Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Idol Cowok Ini Berani Kritik Sistem KPop yang Gak Manusiawi, Toxic?

SUGA BTS dan T.O.P eks BIGBANG
SUGA BTS dan T.O.P eks BIGBANG (instagram.com/agustd | instagram.com/ttt)

Banyak idol KPop yang sadar betapa banyak artis tidak diperlakukan selayaknya manusia di industri hiburan Korea. Sebab, mereka sudah bertahun-tahun berkarier dalam bidang kerja yang sama. Mereka sadar, perlakuan itu hadir dari sistem dan aturan yang dianggap normal.

Maka dari itu, idol KPop berikut ini mengkritik cara kerja industri hiburan Korea Selatan yang toxic. Pasalnya, baik publik dan agensi seolah tidak lagi menganggap artis sebagai manusia. Mereka diperlakukan bak robot yang tak punya rasa lelah ataupun perasaan. Yuk, simak!

1. Yunho TVXQ

Yunho TVXQ (instagram.com/yunho2154)
Yunho TVXQ (instagram.com/yunho2154)

Di NewsA pada 2023, Yunho menyoroti cara idol KPop dilatih dengan standar yang ekstrem. Terutama, sejak munculnya istilah ‘KPop sharp choreography’ yang merujuk pada tarian seragam dan nyaris tanpa celah. Ia percaya, KPop sebagai bagian besar dari konten yang mewakili budaya Korea mempunyai tanggung jawab moral.

Yunho menilai, dibutuhkan sistem yang lebih berkelanjutan seiring dengan kemajuan industri KPop. Sebab, idol bukanlah mesin menyanyi yang harus selalu tampil sempurna dan berlatih tanpa henti. Ia pun punya tujuan tersendiri, yakni menciptakan kenangan bersama orang yang menyukainya dalam jangka waktu panjang. Namun, dia akan mengusahakannya dengan proses yang sehat.

2. SUGA BTS

SUGA BTS (post.naver.com/빅히트 뮤직)
SUGA BTS (post.naver.com/빅히트 뮤직)

Dalam wawancara dengan Weverse Magazine pada 2021, SUGA mengatakan, cara kerja para artis tampak sangat sulit. Pasalnya, mereka tampil di acara musik yang berbeda setiap hari begitu masa promosi album dimulai. Artinya, mereka mengalami kelelahan yang sering kali mengakibatkan cedera.

Apalagi, SUGA sadar mereka tak mendapat penghasilan layak dari acara musik yang tujuannya hanya untuk promosi. Hal itu bisa memicu rasa hilang semangat. Sang rapper juga menyoroti bagaimana pekerjaan mereka tak masuk dalam definisi pekerjaan biasa, jadi batasan hukum dan perlindungan legal terhadap idol juga jadi ambigu.

SUGA menilai, setiap agensi harusnya mengakomodasi pandangan artis soal apa yang mereka bisa dan tak bisa lakukan. Ia merasa, tak masuk akal jika agensi merasa berhak menyuruh idol melakukan segalanya tanpa batasan hanya karena mereka yang mendebutkan artis.

SUGA sering mendengar agensi menyuruh tanpa penjelasan pada artis. Agensi juga protes saat artisnya mempertanyakan. Baginya, ini menghancurkan industri KPop. Ia menjelaskan, “Jika hanya melihat artis sebagai produk, bagaimana mereka bisa melakukan hal kreatif? Saya berpikir, sungguh kontradiktif untuk meminta orang menampilkan hal menyenangkan saat mereka tak merasakan kesenangan apa pun di panggung.”

3. T.O.P eks BIGBANG

T.O.P eks BIGBANG
T.O.P eks BIGBANG (instagram.com/ttt)

Melalui wawancara dengan Prestige Online pada 2022, T.O.P mengatakan, dia beruntung karena menjalani masa pelatihan kurang dari setahun sebelum debut. Baginya, itu waktu yang relatif singkat. Namun, setelah itu, dia melihat semua trainee laki-laki dan perempuan berlatih di bawah sistem yang sangat keras.

T.O.P menyadari, trainee itu tahu apa yang harus dilakukan karena sudah dilatih seperti robot. Oleh karena itu, memungkinkan bagi mereka untuk menjadi populer di industri hiburan. Meski demikian, jauh di lubuk hati mereka, bisa saja mereka merasa terisolasi dan kesepian. Ia pun tak ingin menciptakan sistem pelatihan yang ada saat ini untuk artis di masa mendatang.

4. Jay Park

Jay Park (instagram.com/moresojuplease)
Jay Park (instagram.com/moresojuplease)

Jay Park mengungkap kelamnya industri KPop di program The Glow Up Podcast pada 2017. Ia mengakui, bahwa pelatihan tari dan vokal memang membantu dalam banyak hal. Namun, itu juga membunuh hasrat dan kreativitasnya. Sebab, dia harus menyanyi dan melakukan segala hal sesuai keinginan agensi.

Bagi Jay Park, hal macam itu membuatnya kehilangan kreativitas individualitasnya. Ia bahkan ingat, pihak agensi tak akan takut memukul jika trainee salah mengucapkan lirik atau gerakan tari tertentu. Sistem pelatihannya dulu sangat keras seperti itu, tetapi sekarang sudah lebih baik.

Jay Park ingat, dulu pihak agensi bebas memaki, seperti mengatakan umpatan kasar pada trainee. Namun, mereka tak melakukan hal itu padanya, karena dia pandai menari. Dia hanya pernah melihat laki-laki di sampingnya langsung dipukul karena salah dalam melakukan sesuatu.

Idol KPop di atas menyadari betapa buruknya cara kerja industri hiburan Korea Selatan. Idol tidak lagi diperlakukan sebagai manusia, tapi seperti "produk" yang hanya ada demi keuntungan. Padahal, mereka juga bisa lelah dan muak jika terus menerima sistem yang tanpa henti mengeksploitasinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Korea

See More

5 Support System Kang Da Wit di Pro Bono, Semua Rekan Kerja!

07 Jan 2026, 21:59 WIBKorea