Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Menyikapi Feedback Komunikasi Passive-Aggressive dari Atasan
ilustrasi perempuan membaca pesan (pexels.com/Los Muertos Crew)
  • Pisahkan isi kritik dari nada sindiran dengan memeriksa kesalahan teknis secara objektif, lalu perbaiki pekerjaan tanpa membuat pembelaan panjang.
  • Minta klarifikasi secara spesifik dan gunakan komunikasi pribadi untuk membahas kinerja, agar grup kerja tetap fokus pada koordinasi, bukan konflik personal.
  • Catat pola sindiran secara faktual, tetapkan batas kanal serta waktu komunikasi, dan gunakan prosedur internal bila perilaku tersebut terus menghambat pekerjaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dikritik atasan mungkin bukan hal yang menyenangkan, tetapi setidaknya kamu tahu apa yang perlu diperbaiki jika masukannya disampaikan dengan jelas. Masalahnya, gak semua teguran datang dalam bentuk arahan langsung. Sindiran di grup chat justru bisa membuatmu sibuk menebak maksud atasan daripada memahami persoalan pekerjaan.

Menghadapi komunikasi passive-aggressive membutuhkan respons yang cermat, apalagi ketika pesan tersebut dibaca oleh seluruh anggota tim. Kamu perlu memilah isi kritik, memahami konteksnya, dan menentukan cara merespons tanpa memperpanjang konflik. Yuk simak lima cara menyikapi feedback komunikasi passive-aggressive dari atasan di lingkungan kerja.

1. Pisahkan isi teguran dari nada sindiran

ilustrasi perempuan membalas pesan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Atasan menulis di grup, “Sepertinya format laporan masih sulit dipahami, padahal contohnya sudah dibagikan.” Kamu merasa disindir karena laporanmu baru saja dikirim, sementara anggota tim lain ikut membaca pesan tersebut. Sebelum bereaksi, periksa apakah format laporanmu memang berbeda dari contoh yang diminta.

Pisahkan persoalan teknis dari cara penyampaiannya agar kamu gak kehilangan fokus pada pekerjaan. Jika formatnya keliru, perbaiki bagian tersebut tanpa harus membalas sindiran dengan pembelaan panjang. Kamu tetap berhak merasa gak nyaman, tetapi kesalahan teknis dan komunikasi yang kurang sehat merupakan dua persoalan berbeda.

2. Minta klarifikasi tanpa membalas sindiran

ilustrasi membalas pesan (pexels.com/Jakub Zerdzicki)

Pesan atasan berbunyi, “Mungkin beberapa orang perlu belajar membaca instruksi sebelum mulai bekerja.” Kamu menduga pesan itu ditujukan kepadamu karena baru saja menyelesaikan tugas yang dimaksud. Daripada membalas dengan sindiran serupa, tanyakan bagian instruksi yang perlu kamu perbaiki.

Pertanyaan spesifik membantu mengalihkan percakapan dari dugaan pribadi menuju kebutuhan pekerjaan. Kamu dapat menulis, “Baik, Pak, bagian mana yang perlu saya sesuaikan agar sesuai arahan?” Respons ini memberi atasan kesempatan menjelaskan masalah tanpa membuat grup kerja menjadi arena adu sindiran.

3. Jangan langsung membahasnya di grup kerja

ilustrasi mengirim pesan (pexels.com/RDNE Stock project)

Komentar atasan yang menyindir hasil kerjamu muncul di grup, lengkap dengan anggota tim yang sebenarnya gak berkaitan dengan masalah itu. Kamu ingin segera menjelaskan kronologi supaya orang lain gak salah paham, tetapi percakapan justru berpotensi melebar. Situasi yang semula membahas pekerjaan akhirnya berubah menjadi persoalan harga diri.

Pilih jalur komunikasi pribadi jika masalahnya menyangkut kinerjamu secara langsung. Kamu dapat menghubungi atasan melalui private chat untuk memastikan letak kesalahan sekaligus menyepakati perbaikan yang diperlukan. Grup kerja sebaiknya tetap menjadi ruang koordinasi, bukan tempat menyelesaikan ketegangan personal.

4. Catat pola komunikasi yang berulang

ilustrasi perempuan mencatat (magnific.com/magnific)

Satu komentar bernada sinis belum tentu menunjukkan pola komunikasi atasan yang bermasalah. Namun, jika setiap keterlambatan dibalas sindiran, kesalahan kecil diumumkan di grup, dan instruksi disampaikan secara menyudutkan, kamu perlu memperhatikan polanya. Catatan mengenai waktu, konteks, dan isi pesan membantu kamu membedakan kejadian sesekali dari persoalan yang terus berulang.

Dokumentasikan percakapan secara faktual, terutama jika sindiran mulai menghambat pekerjaan atau memengaruhi hubungan profesional. Catatan ini juga berguna ketika kamu perlu meminta bantuan HR atau menjelaskan persoalan berdasarkan kejadian konkret. Kamu gak perlu buru-buru menuduh atasan, tetapi jangan pula mengabaikan pola yang merugikanmu.

5. Tetapkan batas komunikasi secara profesional

ilustrasi berbicara dengan atasan (pexels.com/MART PRODUCTION)

Atasan terus mengirim komentar menyindir di luar jam kerja, bahkan ketika persoalan sebenarnya bisa dibahas saat jam kantor. Kamu merasa perlu segera membalas agar gak dianggap mengabaikan instruksi, padahal pesan tersebut belum tentu membutuhkan respons mendesak. Kebiasaan merespons setiap sindiran justru dapat membentuk ekspektasi bahwa kamu selalu tersedia.

Tetapkan batas melalui kesepakatan mengenai kanal komunikasi, tenggat respons, dan cara menyampaikan koreksi pekerjaan. Jika pola sindiran berlanjut, sampaikan dampaknya dengan tenang dan spesifik, misalnya ketika komentar di grup membuat instruksi sulit dipahami. Bila komunikasi tetap merugikanmu, pertimbangkan jalur pelaporan internal sesuai prosedur perusahaan.

Menghadapi feedback passive-aggressive memang menuntut ketelitian karena kamu harus memahami pesan sekaligus menjaga profesionalitas. Kamu gak perlu membalas setiap sindiran, tetapi juga gak wajib terus menoleransi komunikasi yang merugikan pekerjaan. Perhatikan mana yang perlu diperbaiki dari hasil kerjamu dan mana yang sudah menjadi tanggung jawab atasan dalam membangun komunikasi sehat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article