Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Parabol | The Agile Meeting Tool)
Dunia kerja mempertemukan orang dengan gaya komunikasi yang berbeda-beda. Ada atasan yang ingin laporan singkat dan langsung ke inti. Ada yang ingin penjelasan lengkap. Ada rekan kerja yang senang berdiskusi, sementara yang lain lebih nyaman menerima pesan tertulis. Kalau semua orang diperlakukan dengan cara yang sama, komunikasi bisa cepat berantakan.
Bukan berarti seseorang harus berpura-pura menjadi orang lain demi disukai. Yang diperlukan adalah kemampuan menyesuaikan cara berkomunikasi tanpa kehilangan batas diri. Penelitian tentang adaptasi karyawan baru juga menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi berkaitan dengan kejelasan peran, penguasaan tugas, serta penerimaan sosial di lingkungan organisasi.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi-dimensi adaptabilitas individu memprediksi penyesuaian karyawan baru secara berbeda: adaptabilitas belajar memengaruhi kejelasan peran, adaptabilitas terhadap ketidakpastian memengaruhi penguasaan tugas, dan adaptabilitas budaya memengaruhi penerimaan sosial," dikutip dari studi Examining the effect of newcomers' adaptability on proximal and distal outcomes of organizational socialization dalam ScienceDirect.
Jadi, membaca situasi bukan berarti belajar menjadi penjilat atau terlalu berhati-hati terhadap semua orang. Ini lebih mirip seperti kemampuan membaca peta sebelum berjalan. Kita belajar memahami siapa yang perlu diberi informasi lebih dulu, kapan sebuah masalah harus dibicarakan langsung, kapan kritik sebaiknya disampaikan secara pribadi, dan kapan sebuah persoalan memang perlu dinaikkan kepada atasan.
Pada akhirnya, dunia kerja memang tidak bisa dilepaskan dari gaji karena penghasilan adalah bagian penting dari kehidupan profesional. Namun, semakin lama seseorang bekerja, semakin terlihat bahwa ada ‘upah’ lain yang tidak masuk slip gaji: kemampuan membaca manusia, memahami situasi, menghadapi ketidakpastian, belajar dari kesalahan, dan beradaptasi ketika keadaan berubah.