Mengapa Sarah Kim Mengaku Tak Melakukan Penipuan di The Art of Sarah?

Drama Korea The Art of Sarah menampilkan sosok Sarah Kim (Shin Hae Sun) sebagai karakter yang penuh kontroversi. Meski terlibat dalam banyak kebohongan dan manipulasi, Sarah berulang kali mengklaim bahwa dirinya tidak melakukan penipuan. Sikap ini memunculkan pertanyaan besar tentang alasan di balik pembelaannya.
Seiring cerita berjalan, penonton mulai melihat cara berpikir Sarah dalam memandang tindakannya sendiri. Bagi Sarah, apa yang ia lakukan dianggap sebagai hal yang wajar dalam berbisnis, bukan kejahatan. Inilah yang membuat klaimnya terasa kompleks dan menjadi bagian penting dari konflik cerita. Berikut uraian mengapa Sarah Kim menganggap dirinya tak pernah melakukan penipuan.
1. Identitasnya merupakan karya seni

Bagi Sarah Kim, identitas yang ia bangun bukan sekadar kedok, melainkan sebuah karya seni yang ia ciptakan dengan sadar. Ia memandang dirinya sebagai mahakarya yang terbentuk dari perencanaan matang, pengamatan tajam, dan usaha tanpa henti.
Membangun citra elit dari nol melalui kerja keras dan manipulasi persepsi dianggapnya sebagai bukti kecerdasan dan kemampuan berpikir strategis. Dalam sudut pandangnya, keberhasilan menaklukkan kalangan atas adalah pencapaian intelektual dan artistik, bukan bentuk penipuan.
2. Legitimasi merek Boudoir melalui kualitas

Keberadaan merek Boudoir bukan semata hasil dari identitas palsu yang Sarah gunakan. Ia meyakini bahwa kualitas produk yang dihadirkan benar-benar nyata dan memiliki standar tinggi. Karena itu, ia merasa mereknya layak diakui terlepas dari latar belakang pribadinya.
Sarah melihat legitimasi Boudoir lahir dari hasil kerja keras dalam membangun desain, produksi, dan pemasaran. Menurutnya, selama produk tersebut berkualitas dan diminati pasar, maka merek itu sah untuk berada di kelas atas. Cara berpikir ini membuatnya menganggap dirinya tidak melakukan penipuan, melainkan hanya mengambil jalan berbeda untuk mencapai pengakuan.
3. Kemenangan filosofis atas kelas elite merupakan marketing

Keberhasilannya menembus kalangan elite dipandang sebagai kemenangan filosofis atas sistem yang selama ini tertutup. Ia menganggap mampu memperdaya kelas atas sebagai bukti bahwa status sosial bisa direkayasa layaknya strategi pemasaran. Dalam sudut pandangnya, seluruh proses tersebut adalah bentuk marketing cerdas, bukan sekadar kebohongan, apalagi dianggap penipuan.
4. Tak ada korban dalam transaksi bisnisnya

Transaksi bisnis yang ia jalani tidak menimbulkan korban secara langsung. Ia memandang setiap kerja sama terjadi atas dasar kesepakatan dan kesadaran masing-masing pihak. Selama bisnis berjalan dan menghasilkan keuntungan, ia merasa tidak merugikan siapa pun.
Dalam sudut pandangnya, Jeong Yeo Jin juga tidak bisa disebut sebagai korban karena secara sadar menginvestasikan uangnya dan bisnis Boudoir berjalan dengan lancar. Meski Jeong Yeo Jin merasa tertipu oleh kebohongan identitas Sarah serta ambisinya untuk menapaki puncak rantai sosial Seoul, Sarah tetap menilai bahwa kerugian tersebut bersifat emosional, bukan finansial. Selain itu, para pembeli pun tidak dianggap sebagai korban karena mereka menikmati kualitas tas Boudoir, membeli secara sadar, dan tidak pernah mengajukan tuntutan atas produk yang mereka dapatkan.
Cara berpikir Sarah Kim menunjukkan pembenaran atas setiap tindakan yang ia lakukan. Ia membangun logika sendiri untuk meyakinkan bahwa semua langkahnya sah dalam dunia bisnis. Namun, pandangan inilah yang justru mempertegas konflik moral dalam ceritanya.


















