianat oleh orang Joseon, tapi juga tidak sepenuhnya mendapatkan pengakuan dari sang ayah. Masih jadi tanda tanya apakah dirinya akan tetap berada di sisi Sato Shinichi sampai akhir atau justru banting stir ketika penindasan Jepang semakin parah.























