Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Alasan Resign Butuh Keberanian, Wajar Kamu Jadi Maju Mundur

6 Alasan Resign Butuh Keberanian, Wajar Kamu Jadi Maju Mundur
ilustrasi seorang karyawan (pexels.com/Elienai Sauceda Mendoza)
Share Article

Kamu lagi pengin resign, tapi masih maju mundur terus? Mungkin keinginan itu sudah muncul sejak tahun kemarin. Akan tetapi, sampai tahun berganti bukannya tambah mantap malah dirimu menjadi kian ragu.

Kamu bukannya plinplan, kok. Keputusanmu yang tak kunjung bulat pasti ada alasannya. Pun lebih baik dirimu gak buru-buru berhenti kerja tanpa persiapan yang matang. Memang butuh keberanian untuk seorang karyawan meninggalkan kantor buat selamanya.

Kian lama masa kerjamu boleh jadi makin ciut nyalimu untuk menyatakan pengunduran diri pada atasan. Banyak situasi yang tak mengenakkan jelang hari terakhirmu bekerja dan setelah kamu resmi berhenti nanti. Sambil mikir-mikir lagi, ayo baca dulu.

1. Hak setiap karyawan, tapi bisa mendadak seperti dibenci seisi kantor

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Pengunduran diri dari pekerjaan merupakan hak setiap orang yang bekerja. Hak ini begitu kuat sampai-sampai perjanjian kerja pun tidak dapat menghilangkan kesempatan karyawan untuk resign kapan pun. Cuma ada sanksi apabila dirimu mengundurkan diri secara mendadak atau sebelum kontrak habis.

Sesama karyawan juga sebenarnya paham mengenai hal ini. Akan tetapi, tetap saja setelah mereka tahu kamu akan segera berhenti bekerja reaksinya dapat tak terduga. Ekspresi terkejut tentu wajar.

Namun, segera setelah kabar dirimu bakal resign tersebar, jangan kaget seandainya rasanya seperti dimusuhi oleh semua orang. Termasuk teman-teman yang tadinya dekat denganmu. Alasannya dapat karena mereka pasti kena getahnya, seperti diminta kerja dobel selama posisimu kosong. Atau, semata-mata wujud rasa gak siap kehilangan sosokmu tapi coba ditutupi.

2. Menghadapi berbagai pertanyaan dan pandangan orang

pria di balkon
ilustrasi pria di balkon (pexels.com/Ernesto Tijerina Cantú)

Setelah kamu berhenti bekerja dan meninggalkan lingkungan kantor, gantian dirimu berhadapan dengan keluarga serta tetangga. Seandainya mereka tahu keputusanmu resign pasti tidak semuanya mendukung serta menghargai pilihanmu. Tambah bagus nama kantormu, tambah mereka cenderung menyalahkan.

Seperti menganggap kamu tak bersyukur telah bekerja di kantor yang mentereng. Juga kecurigaan dirimu sebenarnya bukan mengundurkan diri, melainkan diberhentikan tanpa hormat. Itu maknanya, kamu diyakini melakukan kesalahan fatal dalam pekerjaan.

Lalu orang-orang sibuk meramalkan masa depanmu pasca resign. Boleh jadi lebih banyak orang meyakini hidupmu gak bakal lebih baik ketimbang selama kamu masih menjadi karyawan di sana. Dirimu tidak bisa meminta semua orang diam. Kamu cuma dapat menguatkan mentalmu dari waktu ke waktu.

3. Menatap ketidakpastian masa depan

pria di balkon
ilustrasi pria di balkon (pexels.com/Joon Tae Kim)

Kamu menjadi bahan omongan orang baik secara terang-terangan di hadapan maupun di belakangmu. Di sisi lain, dirimu juga tengah cemas menatap masa depan yang penuh ketidakpastian. Memang gak ada jaminan kehidupanmu selanjutnya akan lebih baik dibandingkan saat masih bekerja di kantor lama.

