Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Aturan Jam Kerja PRT Menurut UU Baru, Bukan 24 Jam!
ilustrasi jam kerja PRT yang manusiawi menurut UU pPRT (pexels.com/ Vika Glitter)
  • UU PPRT menegaskan jam kerja PRT tidak boleh 24 jam, dengan hak istirahat cukup dan batas waktu kerja harian yang disepakati bersama.
  • Pekerja rumah tangga berhak atas libur mingguan serta kompensasi lembur yang adil bila bekerja di luar jam normal.
  • Majikan wajib menjamin waktu tidur dan fasilitas layak agar PRT dapat beristirahat optimal demi kesehatan dan produktivitas kerja.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Apa pernah merasa gak enak hati pas lihat Pekerja Rumah Tangga (PRT) kamu masih menyetrika tengah malam padahal subuh sudah harus bangun lagi? Mempekerjakan asisten memang membantu buat keseharian, tapi sering kamu lupa kalau mereka juga manusia yang butuh istirahat. Makanya, memahami jam kerja PRT yang manusiawi menurut UU PPRT itu penting supaya suasana rumah tangga kamu tetap harmonis dan minim drama.

Bayangkan kalau kamu disuruh kerja 24 jam nonstop tanpa jeda, pasti rasanya ingin resign atau minimal kena mental, kan? Kalau hal ini terus dibiarkan tanpa aturan jelas, produktivitas mereka pasti bakal menurun dan kesehatan mereka jadi taruhannya. Kamu tentu gak mau punya lingkungan rumah yang toksik cuma gara-gara urusan jam kerja yang berantakan dan bikin asistenmu gak betah, kan?

1. Atur waktu istirahat yang cukup

ilustrasi biarkan PRT mengambil istirahat siang sejenak (pexels.com/www.kaboompics.com)

Sama seperti kamu yang butuh istirahat sejenak di kantor, PRT juga perlu waktu buat napas di sela-sela tumpukan cucian atau urusan dapur. UU PPRT menekankan kalau setiap pekerja berhak dapat jeda istirahat setelah bekerja selama beberapa jam berturut-turut setiap harinya. Jangan sampai mereka merasa kayak robot yang gak boleh berhenti gerak atau dilarang duduk manis sebentar seharian penuh.

Kamu bisa kasih mereka waktu istirahat sekitar satu sampai dua jam di siang hari buat sekadar rebahan atau makan dengan tenang tanpa gangguan. Waktu luang ini krusial buat nge-recharge energi mereka sebelum lanjut mengerjakan tugas rumah lainnya sampai sore nanti. Dengan begini, mereka bakal kerja lebih semangat dan gak gampang emosi karena kecapekan yang berlebihan.


2. Batasi jam kerja harian maksimal

ilustrasi PRT memiliki batasan jam kerja yang jelas (pexels.com/Liliana Drew)

Idealnya, jam kerja dalam sehari gak boleh bablas sampai lewat batas kewajaran yang sudah disepakati di awal kontrak kerja. Meski mereka tinggal di dalam rumah atau stay-in, bukan berarti mereka harus selalu standby melayani kebutuhan kamu setiap menit dan setiap saat. Aturan yang jelas soal batasan jam ini bakal membantu kamu dan PRT untuk saling menghargai batasan privasi masing-masing.

Kamu bisa terapkan sistem kerja delapan sampai sepuluh jam sehari atau sesuai kesepakatan tertulis yang adil buat kedua belah pihak. Pastikan mereka tahu kapan jam mulai kerja dan kapan waktunya "pulang" alias berhenti total dari segala urusan domestik rumah tangga. Kalau jadwalnya jelas, urusan rumah jadi lebih terorganisir dan asistenmu punya waktu buat dirinya sendiri tanpa merasa terbebani, deh.


3. Berikan hak libur setiap pekan

ilustrasi berikan PRT libur akhir pekan (pexels.com/Anatolii Hrytsenko)

Siapa yang gak suka hari libur atau weekend buat santai sejenak dari rutinitas yang membosankan? Begitu juga dengan PRT yang butuh waktu untuk bersosialisasi, telepon keluarga di kampung, atau sekadar jalan-jalan keluar rumah. Memberikan hak libur minimal satu hari dalam seminggu adalah bentuk penghargaan paling nyata buat jasa-jasa mereka selama ini, lho.

Libur mingguan ini penting untuk menjaga kesehatan mental mereka supaya gak gampang jenuh atau stres sama rutinitas rumah yang itu-itu saja. Kalau mereka balik dari liburan dengan perasaan senang, kerjaan di rumah pasti bakal beres dengan hasil yang jauh lebih maksimal. Anggap aja ini investasi kecil biar ART kamu betah lama kerja bareng kamu dan gak hobi minta pulang mendadak, ya.


4. Sepakati jam lembur secara adil

ilustrasi adanya kesepakatan antara PRT dan majikan (pexels.com/Liliana Drew)

Kadang ada kondisi darurat yang bikin PRT harus kerja lebih lama dari jadwal biasanya, misalnya pas kamu lagi ada acara keluarga atau syukuran. Di sinilah pentingnya komunikasi soal jam lembur yang gak boleh diputuskan secara sepihak tanpa persetujuan dari asistenmu terlebih dahulu. Kamu harus bicarakan baik-baik dan tanya kesediaan mereka sebelum menambah beban kerja di luar jam kerja utama yang sudah disepakati.

Jangan lupa buat kasih kompensasi tambahan atau uang lembur yang sesuai sebagai bentuk apresiasi atas waktu dan tenaga ekstra mereka. Memberikan imbalan yang layak bakal bikin mereka merasa sangat dihargai dan gak merasa dieksploitasi oleh majikan sendiri secara semena-mena. Transparansi soal uang lembur ini adalah kunci utama buat menghindari konflik atau rasa gak puas di masa depan, lho.


5. Pastikan waktu tidur gak terganggu

ilustrasi tidur yang nyenyak (pexels.com/Wings Panic)

Tidur yang berkualitas menjadi hak dasar setiap manusia yang gak boleh ditawar, termasuk bagi asisten yang membantu urusan rumah kamu setiap hari. Pastikan mereka dapat waktu tidur yang cukup, minimal tujuh sampai delapan jam setiap malam tanpa ada gangguan suara atau panggilan mendadak. Jangan biasakan memanggil mereka buat hal-hal sepele pas jam istirahat malam sudah dimulai kecuali dalam keadaan benar-benar darurat.

Fasilitas ruang tidur yang layak juga jadi faktor penting biar mereka bisa istirahat dengan nyaman setelah seharian kerja keras banting tulang. Kalau istirahat mereka berkualitas, konsentrasi saat kerja keesokan harinya pasti bakal lebih bagus dan mereka jadi minim melakukan kesalahan. Menghargai waktu tidur mereka berarti kamu juga sedang menghargai kesehatan serta keselamatan kerja mereka di dalam rumahmu, nih.

Intinya, menerapkan jam kerja PRT yang manusiawi menurut UU PPRT bukan cuma soal patuh pada aturan hukum, tapi soal memanusiakan manusia. Dengan menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan adil, kamu dan asisten rumah tangga bisa menjalin kerja sama yang awet serta saling menguntungkan dalam jangka panjang. Yuk, mulai jadi majikan yang bijak dengan lebih peduli pada kesejahteraan mereka mulai dari sekarang!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team