Setiap kali membuka ponsel, menonton televisi, atau membaca koran, rasanya selalu ada berita baru yang menunggu. Mulai dari bencana alam, konflik, kriminalitas, persoalan ekonomi, hingga berbagai masalah sosial muncul silih berganti. Tampaknya, berita buruk tidak pernah berhenti berdatangan dalam kehidupan kita.
Berita Buruk Terus Datang, Haruskah Menerima atau Mengabaikan?

- Berita buruk dapat membuat orang kewalahan, merasa tidak berdaya, atau menjauh dari informasi, tetapi mengurangi konsumsi sesekali bisa menjadi cara menetapkan batas.
- Sebagian orang tetap mengikuti kabar buruk untuk mengurangi ketidakpastian, memahami risiko, mempersiapkan tindakan, dan mengetahui persoalan yang memengaruhi masyarakat maupun orang terdekat.
- Konsumsi berita perlu dikelola secara selektif melalui waktu khusus, sumber kredibel, pembatasan notifikasi, dan jeda, terutama jika kebiasaan mencari berita mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Bahkan, beberapa orang akhirnya memilih menghindari berita karena merasa informasi yang diterima terlalu banyak, terlalu negatif, atau membuat mereka tidak berdaya. Lantas, bagaimana seharusnya kita bersikap ketika berita buruk terus datang? Haruskah kita menerima berita buruk yang terus berdatangan atau justru mengabaikannya? Berikut penjelasannya.
1. Berita buruk bisa membuat kita ingin menjauh

ilustrasi ingin menjauh dari berita buruk (pexels.com/Andrea Piacquadio) Ketika berhadapan dengan berita buruk, kita seolah dihadapkan pada dua pilihan, yaitu menerimanya atau mengabaikannya. Tidak jarang, beberapa orang memilih untuk langsung mengabaikannya. Mengapa pilihan tersebut bisa terjadi?
Menurut Reuters Institute, orang menghindari berita karena berbagai alasan. Sebagian merasa berita terlalu negatif atau membuat mereka kewalahan, sementara yang lain menganggap berita terlalu sulit diikuti, tidak relevan dengan kehidupan mereka, atau membuat mereka merasa tidak berdaya.
Hal ini menunjukkan adanya dilema dalam hubungan kita dengan berita. Kita membutuhkan informasi, tetapi pada saat yang sama dapat merasa lelah ketika terus-menerus berhadapan dengan berbagai persoalan. Karena itu, mengurangi konsumsi berita sesekali tidak selalu berarti mengabaikan dunia. Bisa saja seseorang sedang mencoba memberikan batas terhadap informasi yang masuk setiap hari.
2. Lalu, mengapa masih ada yang membaca berita buruk?

ilustrasi membaca berita di koran (pexels.com/Andrea Piacquadio) Pertanyaan berikutnya justru lebih menarik. Jika berita buruk dapat membuat kita merasa lelah, mengapa beberapa orang justru tetap membacanya? Salah satu alasannya adalah keinginan untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika terjadi peristiwa yang mengkhawatirkan, informasi dapat membantu kita memahami apa yang sedang berlangsung.
Misalnya, ketika terjadi bencana alam, kita ingin mengetahui lokasi terdampak, kondisi terkini, dan apakah ada risiko yang mungkin memengaruhi diri sendiri maupun orang-orang terdekat. Berita juga dapat membantu kita mempersiapkan diri. Informasi mengenai cuaca ekstrem, kebakaran hutan, gangguan transportasi, atau perubahan ekonomi tertentu bisa menjadi pertimbangan dalam menentukan tindakan.
Selain itu, ada pula alasan sosial. Kita mungkin mengikuti sebuah berita karena ingin memahami persoalan yang sedang dihadapi masyarakat atau mengetahui apa yang terjadi pada orang lain. Dengan demikian, membaca berita buruk tidak selalu berasal dari rasa ingin tahu yang berlebihan. Dalam situasi tertentu, mengetahui informasi yang tidak menyenangkan justru merupakan kebutuhan.
3. Persoalan muncul ketika konsumsi berita sulit dikendalikan

ilustrasi sulit membedakan berita yang harus dikonsumsi atau tidak (pexels.com/Michael Burrows) Persoalan muncul ketika konsumsi berita berubah menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan. Kita mungkin mulai kesulitan menentukan berita mana yang memang perlu diketahui dan mana yang sebaiknya dilewatkan.
Sebuah penelitian berjudul Caught in a Dangerous World: Problematic News Consumption and Its Relationship to Mental and Physical Ill-Being (2023) membahas konsep problematic news consumption. Istilah ini menggambarkan pola konsumsi berita yang ditandai dengan keterikatan berlebihan, kesulitan mengatur konsumsi berita, hingga gangguan terhadap kehidupan sehari-hari.
Penelitian tersebut menemukan bahwa orang dengan tingkat problematic news consumption yang lebih tinggi cenderung melaporkan kondisi mental dan fisik yang lebih buruk. Namun, temuan ini bukan berarti membaca berita buruk secara otomatis menyebabkan stres atau masalah kesehatan mental. Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika kita mulai sulit berhenti mencari berita, terus memikirkan informasi yang dibaca, atau merasa konsumsi berita sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada kondisi seperti inilah, kebiasaan mengonsumsi berita dapat menjadi sesuatu yang perlu kita evaluasi.
4. Menerima berita bukan berarti harus menyerap semuanya

