Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Skill Komunikasi Power Talk Agar Kamu Gak Diremehkan Rekan Kerja

ilustrasi meeting dengan rekan kerja
ilustrasi meeting dengan rekan kerja (freepik.com/freepik)

Di kantor, cara bicara sering kali lebih menentukan posisi daripada seberapa keras kamu bekerja. Banyak orang kompeten justru tenggelam karena suaranya terdengar ragu, terlalu sopan, atau kebanyakan minta maaf. Akhirnya, ide bagus lewat begitu saja tanpa dianggap penting. Kalau kamu pernah ada di posisi itu, kamu tidak sendirian.

Komunikasi di dunia kerja bukan soal cerewet atau dominan, tapi soal hadir dengan otoritas yang tenang. Bicara asertif di kantor adalah skill yang bisa dilatih, bukan bawaan lahir. Dengan diksi yang tepat, kamu bisa terdengar tegas tanpa jadi menyebalkan. Yuk simak lima skill komunikasi power talk agar kariermu tidak jalan di tempat.

1. Hentikan kebiasaan membuka kalimat dengan keraguan

ilustrasi berdiskusi dengan tim
ilustrasi berdiskusi dengan tim (freepik.com/katemangostar)

Kalimat seperti “mungkin ya”, “aku gak yakin sih”, atau “maaf kalau salah” diam-diam melemahkan pesanmu. Rekan kerja menangkap sinyal bahwa kamu sendiri tidak percaya pada pendapatmu. Padahal, ide yang sama bisa terdengar jauh lebih kuat hanya dengan pembuka yang yakin. Ini soal membangun posisi sejak kata pertama.

Coba ganti pembuka ragu dengan pernyataan langsung dan jelas. Misalnya, “Menurut analisisku, opsi ini paling efektif untuk target kita.” Perubahan kecil ini berdampak besar pada cara orang meresponsmu. Gaya bicara yang berwibawa dimulai dari keberanian mengklaim ruang bicara.

2. Gunakan jeda, bukan kata pengisi

ilustrasi berdiskusi dengan rekan kerja (freepik.com/freepik)
ilustrasi berdiskusi dengan rekan kerja (freepik.com/freepik)

Banyak orang merasa harus terus bicara agar tidak dianggap bodoh. Akibatnya, kata pengisi seperti “eee”, “anu”, atau “jadi gini” muncul berlebihan. Padahal, jeda justru memberi kesan kamu sedang berpikir matang. Diam sejenak tidak membuatmu kalah.

Dalam power talk, jeda adalah alat kontrol. Saat kamu berhenti sejenak, orang lain akan menunggu dan memperhatikan. Ini memberi bobot pada kata-katamu tanpa harus meninggikan suara. Bicara asertif di kantor juga soal mengatur ritme, bukan sekadar isi.

3. Pilih diksi yang menunjukkan keputusan, bukan kebimbangan

ilustrasi berdiskusi dengan rekan kerja (freepik.com/freepik)
ilustrasi berdiskusi dengan rekan kerja (freepik.com/freepik)

Perhatikan perbedaan antara “kayaknya kita bisa coba” dan “kita akan coba opsi ini.” Kata kerja yang tegas memberi sinyal bahwa kamu siap bertanggung jawab. Rekan kerja cenderung menghormati orang yang terdengar mantap. Otoritas sering kali lahir dari pilihan kata sederhana.

Ini bukan berarti kamu tidak fleksibel atau anti masukan. Kamu tetap bisa terbuka sambil menjaga posisi. Misalnya dengan berkata, “Ini rekomendasi awalku, mari kita diskusikan detailnya.” Diksi yang tepat membuat komunikasi terasa dewasa dan profesional.

4. Sampaikan pendapat, bukan minta izin

ilustrasi meeting dengan rekan kerja
ilustrasi meeting dengan rekan kerja (freepik.com/yanalya)

Banyak karyawan terbiasa membungkus ide sebagai permohonan izin. Kalimat seperti “boleh gak kalau” atau “aku cuma mau menambahkan sedikit” membuat kontribusimu terdengar kecil. Padahal, forum kerja adalah tempat bertukar pandangan, bukan audisi sopan santun. Kamu berhak bersuara.

Coba ubah sudut pandangmu saat berbicara. Anggap ide sebagai kontribusi, bukan gangguan. Dengan berkata, “Ada satu poin yang perlu kita pertimbangkan,” kamu masuk ke diskusi dengan posisi setara. Skill komunikasi profesional tumbuh dari rasa layak didengar.

5. Jaga nada suara tetap stabil, bukan defensif

ilustrasi meeting di kantor (freepik.com/freepik)
ilustrasi meeting di kantor (freepik.com/freepik)

Nada suara sering kali lebih jujur daripada kata-kata. Saat tertekan, banyak orang otomatis bicara lebih tinggi atau cepat. Ini memberi kesan defensif dan kurang percaya diri. Rekan kerja bisa menangkap ketegangan itu dengan cepat.

Latih dirimu untuk berbicara dengan tempo lebih lambat dan volume stabil. Tarik napas sebelum merespons, terutama saat tidak setuju. Dengan nada yang tenang, pesanmu terdengar lebih berwibawa. Inilah pondasi komunikasi yang mendukung karier jangka panjang.

Skill komunikasi power talk bukan tentang mengubah kepribadianmu secara drastis. Ini tentang menyesuaikan cara bicara agar sejalan dengan kompetensi yang sudah kamu miliki. Saat bicara asertif di kantor, orang mulai melihatmu sebagai sosok yang layak diperhitungkan. Yuk, mulai perhatikan cara kamu berbicara dan biarkan kariermu ikut naik kelas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya
Follow Us

Latest in Life

See More

4 Bulan Lahir yang Akan Menemukan Cinta Sejati di Tahun 2026, Ada Mei!

06 Feb 2026, 20:03 WIBLife