5 Contoh Puisi Ramadan 2026 untuk Lomba Tingkat RT, Penuh Harapan

- Puisi Ramadan menghadirkan semangat dan harapan dalam kebersamaan di tingkat RT.
- Peserta lomba puisi dapat menyampaikan rasa syukur, harapan, dan semangat berbagi melalui bait-bait sederhana.
- Lomba puisi di tingkat RT bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan keberanian dan rasa cinta terhadap bulan suci.
Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda di tengah masyarakat. Tidak hanya tentang ibadah dan menahan diri, Ramadan juga menjadi momen mempererat silaturahmi antarwarga. Di tingkat RT, berbagai kegiatan sederhana namun penuh makna sering digelar. Salah satunya lomba puisi Ramadan yang melibatkan anak-anak hingga orang dewasa.
Lomba puisi Ramadan di lingkungan RT bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga wadah menumbuhkan rasa cinta terhadap bulan suci serta melatih keberanian berbicara di depan umum. Melalui bait-bait sederhana, peserta dapat menyampaikan rasa syukur, harapan, dan semangat berbagi yang menjadi inti Ramadan itu sendiri. Yuk, simak lima contohnya!
1. Ramadan di Kampungku

Ramadan datang mengetuk pintu,
Lampu-lampu kecil mulai menyatu.
Suara azan merdu terdengar,
Mengajak hati untuk bersabar.
Anak-anak berlari riang,
Menunggu beduk ditabuh petang.
Di kampungku penuh cahaya,
Ramadan hadir membawa bahagia.
2. Cahaya di Bulan Suci

Dalam sunyi sahur yang dini,
Terdengar doa dari hati.
Kita bangun melawan kantuk,
Demi pahala yang tak terhitung.
Ramadan bulan penuh ampunan,
Saatnya bersihkan kesalahan.
Semoga hati makin bercahaya,
Menjadi insan penuh takwa.
3. Puasa Mengajarkanku

Puasa bukan sekadar lapar,
Bukan pula hanya dahaga.
Puasa mengajarkanku sabar,
Menjaga lisan dan juga jiwa.
Belajar ikhlas dalam berbagi,
Meski sedikit tetap berarti.
Ramadan membuatku mengerti,
Bahwa syukur itu sederhana sekali.
4. Beduk Menjelang Maghrib

Dentang beduk mulai terdengar,
Anak-anak bersiap berbuka.
Kurma manis tersaji segar,
Air putih pelepas dahaga.
Kita duduk bersama keluarga,
Menyebut nama-Nya dalam doa.
Ramadan hadir setiap tahun,
Membawa damai dan ampunan.
5. Harapan di Ujung Ramadan

Tak terasa hari berlalu,
Ramadan hampir pergi dariku.
Ada haru dalam hati,
Takut amal belum berarti.
Ya Allah, terimalah puasaku,
Ampuni salah dan dosaku.
Semoga setelah Ramadan pergi,
Kebaikan tetap tinggal di hati.
Melalui puisi-puisi sederhana ini, semangat Ramadan dapat dirasakan oleh seluruh warga, dari anak-anak hingga orang tua. Lomba puisi di tingkat RT bukan hanya tentang menang atau kalah, melainkan tentang keberanian, kebersamaan, dan mempererat tali persaudaraan. Semoga kegiatan Ramadan di lingkungan kita semakin semarak dan membawa keberkahan bagi semua.


















