Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Tips Tetap Betah di Kantor saat Ada Rekan Kerja Toksik, Bertahan!

6 Tips Tetap Betah di Kantor saat Ada Rekan Kerja Toksik, Bertahan!
ilustrasi lingkungan kerja toksik (pexels.com/fauxels)
Share Article

Lingkungan kerja yang nyaman bisa membuat hari terasa lebih ringan. Sayangnya, gak semua orang beruntung bekerja di tempat yang dipenuhi rekan-rekan suportif dan menyenangkan. Kadang, ada saja satu atau dua orang yang sikapnya membuat suasana kerja jadi kurang nyaman. Mulai dari suka mengeluh, gemar menjatuhkan orang lain, senang mencari kesalahan, hingga hobi menyebarkan energi negatif ke sekelilingnya. Berhadapan dengan rekan kerja seperti ini tentu bisa menguras kesabaran.

Kalau dibiarkan, keberadaan rekan kerja toksik bisa memengaruhi semangat kerja dan kesehatan mentalmu. Kamu mungkin jadi malas datang ke kantor, lebih mudah stres, atau kehilangan motivasi terhadap pekerjaan yang sebenarnya kamu sukai. Kabar baiknya, kamu gak harus langsung resign hanya karena menghadapi orang seperti itu. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar tetap nyaman bekerja tanpa terlalu terpengaruh oleh perilaku negatif mereka. Yuk, simak tips berikut ini.

1. Jangan terlalu mengambil semuanya secara personal

ilustrasi teman yang toksik (pexels.com/Keira Burton)
ilustrasi teman yang toksik (pexels.com/Keira Burton)

Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat menghadapi rekan kerja toksik adalah memasukkan semua perkataan atau sikap mereka ke dalam hati. Padahal, perilaku negatif seseorang sering kali lebih menggambarkan kondisi dirinya sendiri daripada dirimu. Orang yang gemar mengkritik, menyindir, atau meremehkan orang lain biasanya memiliki masalah yang belum selesai dalam dirinya. Karena itu, penting untuk belajar memisahkan antara opini mereka dan nilai dirimu sebagai individu.

Saat ada komentar yang kurang menyenangkan, cobalah berhenti sejenak sebelum bereaksi. Tanyakan pada diri sendiri apakah ucapan tersebut benar-benar relevan atau hanya bentuk pelampiasan emosi mereka. Gak semua hal perlu ditanggapi secara serius. Semakin kamu mampu menjaga jarak emosional, semakin kecil pengaruh sikap mereka terhadap suasana hatimu. Cara ini membantu kamu tetap fokus pada pekerjaan tanpa terbebani drama yang sebenarnya gak perlu.

2. Batasi interaksi yang gak diperlukan

ilustrasi rekan kerja
ilustrasi rekan kerja (pexels.com/Canva Studio)

Bekerja bersama seseorang bukan berarti kamu harus menjalin hubungan dekat dengannya. Jika ada rekan kerja yang membuatmu merasa lelah secara emosional, gak ada salahnya membatasi interaksi di luar urusan pekerjaan. Tetaplah bersikap sopan dan profesional, tetapi hindari percakapan yang terlalu panjang atau terlalu personal. Langkah sederhana ini bisa membantu mengurangi peluang munculnya konflik yang gak perlu.

Batasan yang sehat sangat penting dalam lingkungan kerja. Kamu gak wajib menjadi tempat curhat, pendengar setia, atau sasaran pelampiasan emosi orang lain setiap hari. Fokuslah pada komunikasi yang memang berkaitan dengan pekerjaan dan tanggung jawab bersama. Selain membuat energi lebih terjaga, cara ini juga membantu menjaga hubungan tetap profesional. Semakin jelas batasan yang kamu miliki, semakin mudah menjaga kenyamanan diri sendiri.

3. Bangun hubungan baik dengan rekan kerja yang positif

ilustrasi rekan kerja. (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi rekan kerja. (pexels.com/RDNE Stock project)

Saat menghadapi satu orang yang toksik, jangan sampai kamu lupa bahwa masih ada banyak orang lain di tempat kerja. Salah satu cara terbaik untuk menjaga semangat adalah membangun hubungan dengan rekan kerja yang suportif dan memiliki energi positif. Lingkungan pertemanan yang sehat bisa menjadi penyeimbang ketika suasana kerja sedang kurang menyenangkan. Kehadiran orang-orang seperti ini juga membuatmu merasa gak sendirian.

Cobalah lebih sering berinteraksi dengan rekan yang bisa diajak berdiskusi secara sehat, saling mendukung, dan menghargai orang lain. Obrolan ringan saat istirahat atau kerja sama yang menyenangkan dalam sebuah proyek dapat membantu memperbaiki mood sepanjang hari. Ketika fokusmu lebih banyak tertuju pada hubungan yang positif, pengaruh orang toksik akan terasa lebih kecil. Kantor pun gak lagi terasa seburuk yang dibayangkan.

