Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Mengatasi Rasa FOMO Melihat Teman Kantor yang Sudah Resign

ilustrasi perempuan merenung
ilustrasi perempuan merenung (pexels.com/Karola G)

Melihat teman kantor satu per satu resign kadang bikin dada terasa sesak. Timeline LinkedIn penuh dengan kabar mereka pindah ke perusahaan baru atau bahkan memulai bisnis sendiri. Sementara kamu masih duduk di kursi yang sama, mengerjakan rutinitas yang itu-itu saja. Rasanya seperti kamu sedang tertinggal di karier.

Perasaan itu wajar, tapi kalau dibiarkan bisa berubah jadi overthinking setiap hari. Kamu mulai membandingkan pencapaian, gaji, sampai validasi sosial yang mereka dapatkan. Padahal, belum tentu semua yang terlihat di media sosial sesuai kenyataan. Sebelum rasa FOMO makin mengganggu motivasi kerja, yuk simak lima cara mengatasinya.

1. Sadari bahwa setiap orang punya timeline berbeda

ilustrasi perempuan merenung
ilustrasi perempuan merenung (freepik.com/pressfoto)

Saat teman resign dan terlihat sukses, kamu mungkin merasa langkahmu terlalu lambat. Pikiran seperti “harusnya aku juga sudah pindah” mulai muncul tanpa diminta. Padahal, perjalanan karier tiap orang tidak pernah benar-benar sama. Ada yang memang siap lebih cepat, ada yang butuh waktu lebih panjang.

Coba ingat lagi tujuan awalmu bekerja di tempat sekarang. Mungkin kamu sedang membangun pengalaman, menabung, atau belajar skill tertentu. Itu bukan tanda kamu kalah. Fokus pada timeline sendiri bisa mengurangi rasa merasa tertinggal di karier yang sering muncul tiba-tiba.

2. Bedakan antara iri dan benar-benar ingin berubah

ilustrasi perempuan membuka media sosial
ilustrasi perempuan membuka media sosial (freepik.com/pressfoto)

Kadang kamu ingin resign bukan karena sudah tidak betah, tapi karena takut ketinggalan tren. Melihat banyak orang pindah kerja membuatmu ikut gelisah. Coba tanya pada diri sendiri, apakah kamu memang butuh perubahan atau hanya terdorong suasana. Pertanyaan ini penting sebelum mengambil keputusan besar.

Contohnya, saat teman mengumumkan kerja di startup terkenal, kamu langsung membuka situs lowongan kerja malam itu juga. Padahal sehari sebelumnya kamu masih merasa baik-baik saja di kantor. Jangan sampai keputusan karier lahir dari panik sesaat. Pastikan langkahmu didasari kebutuhan, bukan sekadar FOMO.

3. Batasi konsumsi media sosial dan update karier orang lain

ilustrasi perempuan bekerja
ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Terlalu sering melihat pencapaian orang lain bisa memperbesar rasa gelisah. Setiap scroll terasa seperti pengingat bahwa kamu belum ke mana-mana. Jika itu mulai mengganggu fokus kerja, coba kurangi intensitasnya. Kamu berhak menjaga kesehatan mental sendiri.

Bukan berarti kamu tidak mendukung teman yang resign. Namun, kamu juga perlu ruang untuk memproses perasaanmu. Istirahat sejenak dari update karier orang lain bisa membantu pikiran lebih jernih. Dari situ, motivasi kerja bisa kembali stabil.

4. Evaluasi posisi kamu secara objektif

ilustrasi perempuan berpikir
ilustrasi perempuan berpikir (freepik.com/freepik)

Daripada sibuk membandingkan, lebih baik evaluasi situasimu sekarang. Apakah kamu masih berkembang di kantor? Apakah ada peluang naik jabatan atau belajar hal baru? Jawaban dari pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti arus resign.

Kalau ternyata kamu memang merasa stagnan, itu sinyal untuk menyusun rencana. Bukan langsung resign tanpa arah, tapi mulai perbaiki CV atau tambah skill. Dengan langkah yang terukur, kamu tidak lagi merasa tertinggal di karier. Kamu sedang bergerak dengan caramu sendiri.

5. Ubah rasa gelisah jadi bahan bakar bertumbuh

ilustrasi perempuan bersemangat
ilustrasi perempuan bersemangat (freepik.com/lifeforstock)

Rasa FOMO sebenarnya bisa menjadi alarm bahwa kamu ingin berkembang. Daripada menekan perasaan itu, coba ubah jadi motivasi kerja. Gunakan energi tersebut untuk belajar hal baru atau memperluas jaringan profesional. Langkah kecil tetap lebih baik daripada diam sambil mengeluh.

Misalnya, kamu mulai ikut webinar setelah jam kerja atau memperbarui portofolio. Tindakan sederhana ini memberi rasa kontrol atas masa depanmu. Kamu tidak lagi hanya menjadi penonton keberhasilan orang lain. Kamu sedang membangun versimu sendiri.

Melihat teman resign memang bisa memicu rasa iri atau merasa tertinggal di karier. Namun, keputusan pindah kerja adalah proses personal yang tidak selalu terlihat utuh dari luar. Kamu tidak harus mengikuti langkah orang lain untuk dianggap sukses. Tetap tenang, evaluasi dengan jujur, dan bergerak saat kamu benar-benar siap.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ananda Zaura
EditorAnanda Zaura
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Checklist Persiapan Ramadan agar Bulan Puasa Lebih Tertata

15 Feb 2026, 12:11 WIBLife