Gen Z Memilih Freelance daripada Pekerjaan Kantor, Apakah Benar?

- Gen Z mendefinisikan ulang karier dan kesuksesan, memilih freelance untuk kebebasan dan nilai-nilai pribadi.
- Fleksibilitas waktu dan lokasi kerja menjadi kunci utama bagi Gen Z dalam memilih freelance daripada pekerjaan kantoran.
- Freelance dinilai mampu mengekspresikan kreativitas serta memberikan kesempatan untuk memilih proyek sesuai passion.
Saat ini, gen Z sudah mulai mendominasi dunia dan pasar kerja. Uniknya, gen Z kerap membawa budaya dan perspektif baru di dunia kerja. Misalnya saja, untuk jenis pekerjaan freelance yang kerap dipertimbangkan oleh gen Z. Hal tersebut didapatkan dari hasil riset Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026 oleh IDN Research Institute yang menyebutkan, bahwa 84 persen gen Z mulai condong pada freelance atau side gigs.
Tentunya, ada beberapa pertimbangan serta alasan mengapa posisi freelance banyak 'dilirik' oleh gen Z. Apakah disebabkan fleksibilitas? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini!
1. Gen Z mengalami pergeseran perspektif untuk karier dan kesuksesan

Masih dari Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026, disebutkan bahwa gen Z mulai mendefinisikan kembali terkait kariernya. Adapun dilakukannya dengan mulai mempertimbangkan side gigs dan freelancing sebagai wadah untuk mencari 'kebebasan'. Karena bekerja tak hanya soal 'menghasilkan uang' untuk hodup, namun juga tentang menumbuhkan kehidupan yang lebih berkelanjutan serta selaras dengan nilai-nilai mereka.
Dari hasil risetnya, ditunjukkan bahwa sebanyak 84 persen gen Z (dan milenial) mulai melirik pekerjaan sebagai freelance, baik untuk mengekspresikan kreativitas, menambah penghasilan, maupun eksplor perjalanan karier. Beberapa gen Z juga setuju bahwa freelance adalah creative outlets yang memberikan 'kebebasan' daripada peran-peran yang terkesan konvensional. Sedangkan untuk yang lainnya, freelance juga dipilih untuk memberikan extra income.
2. Fleksibilitas menjadi kunci

Gen Z merupakan generasi yang cukup menghargai kebebasan terkait mengatur jam dan lokasi kerja. Selepas munculnya kebijakan work from home, kini kita mengenal juga istilah-istilah seperti work from cafe (wfc), work from anywhere (wfa), dan sebagainya. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan yang membuat beberapa gen Z cenderung lebih memilih freelance daripada kerja kantoran yang terlalu mengikat.
Tak hanya itu, gen Z juga dikenal sebagai generasi yang 'peduli kesehatan mental'. Sehingga, pekerjaan yang menawarkan fleksibilitas sering dinilai mampu memberikan nilai itu. Jika berbicara freelance, maka yang sering dipertimbangkan memang soal fleksibilitas waktu dan lokasi.
3. Freelance juga sering dinilai lebih mampu mengekspresikan kreativitas

Angka dan data yang menunjukkan pergeseran budaya kerja gen Z mungkin menjadi semacam 'sinyal', bahwa gen Z cenderung menilai traditional corporate jobs lebih menawarkan fleksibilitas yang terbatas dan terkadang tidak memenuhi nilai-nilai yang dipegang secara individu. Tak hanya itu, freelance juga dinilai mampu memberikan kesempatan lebih banyak untuk menyalurkan kreativitas serta memilih proyek yang sesuai dengan passion.
Tentunya, itu adalah hal-hal yang tak didapatkan di pekerjaan kantoran yang strukturnya lebih ketat. Itu dia beberapa alasan mengapa bagi sebagian gen Z, freelance menjadi pekerjaan yang layak dipertimbangkan. Kalau kamu gimana, nih?


















