"Kemungkinan karena culture yang positif, sementara negara lain lebih kompetitif dan tekanan biaya hidup yang lebih besar," ujarnya, dalam acara Perilisan Laporan Eksklusif Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK di Kantor JobStreet by SEEK, Selasa (3/2/2026).
Indonesia Jadi Negara dengan Pekerja Paling Bahagia di Asia Pasifik

- Indonesia paling bahagia di Asia Pasifik, 82% pekerja merasa bahagia di tempat kerja
- Bukan gaji yang paling membahagiakan, tapi hidup yang seimbang dan tujuan kerja
- Happiness gap, tidak semua generasi merasakan hal yang sama; gen Z merasa kurang dihargai
Jakarta, IDN Times - Di tengah berita soal resign massal, quiet quitting, dan burnout yang berseliweran di linimasa, Indonesia justru muncul sebagai anomali yang mengejutkan. Dalam laporan terbaru Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK, Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan kerja tertinggi di Asia Pasifik, sebuah kabar yang terdengar seperti matahari muncul di tengah musim hujan.
Namun kebahagiaan seperti emosi lain, jarang hadir dalam satu warna. Ia sering berlapis, hangat di permukaan, tapi menyimpan kelelahan di bawahnya. Nah, laporan ini bukan hanya deretan angka, melainkan cermin besar yang memantulkan bagaimana pekerja Indonesia memaknai kerja, hidup, dan masa depan mereka.
1. Indonesia paling bahagia di Asia Pasifik, sebuah paradoks yang menarik

Sebanyak 82 persen pekerja Indonesia menyatakan diri mereka cukup atau sangat bahagia di tempat kerja. Angka ini jauh melampaui Hong Kong (47 persen), Singapura (56 persen), hingga Australia (57 persen). Dalam lanskap global yang kompetitif, Indonesia tampil sebagai ruang kerja yang setidaknya secara emosional lebih ramah.
Tak hanya bahagia, 86 persen pekerja merasa dihargai dan 75 persen merasa pekerjaannya memberi kepuasan batin. Kebahagiaan ini tidak semata lahir dari pencapaian materi, tetapi dari rasa diakui dan dimiliki, dua hal yang sering luput dalam diskusi dunia kerja modern.
Data ini tercipta berkat riset yang dilakukan oleh Jobstreet by SEEK dengan melibatkan 1000 individu berusia 18-63 tahun dalam rentan waktu Q4 2025 (Oktober - November). Menurut Wisnu Dharmawan selaku Acting Managing Director, Jobstreet by SEEK, hal ini terjadi karena Indonesia memiliki budaya kerja yang cenderung positif dibanding negara lain.
Ketika ditanya soal budaya dan perbandingan sikap kompetitif Indonesia dengan negara lain, Wisnu menuturkan bahwa ada yang namanya long country dan short country dalam kategorisasi dunia kerja. Long country berarti negara tersebut memiliki kandidat yang lebih banyak dibanding lapangan pekerjaan itu sendiri. Sebaliknya, short country merupakan negara dengan jumlah kandidat yang lebih sedikit dibanding lapangan pekerjaan.
Artinya, beberapa negara memiliki niche job sehingga memiliki tingkat hiring yang lebih ketat. Ketika karyawan merasa lebih sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan dirinya, itu menjadi pengaruh salah satu cluster factor happiness.
2. Bukan gaji yang paling membahagiakan, tapi hidup yang seimbang

