Ilustrasi karyawan gen Z (pexels.com/fauxels)
Dampak dari conscious unbossing sudah terlihat di tempat kerja. Karyawan yang merasa terkekang dalam hierarki tradisional cenderung meninggalkan pekerjaan mereka. Kurangnya otonomi dan tujuan seringkali menyebabkan keterlibatan yang rendah dan produktivitas menurun. Banyak yang memilih keluar dari pekerjaan tradisional sepenuhnya dan beralih ke "gig work" yang menawarkan fleksibilitas lebih besar.
Bagi perusahaan, mengabaikan tren ini justru akan mengakibatkan kehilangan talenta yang signifikan dan melemahkan budaya organisasi. Bahkan, keengganan untuk mengambil peran sebagai manajer tingkat menengah ini bisa menjadi masalah bagi pemberi kerja di masa mendatang. Para pemberi kerja tentu masih berpikir bahwa level manajer tingkat menengah memainkan peran yang krusial.
“Para profesional muda, yang masuk ke dunia kerja dalam kapasitas yang sebagian besar jarak jauh atau hibrida dengan fokus besar pada kemampuan digital, cenderung kurang loyal terhadap perusahaan sepenuhnya,” ujar Bisset.
Maka, merombak budaya dan kebijakan organisasi adalah langkah penting bagi perusahaan. Perusahaan harus mengubah tempat kerja menjadi ruang di mana karyawan dapat berkembang, berinovasi, dan berkomitmen. Dengan kecepatan beradaptasi dengan transformasi, perusahaan juga dapat lebih cepat maju menuju kesuksesan.
Conscious unbossing bukanlah tren yang perlu ditakuti, melainkan peluang untuk berkembang lebih baik. Dengan merangkul konsep ini, lingkungan kerja disarankan tidak hanya menarik talenta terbaik, tetapi juga menciptakan budaya kolaborasi, sehingga dapat meningkatkan kinerja. So, buat kamu para gen Z, apakah tren ini relate dengan kehidupanmu sekarang?