Utamanya, jika ketika kamu mengundurkan diri dalam kondisi belum memperoleh pekerjaan pengganti. Dari hari ke hari, sejak dirimu bangun tidur sampai tidur lagi rasanya cuma menatap ketidakpastian yang membuatmu cemas. Segalanya mungkin baik keberhasilan maupun kegagalan.

Namun, dalam keadaan pekerjaan belum tergenggam, bayang-bayang kegagalan terlihat lebih nyata. Beberapa bulan lalu dirimu tinggal mengerjakan tugas yang diberikan atasan. Sekarang kamu mesti menentukan langkah sendiri padahal belum tahu arah yang akan dituju.

4. Rasanya bisa seperti mulai lagi dari nol meski pengalaman segudang

menatap gedung-gedung
ilustrasi menatap gedung-gedung (pexels.com/MART PRODUCTION)

Di dunia kerja, memiliki pengalaman jelas lebih baik daripada sama sekali belum ada. Potensi untukmu lebih cepat mendapatkan pekerjaan baru cukup besar. Sebelum resign, kamu juga percaya diri soal ini.

Namun, selepas dirimu berhadapan langsung dengan para pelamar muda yang menjadi pesaingmu, kepercayaan diri itu bisa runtuh perlahan-lahan. Sebagian dari mereka juga berpengalaman. Bahkan tak sedikit yang pengalamannya melebihi pengalamanmu.

Sebagian lagi belum punya pengalaman apa-apa. Akan tetapi, mereka lebih muda, energik, kreatif, serta memiliki skill yang belum tentu ada padamu. Apa pun yang coba dilakukan olehmu, melamar pekerjaan atau bikin usaha, rasanya benar-benar seperti mulai dari nol lagi.

5. Memecah cangkang kenyamanan yang belum tentu membuatmu lebih berkembang

mendekap dokumen
ilustrasi mendekap dokumen (pexels.com/Vanessa Garcia)

Kamu memutuskan resign barangkali karena sudah tidak nyaman bekerja di sana. Banyak masalah dan dirimu merasa tidak bisa berkembang. Namun, setelah kamu berada di luar kantor boleh jadi baru menyadari bahwa di sana masih lebih enak daripada sekarang.

Ini seperti anak ayam yang tak lagi nyaman berada di dalam cangkang telur. Tubuhnya makin membesar dan cangkang itu kian sempit baginya. Ia ingin keluar dengan memecahkan cangkang.

Namun, setelah cangkang pecah ternyata anak ayam berhadapan dengan tikus, kucing, burung, ular, dan binatang-binatang lain yang siap memangsanya. Kalau anak ayam beruntung, ia tumbuh sampai besar. Bila tidak, ia habis sebagai santapan hewan lain. Demikian pula situasimu pasca resign.

6. Sekali pergi tidak bisa kembali

pria dalam gedung
ilustrasi pria dalam gedung (pexels.com/Nam Phong Bùi)

Pintu kantor tidak pernah sama dengan pintu rumah. Kamu bisa kapan saja meninggalkan rumah untuk berbagai keperluan lalu kembali membukanya dan masuk. Bahkan ketika dirimu melakukan kesalahan besar, pintu rumah keluarga selalu terbuka untukmu.

Pintu kantor tak begitu. Ia memiliki aturannya sendiri. Begitu kamu memilih untuk resign, tidak ada kesempatan buatmu kembali menjadi karyawan di sana. Meski tadinya dirimu mungkin karyawan terbaik.

Ini memperjelas bahwa di dunia kerja, kamu atau siapa pun bukan pusatnya. Orang datang dan pergi. Tidak ada yang benar-benar merasa kehilangan dirimu karena selalu ada orang yang siap menggantikanmu. Ini sebabnya keputusan resign hendaknya bukan karena emosi sesaat.

Artikel ini tidak dimaksudkan untuk membuatmu tambah takut buat mengundurkan diri. Tetaplah melakukannya apabila sudah melalui pertimbangan yang matang. Akan tetapi, siapkan dulu baik mental maupun keuanganmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More