Meski 54 persen pekerja masih menginginkan gaji lebih tinggi, laporan ini menunjukkan bahwa work-life balance dan tujuan kerja (purpose) justru menjadi pendorong utama kebahagiaan. Rekan kerja yang suportif (77 persen), lokasi kerja (76 persen), dan perasaan bahwa pekerjaan bermakna (75 persen) menjadi faktor emosional yang lebih menentukan. Temuan ini menandai pergeseran besar, bahwa kerja tidak lagi semata soal bertahan hidup, tetapi tentang bagaimana hidup bisa tetap utuh di luar jam kantor.
“Kebahagiaan jangka panjang lebih mungkin tercapai ketika karyawan merasa pekerjaan mereka memiliki makna,” ucap Wisnu.
Meski demikian, hal ini tidak berlaku bagi semua generasi di tempat kerja. Karena faktanya, pada kesimpulan akhir, JobStreet by SEEK tetap menyatakan bila pendapatan yang semakin besar, maka semakin besar pula tingkat kebahagiaan dari orang tersebut.
"Ketika gaji makin besar, mimpi yang diimpikan semakin dekat sehingga faktor bahagia juga lebih besar. Indonesia sendiri, makin banyak penghasilan makin happy," jelas Wisnu, kembali menegaskan usai ada yang mempertanyakan soal tingkat stres di kala gaji besar, dengan antusias.
Pernyataan ini tentu cukup membingungkan. Namun, Ia juga menambahkan bila riset yang dilakukan dalam laporan tersebut hanya terdapat pekerjaan dengan gaji yang tidak terlalu besar. Dengan demikian, data yang disajikan terbilang cukup ambigu karena secara logika, semakin besar gaji yang dimiliki maka semakin besar pula tekanan yang diterima.
Identifikasi nilai kebahagiaan berdasarkan gaji seolah menjadi standar, bahwa uang bisa memberi rasa bahagia. Akan tetapi, di balik itu harus diketahui pula, bila faktor kebahagiaan tiap orang berbeda dan mungkin saja individu yang menjadi responden dalam riset ini lebih condong dalam penafsiran tersebut.
3. Happiness gap, tidak semua generasi merasakan hal yang sama

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, setiap orang memiliki standar atau faktor kebahagiaan yang berbeda. Di balik angka nasional yang tinggi, terdapat kesenjangan kebahagiaan yang nyata. Gen X (85 persen) dan milenial (84 persen) tercatat sebagai kelompok paling bahagia didukung relasi tim yang solid dan ritme kerja yang sudah mereka kuasai.
Sebaliknya, gen Z melaporkan tingkat kebahagiaan terendah di angka 76 persen. Banyak dari mereka merasa kurang dihargai dan kesulitan melihat makna besar dari tugas harian. Ini menjadi sinyal penting bahwa talenta muda tidak hanya butuh pekerjaan, tetapi narasi tentang mengapa pekerjaan mereka penting.
4. Lokasi ikut menentukan perasaan bahagia

Jika kebahagiaan adalah peta, maka sektor teknologi menjadi wilayah paling terang dengan tingkat kebahagiaan mencapai 93 persen. Rasa bangga pada tempat kerja dan kejelasan tujuan menjadi bahan bakarnya.
Secara geografis, Jabodetabek menempati posisi teratas (87 persen), berbanding terbalik dengan Wilayah Barat Indonesia (75 persen). Akses fasilitas, peluang pendapatan, dan fleksibilitas kerja membentuk pengalaman emosional yang berbeda, menunjukkan bahwa kebahagiaan kerja juga soal ekosistem, bukan hanya individu.
5. Bahagia, tapi burnout

Di balik senyum statistik, ada angka yang menggugah. 43 persen pekerja merasa burnout dan 40 persen dari mereka yang mengaku bahagia sekaligus kelelahan secara mental. Ditambah lagi, 42 persen pekerja merasa kehadiran AI mengancam keamanan pekerjaan mereka, khususnya di sektor teknologi.
"Banyak karyawan yang tidak bahagia dengan tingkat stres-nya, tapi karyawan yang bahagia akan rasa stres-nya justru termotivasi untuk go above and beyond," kata Wisnu.
Kebahagiaan dan kelelahan ternyata bisa hidup berdampingan. Seperti rumah yang tampak rapi dari luar, tapi menyimpan retakan di dalam.
“AI juga menjadi perhatian karyawan. Bisa jadi 5 faktor pendorong tadi, salah satunya yang paling utama adalah Job Security. Ini bisa jadi risiko pekerjaan hilang, berkurang, dan khawatir hal lainnya, terutama eksistensi pekerjaan untuk yang ada di bidang teknologi. Angka burnout dan kekhawatiran terhadap AI pun merupakan alarm bagi perusahaan untuk bertindak proaktif," pungkasnya.
Laporan Workplace Happiness Index yang dikeluarkan oleh JobStreen by SEEK menunjukkan, bahwa pekerja Indonesia tidak kekurangan optimisme. Namun, optimisme saja tidak cukup. Kebahagiaan yang berkelanjutan menuntut keberanian perusahaan untuk mendengar lebih dalam, berkomunikasi lebih jujur, dan memanusiakan target bisnis.



















