Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Jobdesk Occupational Health Officer, Garda Terdepan K3
ilustrasi seorang Health Occupational Officer (pexels.com/Kampus Production)
  • Occupational Health Officer (OHO) berperan penting menjaga kesehatan dan keselamatan kerja karyawan melalui kolaborasi dengan HR, HSE, serta manajemen untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan berkelanjutan.
  • Tugas utama OHO meliputi pemeriksaan kesehatan rutin, identifikasi risiko kerja, penanganan penyakit akibat kerja, edukasi gaya hidup sehat, hingga memastikan kepatuhan terhadap regulasi K3 perusahaan.
  • Peran strategis OHO membantu perusahaan mempertahankan produktivitas, mencegah kecelakaan kerja, serta mendukung kesejahteraan karyawan agar bisnis dapat tumbuh secara sehat dan bertanggung jawab.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah tuntutan produktivitas dan target perusahaan yang semakin tinggi, kesehatan karyawan menjadi faktor krusial yang tidak boleh diabaikan. Di sinilah peran Occupational Health Officer (OHO) menjadi sangat penting. Mereka adalah profesional yang bertugas memastikan kondisi kesehatan tenaga kerja tetap optimal dan lingkungan kerja aman dari risiko penyakit akibat kerja.

Berbeda dengan tenaga medis umum, Occupational Health Officer fokus pada aspek kesehatan yang berkaitan langsung dengan aktivitas kerja. Mereka bekerja sama dengan tim HR, HSE (Health, Safety, Environment), serta manajemen perusahaan untuk menciptakan sistem kerja yang sehat, aman, dan berkelanjutan. Berikut lima jobdesk utama Occupational Health Officer yang menjadikannya garda terdepan kesehatan di tempat kerja.

1. Melakukan pemeriksaan kesehatan karyawan (Medical Check-Up)

ilustrasi pemeriksaan kesehatan karyawan (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Salah satu tugas utama Occupational Health Officer adalah menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan, baik sebelum bekerja (pre-employment medical check-up) maupun pemeriksaan berkala. Tujuannya untuk memastikan kondisi fisik dan mental karyawan sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang akan atau sedang dijalani.

Pemeriksaan ini juga membantu mendeteksi dini penyakit akibat kerja, seperti gangguan pernapasan di industri tambang, gangguan pendengaran di pabrik dengan tingkat kebisingan tinggi, atau gangguan muskuloskeletal akibat pekerjaan repetitif. Dengan deteksi dini, perusahaan dapat mencegah risiko yang lebih besar di kemudian hari.

2. Mengidentifikasi dan mengendalikan risiko kesehatan kerja

ilustrasi mengendalikan risiko kesehatan (pexels.com/ Matilda Wormwood)

Occupational Health Officer berperan aktif dalam mengidentifikasi potensi bahaya kesehatan di lingkungan kerja. Risiko tersebut bisa berupa paparan bahan kimia, debu, kebisingan, radiasi, hingga faktor ergonomi yang kurang sesuai.

Setelah risiko teridentifikasi, mereka bekerja sama dengan tim K3 untuk menyusun langkah pengendalian, seperti penggunaan alat pelindung diri (APD), perbaikan ventilasi, rotasi kerja, atau perubahan prosedur operasional. Pendekatan ini bersifat preventif, karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

3. Menangani kasus penyakit akibat kerja dan rehabilitasi

ilustrasi menangani kasus kesehatan karyawan (pexels.com/RDNE Stock project)

Ketika terjadi kasus penyakit akibat kerja atau gangguan kesehatan terkait aktivitas pekerjaan, Occupational Health Officer bertanggung jawab melakukan penanganan awal dan rujukan jika diperlukan. Mereka juga melakukan investigasi untuk memastikan penyebabnya dan mencegah kasus serupa terulang.

Selain itu, mereka terlibat dalam proses rehabilitasi dan return to work program. Artinya, karyawan yang sempat sakit atau cedera dibantu agar bisa kembali bekerja secara aman dan sesuai kapasitasnya. Hal ini penting untuk menjaga kesejahteraan karyawan sekaligus keberlangsungan operasional perusahaan.

4. Memberikan edukasi dan promosi kesehatan

ilustrasi bentuk promosi kesehatan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Occupational Health Officer juga memiliki peran edukatif. Mereka menyelenggarakan penyuluhan tentang gaya hidup sehat, manajemen stres, ergonomi kerja yang benar, hingga pencegahan penyakit menular di tempat kerja.

Program promosi kesehatan seperti kampanye berhenti merokok, senam rutin, atau edukasi nutrisi seimbang bukan hanya meningkatkan kualitas hidup karyawan, tetapi juga berdampak pada peningkatan produktivitas. Karyawan yang sehat secara fisik dan mental cenderung lebih fokus, loyal, dan minim absensi.

5. Menyusun laporan dan kepatuhan terhadap regulasi

ilustrasi menyusun laporan kesehatan (pexels.com/cottonbro studio)

Tugas penting lainnya adalah memastikan perusahaan mematuhi regulasi kesehatan kerja yang berlaku. Occupational Health Officer menyusun laporan kesehatan karyawan, data penyakit akibat kerja, serta rekomendasi perbaikan sistem.

Laporan ini menjadi dasar evaluasi manajemen dan juga bukti kepatuhan terhadap peraturan pemerintah terkait keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Dengan dokumentasi yang baik, perusahaan tidak hanya melindungi karyawan, tetapi juga meminimalkan risiko hukum dan kerugian finansial akibat pelanggaran regulasi.

Occupational Health Officer bukan sekadar tenaga medis di perusahaan. Mereka adalah penghubung antara kesehatan karyawan dan keberlanjutan bisnis. Tanpa sistem kesehatan kerja yang baik, produktivitas bisa menurun, risiko kecelakaan meningkat, dan biaya perusahaan membengkak.

Di era kerja modern yang penuh tantangan, peran Occupational Health Officer semakin strategis. Mereka bukan hanya menjaga kesehatan individu, tetapi juga memastikan perusahaan tumbuh secara sehat dan bertanggung jawab.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Topics

Editorial Team