Pembahasan soal gaji biasanya jadi salah satu bagian yang paling bikin deg-degan saat interview. Kamu mungkin sudah punya ekspektasi sendiri sebelum datang, apalagi kalau sudah cari tahu gaji untuk posisi tersebut atau menghitung dari pengalaman kerja sebelumnya. Tapi begitu recruiter menyebut nominalnya, ternyata lebih rendah dari yang kamu bayangkan. Mau bilang keberatan, takut kesempatan kerja jadi hilang. Diam saja, nanti kalau benar-benar diterima dengan angka itu malah kamu sendiri yang kepikiran.
Bagaimana Cara Bahas Gaji di Bawah Ekspektasi saat Interview?

- Kandidat disarankan tidak bereaksi spontan saat nominal di bawah ekspektasi, melainkan menyampaikan kisaran gaji yang diharapkan secara sopan dan membuka ruang diskusi.
- Saat menjelaskan ekspektasi, kandidat perlu mengaitkannya dengan pengalaman, tanggung jawab relevan, klien yang pernah ditangani, atau keterampilan yang dibutuhkan posisi.
- Sebelum mengambil keputusan, tanyakan komponen tawaran seperti tunjangan dan bonus, sebutkan batas minimum bila perlu, lalu lanjutkan proses hingga tawaran akhir jelas.
Soal gaji memang boleh dibicarakan saat interview. Kamu gak harus langsung mengiyakan angka yang ditawarkan recruiter, tetapi gak perlu juga menjawab dengan penolakan mentah-mentah. Berikut sejumlah cara bahas gaji di bawah ekspektasi saat interview.
1. Jangan refleks bilang, “Wah, kecil banget”

ilustrasi interview kerja (pexels.com/RDNE Stock project) Bayangkan recruiter baru saja menyebut, “Untuk posisi ini, gajinya di angka Rp7 juta sampai Rp8 juta.” Sementara dari awal kamu berharap Rp10 juta. Mungkin dalam hati langsung muncul, “Hah? Kok jauh banget?” Apalagi kalau kamu sebelumnya sudah membayangkan bakal mendapat gaji yang lebih tinggi di tempat baru.
Rasa kagetnya wajar, tetapi jangan sampai langsung keluar dalam bentuk komentar seperti, “Wah, kecil banget.” Kamu tetap bisa menunjukkan bahwa angka tersebut belum sesuai dengan harapanmu. Misalnya, “Kalau dari pengalaman saya dan tanggung jawab di posisi ini, saya sebenarnya berharap di kisaran Rp9 juta sampai Rp10 juta. Apakah angka tersebut masih bisa didiskusikan?” Dengan begitu, kamu gak menutup pembicaraan hanya karena angka pertama yang disebut belum cocok.
2. Jelaskan kenapa kamu menyebut angka tersebut

ilustrasi interview kerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Setelah mendengar ekspektasimu, recruiter mungkin akan bertanya, “Kenapa di angka tersebut?” Nah, bagian ini kadang bikin kandidat bingung. Kalau jawabannya cuma, “Karena saya merasa pengalaman saya sudah cukup,” tentu masih terlalu umum.
Kamu bisa menceritakan pengalaman yang memang berhubungan dengan pekerjaan tersebut. Misalnya, kamu sudah beberapa tahun mengerjakan pekerjaan serupa, pernah memegang klien besar, atau punya kemampuan tertentu yang dibutuhkan untuk posisi itu. Gak perlu menjelaskan panjang lebar seperti sedang presentasi. Cukup kasih gambaran kenapa angka yang kamu sebut memang ada dasarnya.
3. Cari tahu dulu apa saja yang termasuk dalam tawaran kerja

ilustrasi interview kerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Mendengar gaji Rp8 juta juga belum tentu berarti kamu sudah tahu berapa banyak uang yang bakal kamu terima setiap bulan. Bisa jadi itu merupakan gaji pokok, sementara masih ada tunjangan makan, transportasi, bonus, asuransi, atau fasilitas lain dari perusahaan. Daripada langsung menganggap tawarannya terlalu kecil, kamu bisa bertanya lebih detail.
Baiknya kamu bertanya, “Kalau Rp8 juta itu sudah termasuk tunjangan atau belum, ya?” Misalnya, ternyata masih ada tambahan tunjangan atau bonus tahunan, hitungan gaji yang kamu peroleh tentu berbeda dengan perusahaan yang memberikan Rp8 juta tanpa tambahan apa pun. Kamu juga jadi punya gambaran yang lebih jelas soal pemasukan yang akan kamu dapatkan kalau nantinya diterima di perusahaan tersebut.
4. Kalau punya angka minimum, jangan takut menyebutkannya

ilustrasi interview kerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Ada segelintir orang yang memang punya batas tertentu soal gaji. Misalnya, kamu harus pindah kota dan bayar kos sendiri, sementara ongkos ke kantor juga cukup besar. Kalau gajinya terlalu mepet, pengeluaran bulanan malah jadi semakin berat. Tentu kamu gak mau baru sadar soal ini setelah menerima pekerjaan, kan?
Karena itu, kalau memang sudah punya angka minimum, gak perlu menyembunyikannya. “Saya sebenarnya berharap minimal mendapat Rp9 juta karena ada beberapa pertimbangan dari pengalaman sebelumnya dan kebutuhan saya. Kira-kira masih ada kemungkinan untuk penyesuaian?” Dari jawaban recruiter, kamu bisa tahu apakah perusahaan masih bisa diajak bernegosiasi atau memang sudah punya angka paten yang gak bisa diubah.
5. Jangan buru-buru keluar dari proses rekrutmen

ilustrasi interview kerja (pexels.com/Edmond Dantès) Mendengar angka yang lebih rendah dari harapan bukan berarti kamu harus langsung memutuskan untuk berhenti interview. Apalagi kalau kamu belum tahu apakah angka tersebut merupakan tawaran akhir atau baru range yang diberikan di awal. Proses rekrutmen juga masih bisa membawa informasi lain yang sebelumnya belum kamu ketahui.
Kamu masih bisa mengikuti prosesnya sambil melihat bagaimana perusahaan membicarakan posisi tersebut, tanggung jawabnya, sampai tawaran akhirnya. Kalau setelah semuanya jelas ternyata pekerjaan itu tetap gak sesuai dengan yang kamu cari, barulah kamu punya alasan yang lebih kuat untuk menolak. Setidaknya, keputusanmu bukan cuma karena kaget mendengar satu angka di awal.
Pembicaraan soal gaji memang kadang terasa canggung, terutama ketika kamu belum tahu seperti apa reaksi orang di seberang meja. Tapi kalau dibicarakan dengan tenang, membahas soal gaji gak harus terasa seperti momen yang menegangkan. Justru dengan beberapa cara bahas gaji di bawah ekspektasi saat interview, kamu bisa melihat bagaimana perusahaan berkomunikasi dengan calon karyawannya sejak awal.
























