Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Menjaga Batas antara Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan

3 min read
5 Cara Menjaga Batas antara Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan
ilustrasi bekerja di depan laptop (pexels.com/olia danilevich)
  • Menetapkan penanda akhir jam kerja, seperti menutup laptop dan tidak membuka dokumen kantor kecuali mendesak, membantu memisahkan aktivitas profesional dari waktu pribadi.
  • Tidak perlu selalu merespons pesan kerja di luar jam kantor; komunikasi ekspektasi dengan atasan atau rekan kerja penting agar waktu pribadi tetap dihormati.
  • Pisahkan ruang kerja, lakukan aktivitas untuk melepas pikiran, serta komunikasikan kapasitas dan prioritas agar energi tetap terjaga untuk pekerjaan maupun kehidupan pribadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pekerjaan memang menjadi bagian penting dalam kehidupan, tetapi bukan berarti harus memenuhi seluruh waktu dan pikiran. Apalagi ketika pesan kantor, email, atau urusan pekerjaan masih terbawa sampai ke rumah.

Menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bukan berarti tidak bertanggung jawab. Justru, batas yang sehat dapat membantu seseorang memiliki waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri setelah bekerja. Berikut 5 cara menjaga batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan yang bisa kamu lakukan.

  1. 1. Tentukan kapan waktu kerja benar-benar berakhir

    S
    ilustrasi menutup laptop (pexels.com/Cup of Couple)

    Jika jam kerja sudah selesai, biasakan memiliki penanda bahwa aktivitas profesional juga ikut berhenti. Misalnya, setelah menyelesaikan pekerjaan, tutup laptop dan hindari kembali membuka dokumen kantor kecuali memang ada kebutuhan yang mendesak.

    Batas seperti ini membantu memisahkan waktu kerja dari waktu pribadi. Tanpa batas yang jelas, pekerjaan bisa terasa seperti tidak pernah benar-benar selesai.

  2. 2. Jangan merasa harus selalu tersedia

    S
    ilustrasi bekerja sambil teleponan (pexels.com/https://kaboompics.com/)

    Kemudahan berkomunikasi melalui smartphone memang membuat pekerjaan lebih praktis. Namun, hal tersebut juga dapat membuat seseorang merasa harus selalu siap merespons pesan atau email.

    Tidak semua pesan pekerjaan harus langsung dijawab saat itu juga, terutama jika memang tidak mendesak. Jika memungkinkan, sepakati dengan rekan kerja atau atasan mengenai waktu komunikasi di luar jam kerja. Batas yang jelas mengenai ekspektasi komunikasi dapat membantu waktu pribadi tetap dihormati.

  3. 3. Pisahkan perangkat atau ruang untuk bekerja

    S
    ilustrasi bekerja dari rumah (pexels.com/William Fortunato)

    Bagi yang bekerja dari rumah, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bisa menjadi lebih samar karena keduanya berlangsung di tempat yang sama.

    Jika memungkinkan, gunakan ruang atau sudut tertentu khusus untuk bekerja. Setelah jam kerja selesai, tinggalkan area tersebut dan beralih ke aktivitas pribadi. Cara sederhana ini dapat menjadi sinyal bagi pikiran bahwa waktu bekerja sudah selesai.

  4. 4. Beri waktu untuk benar-benar lepas dari pekerjaan

    S
    ilustrasi membaca (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Berhenti bekerja secara fisik belum tentu berarti pikiran juga sudah berhenti memikirkan pekerjaan. Cobalah mengisi waktu setelah bekerja dengan aktivitas yang membuat perhatian beralih, seperti berjalan kaki, berolahraga, membaca, memasak, mengobrol dengan keluarga, atau melakukan hobi.

    Proses melepaskan diri secara mental dari pekerjaan merupakan bagian penting dari pemulihan setelah menghadapi tuntutan kerja. Bahkan, penelitian dan pembahasan psikologi kerja terbaru terus menyoroti pentingnya kemampuan untuk melakukan detachment dari pekerjaan agar seseorang dapat merasa lebih pulih dan segar.

  5. 5. Belajar mengatakan tidak pada hal yang memang bisa ditunda

    S
    ilustrasi dimintai bantuan oleh atasan (pexels.com/Yan Krukau)

    Menjaga batas bukan berarti menolak semua permintaan. Namun, penting untuk mengetahui mana yang benar-benar mendesak dan mana yang masih dapat dikerjakan pada waktu kerja berikutnya. Jika terlalu sering mengatakan “iya” pada setiap permintaan tambahan, waktu pribadi bisa perlahan habis untuk pekerjaan.

    Karena itu, tidak ada salahnya mengomunikasikan kapasitas dan prioritas dengan jelas kepada atasan maupun rekan kerja. Membuat batas memang terkadang terasa tidak nyaman, terutama jika sebelumnya terbiasa selalu membantu. Namun, batas yang sehat bukan berarti tidak peduli terhadap pekerjaan. Justru, batas dapat membantu menjaga energi agar tetap bisa bekerja dengan baik dalam jangka panjang.

    Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bukan berarti harus memiliki pembagian waktu yang sempurna setiap hari. Ada kalanya pekerjaan memang membutuhkan perhatian lebih. Namun, jika pekerjaan terus-menerus mengambil waktu istirahat dan membuat pikiran sulit benar-benar lepas, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali batas yang dimiliki.

    Sebab, bekerja dengan baik bukan hanya tentang seberapa banyak waktu yang diberikan untuk pekerjaan, tetapi juga tentang bagaimana menjaga energi agar tetap bisa menjalani kehidupan di luar pekerjaan.

    Referensi:

    • American Psychological Association — Workers crave autonomy and flexibility. Here are ways to achieve that balance
    • American Psychological Association — Coping with stress at work
    • American Psychological Association — Helping workaholics find
    • Harvard Business Review — Research: Are You Penalizing Your Best Employees for Unplugging?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More