Beberapa tahun kemudian, pekerjaan yang dulu terasa seperti kebebasan justru bisa berubah menjadi sesuatu yang sulit ditinggalkan. Kalau kamu pernah atau sedang merasa begitu, coba scrollng terus sampai akhir.
Kenapa Menjadi Karyawan Kadang Terasa Seperti Tidak Punya Pilihan?

Gaji tetap menopang kebutuhan hidup, dari tempat tinggal hingga keluarga, sehingga resign berarti mempertaruhkan sumber dana saat kebutuhan dan ketidakpastian mencari kerja baru tetap berjalan.
Kenaikan gaji, jabatan, dan pengeluaran yang ikut naik dapat mempersempit pilihan pindah kerja, karena posisi setara lebih terbatas dan perubahan karier berpotensi menurunkan penghasilan.
Rutinitas kerja menguras waktu serta energi hingga akhir pekan menjadi masa pemulihan; pekerjaan yang cukup stabil tetapi monoton juga sulit ditinggalkan tanpa alasan besar.
Waktu masih kuliah, punya pekerjaan tetap sering terasa seperti pencapaian besar. Ada rasa lega ketika akhirnya punya penghasilan sendiri dan bisa membeli sesuatu tanpa harus meminta uang dari orangtua.
1. Gaji bukan cuma pemasukan, tapi alat untuk mempertahankan hidup

ilustrasi gaji (unsplash.com/Defrino Maasy) Begitu punya gaji tetap, banyak keputusan hidup mulai bergantung pada nominal yang masuk setiap bulan. Tempat tinggal, cicilan, tagihan, kebutuhan keluarga, biaya transportasi, sampai makan sehari-hari semuanya harus tetap terpenuhi meski merasa pekerjaan yang sekarang tak lagi menyenangkan. Resign akhirnya bukan sekadar meninggalkan meja kerja, tetapi mempertaruhkan sumber uang yang selama ini menopang banyak hal sekaligus.
Masalahnya, kebutuhan tidak ikut berhenti ketika seseorang kehilangan pekerjaan. Tabungan mungkin cukup untuk beberapa bulan, tetapi belum tentu cukup kalau proses mencari kerja baru ternyata berlangsung lebih lama dari perkiraan. Di titik ini, kalimat “tinggal resign kalau gak betah” terdengar seperti nasihat dari orang yang tidak perlu memikirkan apa yang terjadi setelahnya.
2. Kenaikan gaji kadang justru membuat seseorang makin susah pergi

ilustrasi gaji (pexels.com/Ahsanjaya) Ada fase ketika kenaikan gaji terasa seperti hadiah setelah bertahun-tahun bekerja keras. Penghasilan bertambah, tempat tinggal dibuat lebih nyaman, cicilan mulai diambil, orangtua bisa dibantu lebih banyak, atau sesekali seseorang merasa pantas membeli barang yang dulu cuma bisa dilihat. Tanpa terasa, pengeluaran ikut tumbuh mengikuti penghasilan sampai angka yang dulu terasa besar berubah menjadi kebutuhan minimum.
Di sinilah kenaikan gaji punya sisi yang jarang dibicarakan. Semakin banyak kebutuhan yang dibangun dari penghasilan tersebut, semakin mahal harga yang harus dibayar kalau ingin keluar dari pekerjaan. Orang mungkin sudah tidak menyukai pekerjaannya, tetapi sulit mengatakan "aku mau keluar aja” ketika pergi berarti harus menghitung ulang hampir seluruh hidup.
3. Libur dua hari kadang cuma dipakai untuk kembali jadi manusia

ilustrasi menikmati hari libur (pexels.com/Andres Ayrton) Senin sampai Jumat bisa habis untuk bekerja, perjalanan ke kantor, lembur, dan urusan yang belum selesai setelah jam kerja. Begitu Sabtu datang, sebagian orang cuma ingin tidur lebih lama, mencuci pakaian, membereskan kamar, belanja kebutuhan, atau diam di rumah tanpa melakukan apa-apa. Minggu belum selesai dinikmati, tetapi pikiran sudah mulai menghitung berapa jam lagi sebelum harus kembali bekerja.
Kondisi seperti ini membuat waktu luang terasa aneh karena tidak benar-benar digunakan untuk menikmati hidup. Akhir pekan lebih mirip masa pemulihan sebelum masuk ke minggu berikutnya daripada waktu yang bebas dipakai sesuka hati. Orang bukan cuma menjual beberapa jam dalam sehari kepada perusahaan, tetapi kadang ikut menyerahkan waktu sebelum dan sesudah jam kantor karena tenaga sudah habis lebih dulu.
4. Punya jabatan bagus tidak otomatis berarti punya jalan keluar

ilustrasi promosi jabatan (pexels.com/RDNE Stock project) Ada karyawan yang dari luar terlihat sudah enak karena punya jabatan, pengalaman, dan gaji yang jauh lebih baik dibanding ketika baru masuk kerja. Masalahnya, posisi seperti itu tidak selalu mudah bila dibawa ke perusahaan lain karena lowongan dengan level dan kompensasi setara jumlahnya lebih sedikit daripada posisi pemula. Kalau pindah bidang, pengalaman bertahun-tahun juga belum tentu dihargai dengan angka yang sama.
Pilihan akhirnya bisa terasa sama-sama tidak menyenangkan. Turun jabatan berarti mungkin harus menerima penghasilan lebih kecil, pindah bidang berarti harus membuktikan diri lagi, sedangkan bertahan berarti kembali menghadapi pekerjaan yang sejak lama ingin ditinggalkan. Bahkan setelah berhasil mencapai posisi yang dulu diimpikan, seseorang bisa menemukan bahwa semakin tinggi ia naik, semakin mahal pula harga untuk mencari jalan lain.
5. Ada pekerjaan yang gak cukup buruk untuk membuat kita pergi

ilustrasi pekerjaan (unsplash.com/RUT MIIT) Kalau kantor benar-benar kacau, alasan untuk resign akan lebih jelas. Atasan yang sangat menyebalkan, gaji bermasalah, jam kerja tidak manusiawi, atau lingkungan kerjanya memang sudah tidak bisa ditoleransi. Namun, ada juga pekerjaan yang tidak seperti itu; gajinya cukup, teman kantor masih bisa diajak ngobrol, atasan tidak terlalu buruk, dan setiap bulan uang tetap masuk ke rekening.
Justru pekerjaan seperti ini bisa menjadi jebakan. Tidak ada kejadian atau masalah besar yang membuat seseorang berani mengambil keputusan resign, hanya saja mereka merasa bahwa setiap hari seperti mengulang hal yang sama sampai tahun berganti. Lama-lama muncul pikiran bahwa hidup sedang habis sedikit demi sedikit, tetapi pekerjaan tersebut tidak pernah memberi alasan yang cukup kuat untuk ditinggalkan.
Menjadi karyawan memang bisa memberi rasa aman yang dibutuhkan untuk menjalani hidup, tetapi hal itu kadang datang bersama harga yang tidak langsung kita bayar. Ada orang yang bukannya tidak punya keinginan untuk resign, melainkan sudah terlalu banyak hal yang harus tetap ia pikirkan kalau ia benar-benar keluar. Mungkin bagian paling pahit dari bekerja bukan ketika kita membenci pekerjaannya, melainkan ketika kita sudah tidak menginginkannya tetapi masih harus berharap Senin datang membawa gaji berikutnya.






