ilustrasi membaca berita di ponsel (pexels.com/Ivan S) Di sinilah mungkin letak jalan tengahnya. Kita tidak harus memilih antara mengetahui semua berita dan tidak mengetahui berita sama sekali. Melainkan, kita perlu lebih selektif dalam memilih berita yang ingin kita ikuti.
Misalnya, ketika muncul berita tentang sebuah bencana, kita bisa mencari informasi mengenai apa yang terjadi, siapa yang terdampak, dan apakah ada sesuatu yang perlu kita lakukan. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, kita tidak harus terus-menerus mengikuti setiap pembaruan, video, komentar, atau spekulasi yang muncul di media sosial.
Cara seperti ini berbeda dengan mengabaikan kenyataan. Sebab, kita tetap mengakui bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi, tetapi memberikan batas terhadap seberapa jauh informasi tersebut masuk ke dalam kehidupan sehari-hari.
5. Kita perlu mengatur hubungan dengan berita, bukan memutusnya

ilustrasi lelah membaca berita buruk di media sosial (pexels.com/Alex Green) Mengatur konsumsi berita dapat dimulai dari hal sederhana. Berikut beberapa langkah yang dapat kamu lakukan:
Tentukan waktu tertentu untuk membaca berita. Kita tidak harus memeriksa berita setiap beberapa menit hanya karena ada notifikasi baru.
Pilih sumber berita yang kredibel dan tidak perlu membaca laporan yang sama berulang kali dari berbagai sumber.C
Coba untuk mematikan sebagian notifikasi berita yang tidak benar-benar diperlukan. Reuters Institute mencatat bahwa notifikasi berita memang dapat membantu membangun kebiasaan mengakses berita, tetapi pada saat yang sama banyak konsumen merasa kewalahan oleh berbagai notifikasi yang datang dari aplikasi berita, media sosial, dan platform lainnya.
Berikan jeda setelah membaca berita yang berat. Kita tidak harus langsung berpindah dari satu kabar buruk ke kabar buruk lainnya.
Jangan hanya mencari perkembangan terbaru. Cobalah mencari konteks dan informasi mengenai solusi. Menurut penelitian yang berjudul The up-down-up pandemic news experience: A mixed-method approach to its negative and positive effects on psychological wellbeing (2022), pengalaman konsumsi berita selama pandemi menunjukkan bahwa berita tidak hanya menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan kemarahan, tetapi dalam situasi tertentu juga dapat memberikan rasa tenang, harapan, dan motivasi.
6. Berita buruk tetap perlu diketahui, tetapi tidak harus memenuhi kepala setiap hari

ilustrasi membaca berita buruk (pexels.com/Ron Lach) Pada kenyataannya, dunia memang tidak selalu memberikan kabar baik. Konflik, bencana, kriminalitas, dan berbagai persoalan sosial akan tetap menjadi bagian dari kehidupan. Karena itu, menghindari seluruh berita buruk mungkin bukan jawaban.
Namun, membiarkan diri terus-menerus terpapar kabar negatif juga bukan satu-satunya cara untuk menjadi orang yang peduli terhadap keadaan sekitar. Kita bisa tetap mengikuti berita sambil menetapkan batas. Sebab, menjadi orang yang terinformasi tidak sama dengan menjadi orang yang terus-menerus terpapar informasi.
Memahami bahwa berita buruk terus datang adalah bagian dari memahami dunia. Namun, mengetahui kapan harus berhenti membaca juga merupakan bagian dari menjaga diri. Jadi, kalau ada berita buruk, apakah kamu menerimanya atau mengabaikannya?
Referensi
Hwang J, Borah P, Shah D, Brauer M. The Relationship among COVID-19 Information Seeking, News Media Use, and Emotional Distress at the Onset of the Pandemic. Int J Environ Res Public Health 2021. Diakses September 2026.
Nguyen A, Glück A, Jackson D. The up-down-up pandemic news experience: A mixed-method approach to its negative and positive effects on psychological wellbeing. Journalism (Lond) 2022. Diakses September 2026.
McLaughlin B, Gotlieb MR, Mills DJ. Caught in a Dangerous World: Problematic News Consumption and Its Relationship to Mental and Physical Ill-Being. Health Commun 2023. Diakses September 2026.
Overview and key findings of the 2026 Digital News Report. Reuters Institute. Diakses September 2026.
Walking the notification tightrope: How to engage audiences while avoiding overload. Reuters Institute. Diakses September 2026.





















