ilustrasi atasan galak (freepik.com/yanalya)
Ketika perilaku seorang atasan terus dibiarkan, dampaknya bisa meluas jauh melebihi hubungan antara atasan dan bawahan. Cara seseorang menggunakan kekuasaan dapat perlahan memengaruhi cara organisasi mengambil keputusan, memperlakukan karyawan, sampai menentukan perilaku apa yang dianggap normal. Pada tahap tertentu, masalah yang awalnya berasal dari satu orang bisa berubah menjadi bagian dari budaya perusahaan.
Dampaknya juga gak ringan bagi karyawan. Penelitian MIT Sloan yang menganalisis 34 juta profil karyawan menemukan bahwa budaya toxic menjadi prediktor orang mengundurkan diri 10 kali lebih kuat dibandingkan gaji. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa praktik manajemen yang merugikan dapat berdampak serius terhadap kesehatan pekerja. Artinya, membiarkan atasan toxic bukan sekadar persoalan kenyamanan di kantor, tapi juga bisa membawa dampak yang lebih luas bagi kesejahteraan karyawan.
Atasan toxic bisa bertahan bukan selalu karena perusahaan gak mengetahui perilakunya. Dalam banyak kasus, masalahnya justru sudah terlihat, tapi bercampur dengan kepentingan bisnis, ketakutan karyawan, kelemahan sistem pengawasan, dan budaya diam.
Ketika perilaku tersebut terus dibiarkan, perusahaan berisiko membuat masalah personal berubah menjadi masalah organisasi. Karena itu, lingkungan kerja yang sehat membutuhkan sistem yang mampu menilai seorang pemimpin bukan hanya dari hasil bisnis, tapi juga dari bagaimana hasil tersebut dicapai dan bagaimana orang-orang di bawahnya diperlakukan.