Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Alasan Budaya asal Bapak Senang Bisa Merugikan Banyak Pihak

5 Alasan Budaya asal Bapak Senang Bisa Merugikan Banyak Pihak
ilustrasi asal bapak senang (pexels.com/MART PRODUCTION)
Intinya Sih
  • Budaya asal bapak senang membuat keputusan sering diambil tanpa mendengar suara pihak paling terdampak, sehingga kebutuhan nyata masyarakat kerap terabaikan.
  • Kebiasaan mencari kesan positif di depan atasan menyebabkan anggaran dan promosi lebih berpihak pada pencitraan daripada hasil kerja dan manfaat jangka panjang.
  • Dampak jangka panjangnya, masyarakat terbiasa menilai keberhasilan dari tampilan luar, sementara kejujuran dan evaluasi kritis makin jarang dihargai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Ada kebiasaan yang sering dianggap wajar karena sudah berlangsung lama, yaitu mengatakan hal yang ingin didengar atasan meskipun kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Budaya asal bapak senang tidak selalu muncul dalam rapat besar atau lingkungan kerja formal. Kebiasaan ini juga bisa ditemukan dalam urusan pelayanan publik, pendidikan, komunitas, bahkan lingkungan tempat tinggal.

Sekilas terlihat sepele karena tidak menimbulkan konflik secara langsung, padahal dampaknya sering dirasakan oleh orang yang sama sekali tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Sederhananya, budaya asal bapak senang bisa merugikan banyak pihak. Oleh karena itu, menarik untuk melihat sisi lain dari kebiasaan yang sering dianggap lumrah ini.

1. Orang yang paling terdampak justru sering tidak punya suara

ilustrasi jalanan berlubang
ilustrasi jalanan berlubang (pexels.com/Guillaume Meurice)

Banyak keputusan dibuat berdasarkan laporan dari atas ke atas, sementara orang yang benar-benar merasakan dampaknya berada di lapisan paling bawah. Ketika informasi yang naik hanya kabar baik, keluhan dari masyarakat, pelanggan, murid, atau warga sering tidak ikut terbawa. Akibatnya, kebutuhan yang paling mendesak malah luput dari perhatian.

Contohnya bisa terlihat saat fasilitas umum dinyatakan baik-baik saja karena laporan resmi menunjukkan hasil memuaskan. Di sisi lain, warga masih menghadapi jalan rusak, saluran air bermasalah, atau pelayanan yang lambat. Kondisi tersebut membuat masalah terus berulang karena pihak yang berwenang merasa semuanya sudah berjalan sesuai rencana. Pada akhirnya, kelompok yang paling terdampak justru menjadi pihak yang paling jarang didengar.

2. Anggaran sering habis untuk hal yang terlihat bagus di laporan

ilustrasi anggaran
ilustrasi anggaran (pexels.com/Defrino Maasy)

Tidak semua pengeluaran dilakukan berdasarkan kebutuhan paling mendesak. Dalam beberapa kasus, dana justru diarahkan pada program yang mudah dipamerkan karena terlihat menarik saat dipresentasikan kepada atasan. Sementara itu, kebutuhan yang manfaatnya lebih besar bagi masyarakat sering berada di urutan belakang.

Misalnya, sebuah fasilitas dicat ulang berkali-kali agar terlihat rapi saat kunjungan, padahal peralatan utamanya sudah lama membutuhkan perbaikan. Hasilnya memang terlihat bagus dalam dokumentasi, tetapi manfaat jangka panjangnya tidak terlalu terasa. Situasi seperti ini membuat sumber daya yang terbatas digunakan untuk mempercantik permukaan, bukan untuk menyelesaikan akar persoalan. Kerugiannya akhirnya ditanggung oleh banyak orang yang bergantung pada layanan tersebut.

3. Orang yang pandai mencari muka lebih cepat naik

ilustrasi asal bapak senang
ilustrasi asal bapak senang (pexels.com/ Gustavo Fring)

Bekerja dengan baik dan bekerja agar terlihat baik adalah dua hal yang berbeda. Dalam lingkungan yang terlalu mengutamakan kesan positif di hadapan atasan, kemampuan membangun citra sering lebih menonjol dibandingkan dengan hasil kerja sebenarnya. Kondisi ini menciptakan persaingan yang kurang sehat.

Banyak orang akhirnya menyadari bahwa kerja keras tidak selalu menjadi faktor utama untuk mendapat kesempatan lebih besar. Sebagian mulai mengikuti cara yang sama karena merasa itulah jalan yang paling aman. Lama-kelamaan, lingkungan tersebut dipenuhi orang yang sibuk menjaga penampilan profesional di depan pimpinan, tetapi kurang tertarik menyelesaikan persoalan yang ada. Kualitas kerja pun perlahan menjadi nomor dua.

4. Kesalahan lama bisa terus berulang tanpa ada yang sadar

ilustrasi kesalahan
ilustrasi kesalahan (pexels.com/Vlada Karpovich)

Suatu masalah biasanya bisa diperbaiki jika ada keberanian untuk mengakui bahwa masalah tersebut memang ada. Namun, budaya asal bapak senang sering membuat kegagalan dibungkus dengan berbagai alasan agar tetap terlihat sebagai keberhasilan. Akibatnya, pelajaran penting dari kesalahan sebelumnya tidak pernah benar-benar dipelajari.

Hal ini sering terlihat pada program atau kegiatan yang terus dijalankan setiap tahun meskipun hasilnya biasa saja. Karena laporan akhir selalu terdengar positif, evaluasi yang jujur menjadi sulit dilakukan. Orang-orang yang datang setelahnya akhirnya mengulangi kekeliruan yang sama. Waktu, tenaga, dan biaya kembali terbuang untuk masalah yang seharusnya sudah selesai sejak lama.

5. Masyarakat dibiasakan percaya pada pencitraan

ilustrasi pencitraan
ilustrasi pencitraan (pexels.com/Asad Photo Maldives)

Dampak paling panjang dari budaya ini mungkin bukan soal uang atau jabatan, melainkan cara masyarakat memandang sebuah keberhasilan. Ketika yang terus ditampilkan hanya sisi baik, banyak orang terbiasa menilai sesuatu dari kemasan luar tanpa melihat kondisi sebenarnya. Padahal kenyataan sering jauh lebih kompleks.

Akibatnya, pencitraan perlahan dianggap lebih penting daripada perbaikan nyata. Orang yang berani menunjukkan masalah dianggap membawa kabar buruk, sedangkan pihak yang pandai menampilkan kesuksesan lebih mudah mendapat perhatian. Kebiasaan semacam ini membuat diskusi publik kehilangan kejujuran. Pada titik tertentu, masyarakat kesulitan membedakan mana pencapaian yang benar-benar terjadi dan mana yang sekadar terlihat meyakinkan.

Budaya asal bapak senang tidak selalu muncul dalam bentuk yang besar dan mencolok. Justru karena sering dianggap biasa, kebiasaan ini dapat bertahan lama tanpa banyak dipertanyakan. Jika kenyamanan segelintir orang terus ditempatkan di atas kenyataan yang dialami banyak orang, bukankah yang paling dirugikan justru mereka yang tidak pernah ikut menentukan keputusan? Oleh sebab itu, sebenarnya budaya asal bapak senang bisa merugikan banyak pihak dan ada baiknya kamu hindari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More