4. Fokus pada tujuan dan perkembangan kariermu

ilustrasi seseroang bersama rekan kerja (pexels.com/RF._.studio)
ilustrasi seseroang bersama rekan kerja (pexels.com/RF._.studio)

Rekan kerja toksik memang bisa mengganggu suasana, tetapi jangan sampai mereka mengalihkan perhatianmu dari tujuan utama berada di kantor. Kamu datang untuk bekerja, belajar, mengembangkan kemampuan, dan membangun karier. Jika terlalu sibuk memikirkan perilaku mereka, energi yang seharusnya digunakan untuk berkembang justru habis untuk hal-hal yang gak membawa manfaat. Karena itu, penting untuk selalu mengingat prioritasmu.

Saat mulai merasa kesal atau terganggu, arahkan kembali fokus pada target yang sedang ingin dicapai. Mungkin ada keterampilan baru yang ingin dipelajari, proyek yang ingin diselesaikan dengan baik, atau pencapaian tertentu yang sedang kamu kejar. Fokus seperti ini membantu menjaga motivasi tetap stabil. Selain itu, kamu juga akan lebih mudah mengabaikan hal-hal kecil yang sebenarnya gak berpengaruh terhadap masa depanmu. Energi yang tersimpan bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih produktif.

5. Jangan ikut terjebak dalam perilaku yang sama

ilustrasi rekan kerja (pexels.com/Karolina Grabowska)
ilustrasi rekan kerja (pexels.com/Karolina Grabowska)

Berhadapan dengan orang yang toksik terkadang memunculkan keinginan untuk membalas perlakuan mereka. Misalnya membicarakan keburukan mereka di belakang, memberikan sindiran balik, atau sengaja bersikap dingin. Sekilas mungkin terasa memuaskan, tetapi cara seperti ini biasanya hanya memperpanjang masalah. Situasi yang awalnya kecil bisa berubah menjadi konflik yang lebih besar dan melelahkan.

Menjaga sikap profesional memang gak selalu mudah, tetapi hasilnya jauh lebih baik dalam jangka panjang. Kamu gak perlu membuktikan siapa yang paling benar atau paling kuat dalam sebuah konflik. Biarkan sikap dan kualitas kerjamu yang berbicara. Ketika kamu tetap tenang dan profesional, orang lain juga akan melihat siapa yang sebenarnya bersikap dewasa. Reputasi baik sering kali menjadi jawaban terbaik terhadap perilaku negatif orang lain.

6. Ketahui kapan harus mencari bantuan

ilustrasi rekan kerja (pexels.com/Alexander Suhorucov)
ilustrasi rekan kerja (pexels.com/Alexander Suhorucov)

Ada perbedaan antara rekan kerja yang sekadar menyebalkan dan rekan kerja yang sudah mengganggu kesehatan mental atau pekerjaanmu secara serius. Jika perilaku mereka mulai mengarah pada intimidasi, perundungan, fitnah, atau tindakan yang menghambat pekerjaan, jangan ragu mencari bantuan. Kamu gak harus menghadapi semuanya sendirian. Ada atasan, HR, atau pihak terkait yang bisa membantu menangani situasi tersebut.

Mencari bantuan bukan berarti kamu lemah atau gak mampu menyelesaikan masalah sendiri. Justru itu menunjukkan bahwa kamu memahami batas yang sehat dalam lingkungan kerja. Dokumentasikan kejadian yang terjadi jika memang diperlukan dan sampaikan secara profesional. Dengan langkah yang tepat, masalah bisa ditangani tanpa memperburuk situasi. Yang terpenting, jangan mengorbankan kesehatan mentalmu demi bertahan dalam kondisi yang merugikan.

Menghadapi rekan kerja toksik memang bukan pengalaman yang menyenangkan. Namun, keberadaan mereka gak harus menentukan bagaimana kamu menjalani hari-harimu di kantor. Selama kamu mampu menjaga batasan, mengelola emosi, dan tetap fokus pada hal-hal yang penting, pengaruh negatif mereka bisa diminimalkan. Memang gak selalu mudah, tetapi kemampuan ini akan sangat berguna sepanjang perjalanan kariermu. Setiap lingkungan kerja pasti memiliki tantangannya masing-masing.

Ingat, kamu gak bisa mengontrol sikap orang lain, tetapi kamu bisa mengontrol respons yang diberikan. Daripada membiarkan energi terkuras karena memikirkan perilaku rekan kerja yang toksik, lebih baik fokus pada hal-hal yang membuatmu berkembang dan bahagia. Bangun hubungan yang sehat, jaga profesionalisme, dan terus tingkatkan kemampuan diri. Dengan cara itu, kantor tetap bisa menjadi tempat yang nyaman meski gak semua orang di dalamnya menyenangkan. Jadi, jangan biarkan satu orang merusak semangatmu untuk terus bertumbuh dan berkarya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya

Related Articles

See More

6 Tips Tetap Betah di Kantor saat Ada Rekan Kerja Toksik, Bertahan!

01 Jul 2026, 13:11 WIBLife