Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Wisnu Phaewchimplee)
Langkah pertama adalah melakukan audit sederhana terhadap jejak digital sendiri. Coba cari namamu di Google menggunakan beberapa variasi, kemudian lihat hasil yang muncul di halaman pertama. Periksa juga akun media sosial lama, bio, foto profil, unggahan publik, komentar, serta akun yang sudah tidak pernah digunakan.
Selanjutnya, pisahkan antara ruang personal dan ruang profesional sesuai kebutuhan. Kamu tetap boleh membagikan kehidupan sehari-hari, hobi, perjalanan, musik, atau hal yang kamu sukai. Namun, pastikan pengaturan privasi sesuai dengan tingkat kenyamananmu.
Untuk ruang profesional, gunakan profil yang menunjukkan kemampuan, pengalaman, proyek, pendidikan, dan minat karier secara jelas. Digital footprint yang baik tidak harus terlihat sempurna, tetapi sebaiknya konsisten dengan siapa dirimu dan arah karier yang ingin kamu bangun.
Terakhir, jangan hanya fokus menghapus hal-hal yang dianggap negatif. Ciptakan juga jejak positif secara konsisten. Bagikan proyek, tulis pengalaman belajar, ikut diskusi industri secara sopan, tampilkan portofolio, atau berikan komentar yang menunjukkan pemikiranmu.
"Di dunia saat ini, pada dasarnya tidak mungkin untuk mengendalikan sepenuhnya kehadiran online kamu, karena ada banyak cara kita meninggalkan jejak digital kita saat berbelanja, bersosialisasi, dan hidup online. Apa yang orang lihat tentang kamu secara daring terus berkembang seiring kamu menjalani hidup, namun kamu tetap bisa bersikap bijaksana dan terencana dalam berkomunikasi," jelas Lydia Lazar.
Pada akhirnya, digital footprint adalah bagian dari reputasi yang terbentuk dari aktivitasmu di dunia online. Jejak tersebut bisa menjadi risiko jika berisi konten yang merusak citra profesional, tetapi juga bisa menjadi aset jika menunjukkan kemampuan, pengalaman, dan pemikiran yang relevan.