ilustrasi Purdue University, Amerika Serikat, universitas, kuliah (unsplash.com/Cole Parsons)
Kalau kamu tertarik mengikuti salah satunya, kampus bisa menjadi tempat pertama yang perlu dicek. Layanan karier kampus, program internship, jaringan alumni, atau informasi dari fakultas bisa membuka akses ke berbagai kesempatan. Kamu juga bisa mencari peluang secara mandiri melalui platform lowongan kerja seperti Handshake dan LinkedIn Jobs. Jangan lupa gunakan kata kunci "internship" atau "externship" saat melakukan pencarian supaya hasilnya lebih relevan.
Networking juga gak kalah penting, terutama kalau kamu sudah punya bidang karier yang ingin dituju. Kamu bisa menghubungi alumni kampus yang bekerja di bidang tersebut atau memanfaatkan komunitas profesional di media sosial. Setelah mendapatkan pengalaman, masukkan internship atau externship ke CV beserta tugas dan skill yang benar-benar kamu pelajari. Dengan begitu, recruiter gak hanya melihat nama programnya, tapi juga memahami kontribusi dan kemampuan yang sudah kamu dapatkan.
Pada dasarnya, internship dan externship sama-sama bisa menjadi jalan untuk mengenal dunia profesional, tapi pengalaman yang didapatkan cukup berbeda. Internship lebih cocok kalau kamu ingin terlibat langsung dalam pekerjaan sekaligus membangun skill, sedangkan externship bisa menjadi pilihan kalau kamu ingin mengeksplorasi profesi dalam waktu relatif singkat.
Keduanya juga dapat membantu memperluas networking dan membuat CV-mu punya pengalaman yang relevan. Jadi, kalau kamu sedang mempersiapkan diri masuk dunia kerja, gak ada salahnya memanfaatkan kesempatan yang paling sesuai dengan tujuan kariermu.