Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Microaggression? Ini Pengertian, Jenis, dan Contohnya

Apa Itu Microaggression? Ini Pengertian, Jenis, dan Contohnya
ilustrasi microaggression (magnific.com/pressfoto)
Intinya Sih
  • Karena sering disampaikan tanpa niat menyakiti, banyak orang tidak sadar bahwa mereka sedang melakukan atau mengalami microaggression.

  • Microaggression merujuk pada ucapan, tindakan, atau perilaku yang tidak secara langsung mengandung prasangka atau stereotip terhadap seseorang atau kelompok tertentu.

  • Microaggression mungkin terlihat sepele, tetapi ucapan atau sikap kecil yang dilakukan berulang bisa memengaruhi kenyamanan dan perasaan orang lain.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Dalam obrolan sehari-hari, kadang ada kalimat yang terdengar ringan, tetapi membuat lawan bicara mendadak tidak enak hati. Contohnya seperti, "Kamu pintar juga, ya," atau "Kamu kelihatan gak seperti orang dari daerah itu." Meski sering diucapkan tanpa maksud buruk, komentar semacam ini bisa memunculkan stereotip yang tanpa sadar menyakiti orang lain.

Fenomena seperti ini dikenal sebagai microaggression, yaitu bentuk perlakuan atau ucapan yang tampak sepele tetapi dapat meninggalkan dampak emosional bagi orang yang menerimanya. Karena sering disampaikan tanpa niat menyakiti, banyak orang tidak sadar bahwa mereka sedang melakukan atau mengalami microaggression. Nah, supaya lebih paham cara mengenalinya, yuk simak pengertian, jenis, dan contoh microaggression yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari!

1. Pengertian microaggression yang sering luput disadari

ilustrasi berbicara dengan teman kerja
ilustrasi berbicara dengan teman kerja (magnific.com/magnific)

Pernahkah kamu mengucapkan sesuatu yang menurutmu biasa, tetapi lawan bicara terlihat canggung? Situasi semacam ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari, baik di sekolah, kampus, tempat kerja, maupun di media sosial. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah karena ucapan tersebut termasuk dalam kategori microaggression, lho.

Secara umum, microaggression merujuk pada ucapan, tindakan, atau perilaku yang tidak secara langsung mengandung prasangka atau stereotip terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Meski sering kali diucapkan tanpa niat jahat, efeknya dapat membuat orang merasa tertekan, diabaikan, atau kurang dihargai. Oleh karena itu, memahami makna microaggression adalah langkah awal yang penting untuk menciptakan komunikasi yang lebih sehat.

2. Microsassult merupakan bentuk microaggresion yang paling mudah dikenali

ilustrasi berinteraksi dengan teman kerja
ilustrasi berinteraksi dengan teman kerja (magnific.com/katemangostar)

Ada kalanya seseorang melontarkan candaan atau komentar yang terdengar kasar dari awal. Misalnya, menggunakan panggilan yang menghina, mengejek identitas seseorang, atau dengan sengaja menyampaikan kata-kata yang diskriminatif. Berbeda dengan tipe lainnya, perilaku ini biasanya lebih mudah dikenali karena sangat jelas bentuknya.

Nah, jenis ini disebut microassault. Meskipun ada beberapa yang mengklaim hanya bercanda, ucapan seperti ini tetap dapat melukai perasaan orang lain dan menciptakan suasana yang tidak nyaman. Karena itu, penting untuk mulai membiasakan diri memilih kata-kata yang lebih menghargai orang lain, bahkan saat bercanda sekalipun.

3. Microinsult merupakan ucapan yang terdengar seperti pujian tetapi mengandung sterotip

ilustrasi mendapatkan apresiasi
ilustrasi mendapatkan apresiasi (magnific.com/katemangostar)

Pernah mendengar komentar seperti, "Kamu pintar juga, ya," atau "Bahasa Inggrismu bagus banget untuk orang Indonesia"? Sekilas kalimat tersebut terdengar seperti pujian sehingga sering tidak dipermasalahkan. Padahal, di baliknya tersimpan anggapan bahwa seseorang seharusnya tidak memiliki kemampuan tersebut.

Jenis microaggression ini dinamakan microinsult, yaitu pernyataan yang secara halus merendahkan atau menilai berdasarkan stereotip. Orang yang mengatakannya sering tidak menyadari bahwa kata-katanya dapat menyakiti lawan bicaranya. Oleh karena itu, mengenali konteks sebelum memberikan pendapat dapat membantu meminimalkan kemungkinan menyampaikan pujian yang justru terkesan meremehkan.

4. Microinvalidation bentuk pengabaian terhadap pengalaman atau perasaan orang lain

ilustrasi mengobrol dengan teman
ilustrasi mengobrol dengan teman (magnific.com/stockking)

Saat seseorang bercerita tentang pengalaman tidak menyenangkan, respons yang diterima ternyata tidak selalu membuatnya merasa didengar. Ada yang justru berkata, "Ah, kamu terlalu sensitif," atau "Jangan bawa perasaan, semua orang juga mengalaminya." Kalimat seperti ini memang terdengar sederhana, tetapi bisa membuat pengalaman seseorang terasa tidak dianggap.

Tindakan ini dikenal sebagai microvalidation, yaitu perilaku yang menolak atau mengesampingkan pengalaman maupun perasaan orang lain. Akibatnya, seseorang mungkin menjadi enggan untuk berbagi lagi karena merasa emosinya tidak dihargai. Terkadang, berusaha mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi justru dapat menjadi bentuk empati yang jauh lebih berarti.

5. Microaggression bisa dikurangi dengan lebih sadar saat berkomunikasi

ilustrasi nongkrong bersama teman
ilustrasi nongkrong bersama teman (freepik.com/freepik)

Tidak sedikit orang baru menyadari pernah melakukan microaggression setelah mendapat penjelasan dari orang lain. Hal tersebut wajar karena banyak contoh microaggression muncul dari kebiasaan yang sudah lama dianggap normal di lingkungan mereka. Meskipun tidak semua ucapan harus sempurna, ada baiknya mulai lebih peka terhadap dampaknya terhadap orang lain.

Nah, sebelum berkomentar, cobalah berhenti sejenak dan pikirkan apakah ucapan tersebut berpotensi membuat orang lain merasa tidak nyaman. Kalau ternyata melakukan kesalahan, tidak ada salahnya meminta maaf dan menjadikannya sebagai bahan belajar. Dengan komunikasi yang lebih bijak dan saling menghargai, percakapan sehari-hari pun bisa terasa lebih nyaman untuk semua orang.

Microaggression mungkin terlihat sepele, tetapi ucapan atau sikap kecil yang dilakukan berulang bisa memengaruhi kenyamanan dan perasaan orang lain. Memahami pengertian, jenis, serta contohnya dapat menjadi langkah awal untuk membangun komunikasi yang lebih peka dan saling menghargai. Yuk, mulai lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata, karena perubahan kecil bisa membuat percakapan terasa jauh lebih nyaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More